གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Muhammad Fawwaz

TA C2025 -> CASE STUDY

Muhammad Fawwaz གིས-
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

Tantangan Otomatisasi dan Blockchain bagi Teori Akuntansi

Teori akuntansi yang berlaku saat ini mengalami kendala terkait kapasitas blockchain dalam menangani data bervolume besar yang memperlambat proses, juga karena ketidakpastian aturan yang masih dalam pengembangan untuk sistem terdesentralisasi. Inovasi otomatisasi AI serta blockchain mengubah cara manual dalam mencatat transaksi menjadi validasi instan lewat smart contracts, yang bisa mengurangi kesalahan manusia, namun menuntut perubahan pada asumsi akuntansi yang ada.

Peluang dan Bahaya Manipulasi di Era Digital

Digitalisasi menawarkan kesempatan untuk meningkatkan efisiensi melalui otomatisasi pencatatan dan pemanfaatan deteksi kecurangan berbasis AI, juga transparansi dari buku besar blockchain yang tak bisa diubah. Meski begitu, ada risiko manipulasi algoritma yang bisa menunda pengakuan beban atau pemalsuan data lewat serangan siber, terutama pada perkiraan rumit, seperti nilai tukar di industri fintech global.

Risiko Etika Akuntan dengan Estimasi AI

Akuntan menghadapi risiko yang berasal dari bias algoritmik yang timbul dari data historis yang tak netral, yang dapat mengganggu objektivitas penilaian profesional, serta minimnya transparansi terkait "kotak hitam" AI yang sulit dipahami. Perlindungan terhadap data sensitif juga menjadi masalah tanpa adanya pengamanan yang memadai, yang mengharuskan akuntan untuk tetap bertanggung jawab atas hasil dari pemakaian AI.

Sikap Profesional terhadap Tekanan Manipulasi

Akuntan profesional wajib menolak segala bentuk tekanan dengan berpegang pada kode etik yang mengutamakan independensi, melaporkan dugaan manipulasi pada pihak berwenang seperti OJK, dan mewujudkan budaya transparan di dalam organisasi. Komitmen etis biasanya lebih kuat pada perusahaan yang berfokus pada kepatuhan, agar terhindar dari sanksi yang bisa berujung pada pencabutan izin audit.

Rekomendasi Audit dan Pengawasan Teknologi Tinggi

Perusahaan dan akuntan publik disarankan menerapkan audit berkelanjutan berbasis AI dan blockchain untuk validasi instan, melatih auditor dalam analisis data besar, serta bekerja sama dengan regulator untuk menetapkan standar baru. Penggunaan machine learning untuk deteksi anomali dan smart contracts dapat menekan biaya sekaligus meningkatkan akurasi.

Adaptasi Standar Pelaporan Keuangan yang Ada

Standar seperti IFRS cukup fleksibel dengan pendekatan berbasis prinsip dan alat digital XBRL untuk pelaporan instan lintas batas, mendukung proses globalisasi dalam fintech. Meski demikian, kompleksitas yang ditimbulkan oleh AI dan blockchain menuntut pengembangan lebih lanjut pada regulasi mengenai privasi dan penipuan digital agar bisa diakomodasi secara menyeluruh.

TA C2025 -> CASE STUDY

Muhammad Fawwaz གིས-
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

1.PT Karya Sentosa menunjukkan indikasi manajemen laba menggunakan akrual, terbukti dari peningkatan piutang usaha yang signifikan, penurunan penyisihan piutang ragu-ragu, dan pertumbuhan pendapatan yang tidak proporsional dengan kas dari operasi. Hal ini menunjukkan kemungkinan manajemen laba dengan aturan akrual, seperti pemotongan penyisihan piutang ragu-ragu untuk secara tidak langsung meningkatkan laba bersih. Manajemen laba berbasis akrual seringkali menggunakan komponen akrual yang dapat disesuaikan untuk mencapai target laba tertentu tanpa perubahan arus kas yang signifikan.

2.Dari dua penelitian akademis terkini yang relevan, yang pertama adalah studi di Indonesia yang mengkaji elemen-elemen yang memengaruhi teknik manajemen laba berbasis akrual menggunakan metode pengukuran akrual diskresioner dan regresi dalam konteks perusahaan yang baru saja melakukan IPO. Sebagai penentu penting praktik tersebut, studi ini menyoroti elemen-elemen internal, termasuk usia dan profitabilitas perusahaan. Kedua, dengan menggunakan data panel dan metode kuantitatif yang lebih canggih, sebuah studi global membandingkan manajemen akuntansi berbasis akrual dengan manajemen aktual dan menyelidiki varians dalam insentif dan konsekuensi bagi investor serta pemantauan perusahaan. Perbedaan utamanya terletak pada penekanan dan metode; sementara studi di seluruh dunia membandingkan dua jenis manajemen laba menggunakan teknik empiris yang lebih luas, penelitian lokal lebih berfokus pada penentuan elemen.

3.Praktik manajemen laba tidak selalu memiliki konotasi buruk. Secara teoritis, penghapusan pendapatan membantu perusahaan menyajikan laporan keuangan yang lebih stabil dan berwawasan dengan menurunkan volatilitas laba dan membantu proses pengambilan keputusan investor. Data empiris juga menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat membantu perencanaan perpajakan yang efisien atau untuk memenuhi ekspektasi pasar. Namun, jika dipraktikkan secara berlebihan dan dengan tujuan curang, hal ini dapat merusak kualitas laporan keuangan dan mengurangi kepercayaan pemangku kepentingan, sehingga berdampak negatif pada transparansi dan tanggung jawab perusahaan.

4.Intinya, adanya bukti manajemen laba di PT Karya Sentosa perlu mendapat perhatian serius. Bagi para pemangku kepentingan, saran meliputi audit yang lebih mendalam atas rekening simpanan dan cadangan kerugian; pengawasan yang lebih kuat oleh dewan komisaris dan auditor independen; dan promosi transparansi dalam laporan keuangan. Pemangku kepentingan disarankan untuk memberikan perhatian lebih pada arus kas operasional sebagai indikator utama kesehatan keuangan bisnis daripada hanya mengandalkan laba akuntansi dan mendorong bisnis untuk menghargai kualitas laba jangka panjang di atas mencari keuntungan cepat melalui manipulasi akrual.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Muhammad Fawwaz གིས-
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas = 2024 c

Manajemen laba adalah upaya yang disengaja oleh manajemen perusahaan untuk menyajikan laporan keuangan guna memenuhi tujuan laba tertentu tanpa melanggar norma akuntansi yang berlaku. Meskipun sering kali mengakibatkan kebingungan informasi bagi pengguna laporan, tindakan ini bertujuan untuk mengelola laba sesuai dengan harapan pemangku kepentingan. Ada dua perspektif utama tentang Manajemen Laba dalam literatur: sudut pandang oportunistik dan sudut pandang sinyal. Sebuah perspektif oportunistik melihat Manajemen Laba digunakan oleh manajemen untuk keuntungan pribadi seperti bonus atau pelunasan kontrak hutang; Sedangkan dari sudut pandang sinyal, Manajemen Laba berfungsi sebagai sarana transmisi informasi internal perusahaan yang membantu investor mengantisipasi kinerja masa depan.

Di dalam video, konsep Manajemen Laba diilustrasikan dengan contoh bagaimana suatu perusahaan bisa mengatur waktu transaksi aset (contohnya, melakukan penjualan tanah saat terdapat keuntungan yang belum direalisasikan) untuk meningkatkan laba dalam periode tertentu. Karena menggunakan kebijakan yang diizinkan untuk "mengontrol" angka laba agar terlihat lebih baik atau konsisten, contoh ini mencerminkan pengelolaan laba yang tulus dan bukan penipuan. Selain itu, ada kebiasaan untuk menurunkan laba—yaitu manajemen laba di bawah—sehingga menyimpan "cadangan laba" untuk digunakan pada masa-masa sulit. Teknik-teknik dalam Manajemen Laba bisa berupa manipulasi laba akrual (manajemen laba akrual) ataupun operasional nyata (manajemen laba nyata).

Pendapat: Manajemen laba merupakan permasalahan rumit yang tidak selalu berdampak buruk. Secara pragmatis, hal ini memberikan kebebasan kepada manajemen untuk memodifikasi laporan keuangan dengan benar agar dapat mewakili keadaan perusahaan secara lebih konsisten dan dapat diprediksi. Namun, jika dilakukan secara oportunistik dan berlebihan, perilaku ini dapat merusak kepercayaan pemangku kepentingan dan mengacaukan pengambilan keputusan. Maka, untuk menjaga Manajemen Laba tetap dalam batas yang tidak berputar, ada kebutuhan akan pengawasan dan peraturan yang tepat. Singkatnya, Manajemen Laba adalah pedang dua sisi yang—tergantung niat dan batasan penggunaannya—bisa menghasilkan keuntungan atau kerugian.
Untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang Manajemen Laba, ringkasan ini mengintegrasikan sudut pandang akademis dari jurnal dengan penjelasan praktis dari video YouTube.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Muhammad Fawwaz གིས-
Nama = Muhammad Khalil Fawwaz
NPM = 2413031085

Esai pertama mengkaji seberapa luas penerapan Extensible Business Reporting Language (XBRL) di perusahaan-perusahaan publik Indonesia dan bagaimana pengaruhnya terhadap harga ekuitas. Sebelum dan sesudah XBRL diimplementasikan (2014–2017), 59 perusahaan diteliti dalam studi ini. Ditemukan bahwa penggunaan XBRL secara signifikan mengurangi biaya ekuitas, terutama di perusahaan-perusahaan besar. Meningkatnya transparansi laporan keuangan, berkurangnya kesalahan manusia, dan berkurangnya biaya pemrosesan informasi bagi investor turut membenarkan penurunan biaya ekuitas ini. Studi ini juga mengidentifikasi faktor-faktor lain yang memengaruhi biaya ekuitas, termasuk leverage, ukuran perusahaan, dan rasio pasar terhadap nilai buku. Bertentangan dengan perkiraan awal bahwa XBRL akan meningkatkan biaya ekuitas karena keterlambatan adopsi dan kemungkinan kesalahan, studi ini justru mengungkapkan hal sebaliknya. Terakhir, XBRL membantu meningkatkan akurasi laporan keuangan dan mengurangi risiko investasi di pasar saham Indonesia.

Artikel kedua mengkaji bagaimana meluasnya penggunaan XBRL memengaruhi transparansi keuangan di antara perusahaan-perusahaan industri keuangan di Yordania, sebuah negara berkembang dengan kondisi pasar yang berbeda. Sebuah jajak pendapat terhadap 124 responden keuangan profesional memverifikasi hipotesis bahwa penerapan XBRL meningkatkan keterbukaan informasi keuangan, sehingga memengaruhi keandalan, relevansi, dan kemudahan akses data laporan keuangan digital. Artikel ini menekankan betapa pentingnya XBRL dalam lingkungan digital untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik, proses bisnis yang efektif, dan pelaporan keuangan yang akurat, serta untuk membantu mendukung keputusan yang lebih baik. Meskipun Yordania masih dalam proses penerapan XBRL, hasilnya menunjukkan bahwa XBRL memiliki banyak potensi untuk meningkatkan keterbukaan dan kualitas laporan keuangan di negara-negara berkembang.

Kedua makalah menunjukkan pandangan menyeluruh bahwa XBRL, sebuah teknologi pelaporan keuangan digital, memiliki dampak besar dalam menurunkan biaya modal dan risiko investasi serta meningkatkan transparansi dan kualitas laporan keuangan. Studi di dua negara dengan kondisi pasar yang berbeda (Indonesia dan Yordania) secara konsisten mengungkapkan bahwa XBRL meningkatkan keterbukaan informasi dan efisiensi—dua kualitas yang cukup penting dalam sistem keuangan modern. Hal ini membantu menunjukkan bahwa, terutama di negara-negara berkembang, adopsi teknologi digital dalam industri pelaporan keuangan merupakan langkah strategis yang krusial untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memacu pertumbuhan pasar modal. Namun, untuk memaksimalkan potensi penuh XBRL, lebih banyak waktu, dukungan regulasi, dan peningkatan kapasitas pengguna masih diperlukan.

TA C2025 -> CASE STUDY

Muhammad Fawwaz གིས-
Nama = Muhammad Khalil Fawwaz
NPM = 2413031085

1.PT Sumber Hijau menghadapi masalah mendasar dalam menyelaraskan pertumbuhan bisnis kelapa sawitnya dengan konsep keberlanjutan dan pelaporan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Tekanan dari kelompok lingkungan dan masyarakat adat yang prihatin terhadap degradasi hutan hujan tropis dan dampak negatifnya terhadap sumber daya lokal merupakan faktor utama yang mendorong hal ini. Permasalahan utama adalah konflik antara keberlanjutan lingkungan dan tujuan ekonomi, karena pembangunan yang dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong perekonomian harus sejalan dengan pelestarian ekosistem dan hak-hak masyarakat lokal. Selain itu, tekanan dari investor global yang menginginkan transparansi dan pernyataan komitmen terhadap prinsip-prinsip ESG memotivasi perusahaan untuk meningkatkan kualitas pelaporan keberlanjutan, meskipun Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku saat ini belum cukup mendukung pelaporan terkait isu-isu ESG. Perusahaan harus menyeimbangkan antara memenuhi kebutuhan ekonomi, masyarakat, dan lingkungan, serta mengelola risiko publisitas negatif dan regulasi yang dapat muncul akibat pertumbuhan.

2.Mengenai pelaporan keberlanjutan, teori akuntansi positif dapat membantu seseorang untuk menafsirkan respons PT Sumber Hijau terhadap tekanan eksternal dari masyarakat dan investor. Teori ini menyatakan bahwa perusahaan seringkali memilih untuk melaporkan keberlanjutan sebagai reaksi terhadap insentif atau tekanan, seperti untuk melindungi reputasi mereka atau mendapatkan akses pendanaan. Di sisi lain, teori akuntansi normatif menekankan perlunya penerapan standar yang etis dan ideal, yang dalam hal ini memotivasi bisnis untuk mengadopsi standar pelaporan seperti GRI dan merujuk pada SDGs sebagai panduan untuk mengomunikasikan informasi keberlanjutan secara komprehensif dan benar. Berdasarkan pendekatan normatif ini, perusahaan harus memenuhi kewajiban hukum saja tetapi juga tetap mengutamakan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagai bagian dari praktik tata kelola yang baik.

3.PT Sumber Hijau dapat menggunakan standar GRI sebagai dasar untuk menghasilkan laporan keberlanjutan yang berbeda namun terkait erat agar pelaporan SDGs dapat dimasukkan ke dalam laporan keuangan meskipun PSAK tidak sepenuhnya mendukung pelaporan ESG. Perusahaan juga dapat mengacu pada norma internasional lainnya seperti Standar Pengungkapan Keberlanjutan IFRS, yang semakin dikenal di dunia. Pendekatan yang digunakan adalah dengan memasukkan laporan keberlanjutan yang terkait dengan indikator kinerja keberlanjutan dalam laporan tahunan—seperti pengurangan emisi, perlindungan ekosistem, dan penciptaan lapangan kerja. Dengan menguraikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan secara jelas serta merinci kontribusi perusahaan terhadap pencapaian SDGs yang relevan, narasi yang dibuat dalam laporan dapat menghubungkan faktor keuangan dan keberlanjutan.

4.Sebagai akuntan yang bertanggung jawab atas pelaporan keberlanjutan, sangat penting untuk menciptakan cerita yang dapat memenuhi harapan berbagai pemangku kepentingan, baik lokal maupun global. Narasi tersebut harus secara terbuka mengakui kesulitan dan bahaya yang ditimbulkan oleh dampak sosial dan lingkungan dari ekspansi, serta menyoroti dedikasi PT Sumber Hijau untuk melestarikan lingkungan dan memberdayakan penduduk asli melalui inisiatif yang berkelanjutan dan mitigasi dampak. Laporan tersebut perlu menunjukkan informasi yang terukur dan terverifikasi seperti berapa banyak penduduk lokal yang dipekerjakan, berapa banyak pekerjaan reboisasi yang dilakukan, dan berapa banyak emisi karbon yang dikurangi. Untuk menunjukkan keterbukaan dan akuntabilitas, narasi tersebut juga harus mencakup deskripsi tata kelola perusahaan dan proses pelibatan pemangku kepentingan. Dengan demikian, laporan keberlanjutan tidak hanya menjadi sarana komunikasi yang ampuh tetapi juga menumbuhkan kepercayaan dan dukungan dari para pemangku kepentingan, regulator, dan penduduk lokal.