Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C
1. Pengertian dan Jenis Instrumen Keuangan
Instrumen Keuangan adalah aset yang dapat diperdagangkan, atau berupa bukti kepemilikan, atau hak kontraktual untuk menerima atau menyerahkan uang tunai atau instrumen keuangan lain dari atau kepada entitas lain. Instrumen ini memungkinkan transfer modal dan pengelolaan risiko secara efisien.
Jenis Instrumen Keuangan
Secara umum, instrumen keuangan dibagi menjadi dua kategori utama:
- Instrumen Tunai (Cash Instruments): Nilai instrumen ini secara langsung dipengaruhi dan ditentukan oleh pasar.
Contoh: Uang tunai, piutang usaha, pinjaman bank, deposito, surat berharga (seperti sertifikat deposito).
-Instrumen Derivatif (Derivative Instruments): Nilainya diturunkan dari aset acuan (underlying asset), suku bunga, atau indeks. Instrumen ini sering digunakan untuk hedging (lindung nilai) atau spekulasi.
Contoh: Opsi (Options), Kontrak Berjangka (Futures), Swaps, dan Forwards.
2. Kas dan Pengendalian Internal Terhadap Kas
Kas (Cash) adalah aset yang paling likuid (cair) dalam perusahaan. Kas mencakup uang tunai yang tersedia di perusahaan (kas di tangan) dan saldo simpanan di bank yang dapat ditarik sewaktu-waktu (kas di bank, rekening giro). Setara Kas (Cash Equivalents) adalah investasi yang sangat likuid, berjangka pendek (biasanya 3 bulan atau kurang), dan dapat segera diubah menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui, serta memiliki risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.
Pengendalian Internal Terhadap Kas
Pengendalian Internal Kas adalah serangkaian kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk melindungi aset kas perusahaan dari kecurangan, penyalahgunaan, dan untuk memastikan keandalan serta ketepatan data akuntansi kas.
Elemen Kunci Pengendalian Internal Kas:
-Pemisahan Tugas (Segregation of Duties): Fungsi otorisasi transaksi, pencatatan (akuntansi), dan penyimpanan/penanganan fisik kas harus dipisahkan pada individu yang berbeda.
-Otorisasi dan Dokumentasi: Semua transaksi penerimaan dan pengeluaran kas harus diotorisasi oleh pejabat yang berwenang dan didukung oleh dokumen yang memadai (contoh: faktur, cek yang bernomor urut tercetak).
-Penggunaan Rekening Bank: Semua penerimaan kas harus segera disetor ke bank (prinsip deposit all receipts intact), dan sebagian besar pengeluaran kas dilakukan melalui cek atau transfer bank, bukan uang tunai.
-Kas Kecil (Petty Cash): Pengeluaran tunai dalam jumlah kecil dikelola melalui sistem dana kas kecil (biasanya menggunakan sistem dana tetap/imprest).
-Rekonsiliasi Bank: Melakukan rekonsiliasi secara teratur (bulanan) antara saldo kas menurut catatan perusahaan dan saldo kas menurut rekening bank untuk mendeteksi perbedaan dan potensi penyimpangan.
-Audit Internal: Melakukan pemeriksaan mendadak (kas count) pada saldo kas di tangan secara berkala.
3. Penyajian dan Pengungkapan Kas dalam Laporan Keuangan
Penyajian Kas
1. Neraca/Laporan Posisi Keuangan: Kas dan setara kas disajikan sebagai pos pertama dalam kelompok Aset Lancar (Current Assets) karena merupakan aset yang paling likuid.
2. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows): Menyajikan ringkasan penerimaan dan pengeluaran kas selama periode berjalan, diklasifikasikan menjadi tiga aktivitas utama: Aktivitas Operasi (OA), Aktivitas Investasi (IA), Aktivitas Pendanaan (FA)
Pengungkapan Kas
Pengungkapan dilakukan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Hal-hal yang harus diungkapkan meliputi:
- Kebijakan Akuntansi: Menjelaskan definisi kas dan setara kas yang digunakan perusahaan, terutama kriteria yang digunakan untuk mengklasifikasikan investasi sebagai setara kas (misalnya, jatuh tempo 3 bulan atau kurang).
- Rincian Saldo: Merinci komponen saldo kas dan setara kas, seperti saldo kas di tangan, kas di bank A, kas di bank B, dan instrumen setara kas (misalnya, deposito berjangka).
- Pembatasan Penggunaan Kas (Restricted Cash): Jika ada saldo kas yang penggunaannya dibatasi untuk tujuan tertentu (misalnya, dana yang dijaminkan atau dana pelunasan utang jangka panjang), jumlah tersebut harus diungkapkan secara terpisah dan diklasifikasikan sebagai aset lancar atau non-lancar, tergantung pada periode pembatasan.
4. Pengertian dan Pengakuan Piutang
Pengertian Piutang
Piutang (Receivables) adalah klaim perusahaan kepada entitas lain (individu, perusahaan, atau organisasi) untuk sejumlah uang tunai di masa depan sebagai hasil dari transaksi masa lalu. Piutang umumnya timbul dari penjualan barang atau jasa secara kredit.
Jenis Piutang Utama:
- Piutang Usaha/Dagang (Accounts Receivable): Timbul dari penjualan barang atau jasa secara kredit dalam kegiatan operasional normal perusahaan. Biasanya tidak didukung janji tertulis formal (hanya faktur) dan berjangka waktu pendek (30-60 hari).
- Wesel Tagih (Notes Receivable): Klaim yang didukung oleh janji tertulis formal (promissory note) dari pihak peminjam untuk membayar sejumlah uang pokok ditambah bunga pada tanggal tertentu.
- Piutang Lain-lain (Other Receivables): Piutang yang tidak berasal dari kegiatan operasional utama (contoh: piutang bunga, piutang karyawan, pengembalian pajak).
Pengakuan Piutang
Piutang diakui di pembukuan perusahaan ketika perusahaan telah memenuhi kewajibannya (yaitu, telah mengirimkan barang atau menyediakan jasa kepada pelanggan) dan memiliki hak kontraktual untuk menerima pembayaran di masa depan.
Prinsip: Pengakuan piutang terkait erat dengan pengakuan pendapatan. Ketika pendapatan diakui (sesuai dengan prinsip akuntansi pengakuan pendapatan), maka piutang yang timbul dari transaksi kredit tersebut juga diakui.
Nilai Awal: Piutang pada awalnya diukur dan diakui sebesar nilai wajar (biasanya harga transaksi/harga faktur).
5. Penilaian PiutangPiutang harus dinilai pada Nilai Realisasi Bersih (Net Realizable Value/NRV), yaitu jumlah kas bersih yang diharapkan akan diterima.
NRV = Saldo Piutang Usaha - Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
Perhitungan Penurunan Nilai (Kerugian Kredit)
Karena tidak semua piutang dapat tertagih (piutang tak tertagih), perusahaan harus mengestimasi jumlah piutang yang kemungkinan besar tidak akan terbayar. Penurunan nilai ini dicatat sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) atau Allowance for Doubtful Accounts.
Metode Estimasi CKPN:
1. Persentase Penjualan Kredit (Percentage of Sales): Mengestimasi CKPN berdasarkan persentase penjualan kredit neto periode berjalan. Metode ini berfokus pada laporan laba rugi (beban kerugian piutang).
2. Persentase Saldo Piutang Usaha (Percentage of Receivables): Mengestimasi CKPN berdasarkan persentase tertentu dari total saldo piutang akhir periode.
3. Analisis Umur Piutang (Aging of Receivables): Piutang diklasifikasikan berdasarkan lamanya piutang tersebut beredar (belum tertagih). Semakin lama umur piutang, semakin tinggi persentase estimasi ketidaktertagihannya. Metode ini berfokus pada neraca (saldo CKPN yang diharapkan).
Penyajian dan Pengungkapan Piutang
Penyajian (Neraca/Laporan Posisi Keuangan):
1. Piutang Usaha disajikan sebagai Aset Lancar (jika jatuh tempo dalam satu tahun atau siklus operasi normal).
2. Piutang Usaha disajikan sebesar Nilai Realisasi Bersih (bersih dari CKPN).
3. Wesel Tagih Jangka Panjang disajikan sebagai Aset Tidak Lancar (Jangka Panjang).
Pengungkapan (CALK):
1. Kebijakan Akuntansi: Menjelaskan dasar pengukuran (NRV) dan metode yang digunakan untuk mengestimasi CKPN.
2. Rincian Piutang: Menyajikan rincian komposisi piutang (piutang usaha, wesel tagih, piutang lain-lain).
3. Perubahan CKPN: Menyajikan rekonsiliasi saldo awal, penambahan, penghapusan, dan saldo akhir CKPN.
4. Syarat Kredit: Mengungkapkan persyaratan kredit yang signifikan (misalnya, suku bunga dan tanggal jatuh tempo wesel tagih).
6. Analisis kas berfokus pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan efisiensi penggunaan kas. Analisis ini sering menggunakan Rasio Cepat (Quick Ratio), yang mengukur kemampuan membayar utang lancar hanya dengan aset yang paling likuid (Kas dan Piutang). Selain itu, Perputaran Kas dihitung untuk menilai seberapa efisien kas dikelola untuk menghasilkan penjualan.
Analisis Piutang
Analisis piutang mengukur kualitas piutang dan efektivitas kebijakan kredit dan penagihan perusahaan:
- Perputaran Piutang (Accounts Receivable Turnover): Rasio ini mengukur seberapa cepat piutang diubah menjadi kas. Semakin tinggi rasionya, semakin efektif dan cepat penagihan piutang.
- Rata-Rata Periode Penagihan (Days Sales Outstanding/DSO): Rasio ini mengukur rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk mengumpulkan piutang. Periode yang lebih pendek menunjukkan pengelolaan piutang yang baik, karena kas perusahaan dapat segera digunakan kembali.
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C
1. Pengertian dan Jenis Instrumen Keuangan
Instrumen Keuangan adalah aset yang dapat diperdagangkan, atau berupa bukti kepemilikan, atau hak kontraktual untuk menerima atau menyerahkan uang tunai atau instrumen keuangan lain dari atau kepada entitas lain. Instrumen ini memungkinkan transfer modal dan pengelolaan risiko secara efisien.
Jenis Instrumen Keuangan
Secara umum, instrumen keuangan dibagi menjadi dua kategori utama:
- Instrumen Tunai (Cash Instruments): Nilai instrumen ini secara langsung dipengaruhi dan ditentukan oleh pasar.
Contoh: Uang tunai, piutang usaha, pinjaman bank, deposito, surat berharga (seperti sertifikat deposito).
-Instrumen Derivatif (Derivative Instruments): Nilainya diturunkan dari aset acuan (underlying asset), suku bunga, atau indeks. Instrumen ini sering digunakan untuk hedging (lindung nilai) atau spekulasi.
Contoh: Opsi (Options), Kontrak Berjangka (Futures), Swaps, dan Forwards.
2. Kas dan Pengendalian Internal Terhadap Kas
Kas (Cash) adalah aset yang paling likuid (cair) dalam perusahaan. Kas mencakup uang tunai yang tersedia di perusahaan (kas di tangan) dan saldo simpanan di bank yang dapat ditarik sewaktu-waktu (kas di bank, rekening giro). Setara Kas (Cash Equivalents) adalah investasi yang sangat likuid, berjangka pendek (biasanya 3 bulan atau kurang), dan dapat segera diubah menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui, serta memiliki risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.
Pengendalian Internal Terhadap Kas
Pengendalian Internal Kas adalah serangkaian kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk melindungi aset kas perusahaan dari kecurangan, penyalahgunaan, dan untuk memastikan keandalan serta ketepatan data akuntansi kas.
Elemen Kunci Pengendalian Internal Kas:
-Pemisahan Tugas (Segregation of Duties): Fungsi otorisasi transaksi, pencatatan (akuntansi), dan penyimpanan/penanganan fisik kas harus dipisahkan pada individu yang berbeda.
-Otorisasi dan Dokumentasi: Semua transaksi penerimaan dan pengeluaran kas harus diotorisasi oleh pejabat yang berwenang dan didukung oleh dokumen yang memadai (contoh: faktur, cek yang bernomor urut tercetak).
-Penggunaan Rekening Bank: Semua penerimaan kas harus segera disetor ke bank (prinsip deposit all receipts intact), dan sebagian besar pengeluaran kas dilakukan melalui cek atau transfer bank, bukan uang tunai.
-Kas Kecil (Petty Cash): Pengeluaran tunai dalam jumlah kecil dikelola melalui sistem dana kas kecil (biasanya menggunakan sistem dana tetap/imprest).
-Rekonsiliasi Bank: Melakukan rekonsiliasi secara teratur (bulanan) antara saldo kas menurut catatan perusahaan dan saldo kas menurut rekening bank untuk mendeteksi perbedaan dan potensi penyimpangan.
-Audit Internal: Melakukan pemeriksaan mendadak (kas count) pada saldo kas di tangan secara berkala.
3. Penyajian dan Pengungkapan Kas dalam Laporan Keuangan
Penyajian Kas
1. Neraca/Laporan Posisi Keuangan: Kas dan setara kas disajikan sebagai pos pertama dalam kelompok Aset Lancar (Current Assets) karena merupakan aset yang paling likuid.
2. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows): Menyajikan ringkasan penerimaan dan pengeluaran kas selama periode berjalan, diklasifikasikan menjadi tiga aktivitas utama: Aktivitas Operasi (OA), Aktivitas Investasi (IA), Aktivitas Pendanaan (FA)
Pengungkapan Kas
Pengungkapan dilakukan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Hal-hal yang harus diungkapkan meliputi:
- Kebijakan Akuntansi: Menjelaskan definisi kas dan setara kas yang digunakan perusahaan, terutama kriteria yang digunakan untuk mengklasifikasikan investasi sebagai setara kas (misalnya, jatuh tempo 3 bulan atau kurang).
- Rincian Saldo: Merinci komponen saldo kas dan setara kas, seperti saldo kas di tangan, kas di bank A, kas di bank B, dan instrumen setara kas (misalnya, deposito berjangka).
- Pembatasan Penggunaan Kas (Restricted Cash): Jika ada saldo kas yang penggunaannya dibatasi untuk tujuan tertentu (misalnya, dana yang dijaminkan atau dana pelunasan utang jangka panjang), jumlah tersebut harus diungkapkan secara terpisah dan diklasifikasikan sebagai aset lancar atau non-lancar, tergantung pada periode pembatasan.
4. Pengertian dan Pengakuan Piutang
Pengertian Piutang
Piutang (Receivables) adalah klaim perusahaan kepada entitas lain (individu, perusahaan, atau organisasi) untuk sejumlah uang tunai di masa depan sebagai hasil dari transaksi masa lalu. Piutang umumnya timbul dari penjualan barang atau jasa secara kredit.
Jenis Piutang Utama:
- Piutang Usaha/Dagang (Accounts Receivable): Timbul dari penjualan barang atau jasa secara kredit dalam kegiatan operasional normal perusahaan. Biasanya tidak didukung janji tertulis formal (hanya faktur) dan berjangka waktu pendek (30-60 hari).
- Wesel Tagih (Notes Receivable): Klaim yang didukung oleh janji tertulis formal (promissory note) dari pihak peminjam untuk membayar sejumlah uang pokok ditambah bunga pada tanggal tertentu.
- Piutang Lain-lain (Other Receivables): Piutang yang tidak berasal dari kegiatan operasional utama (contoh: piutang bunga, piutang karyawan, pengembalian pajak).
Pengakuan Piutang
Piutang diakui di pembukuan perusahaan ketika perusahaan telah memenuhi kewajibannya (yaitu, telah mengirimkan barang atau menyediakan jasa kepada pelanggan) dan memiliki hak kontraktual untuk menerima pembayaran di masa depan.
Prinsip: Pengakuan piutang terkait erat dengan pengakuan pendapatan. Ketika pendapatan diakui (sesuai dengan prinsip akuntansi pengakuan pendapatan), maka piutang yang timbul dari transaksi kredit tersebut juga diakui.
Nilai Awal: Piutang pada awalnya diukur dan diakui sebesar nilai wajar (biasanya harga transaksi/harga faktur).
5. Penilaian PiutangPiutang harus dinilai pada Nilai Realisasi Bersih (Net Realizable Value/NRV), yaitu jumlah kas bersih yang diharapkan akan diterima.
NRV = Saldo Piutang Usaha - Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
Perhitungan Penurunan Nilai (Kerugian Kredit)
Karena tidak semua piutang dapat tertagih (piutang tak tertagih), perusahaan harus mengestimasi jumlah piutang yang kemungkinan besar tidak akan terbayar. Penurunan nilai ini dicatat sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) atau Allowance for Doubtful Accounts.
Metode Estimasi CKPN:
1. Persentase Penjualan Kredit (Percentage of Sales): Mengestimasi CKPN berdasarkan persentase penjualan kredit neto periode berjalan. Metode ini berfokus pada laporan laba rugi (beban kerugian piutang).
2. Persentase Saldo Piutang Usaha (Percentage of Receivables): Mengestimasi CKPN berdasarkan persentase tertentu dari total saldo piutang akhir periode.
3. Analisis Umur Piutang (Aging of Receivables): Piutang diklasifikasikan berdasarkan lamanya piutang tersebut beredar (belum tertagih). Semakin lama umur piutang, semakin tinggi persentase estimasi ketidaktertagihannya. Metode ini berfokus pada neraca (saldo CKPN yang diharapkan).
Penyajian dan Pengungkapan Piutang
Penyajian (Neraca/Laporan Posisi Keuangan):
1. Piutang Usaha disajikan sebagai Aset Lancar (jika jatuh tempo dalam satu tahun atau siklus operasi normal).
2. Piutang Usaha disajikan sebesar Nilai Realisasi Bersih (bersih dari CKPN).
3. Wesel Tagih Jangka Panjang disajikan sebagai Aset Tidak Lancar (Jangka Panjang).
Pengungkapan (CALK):
1. Kebijakan Akuntansi: Menjelaskan dasar pengukuran (NRV) dan metode yang digunakan untuk mengestimasi CKPN.
2. Rincian Piutang: Menyajikan rincian komposisi piutang (piutang usaha, wesel tagih, piutang lain-lain).
3. Perubahan CKPN: Menyajikan rekonsiliasi saldo awal, penambahan, penghapusan, dan saldo akhir CKPN.
4. Syarat Kredit: Mengungkapkan persyaratan kredit yang signifikan (misalnya, suku bunga dan tanggal jatuh tempo wesel tagih).
6. Analisis kas berfokus pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan efisiensi penggunaan kas. Analisis ini sering menggunakan Rasio Cepat (Quick Ratio), yang mengukur kemampuan membayar utang lancar hanya dengan aset yang paling likuid (Kas dan Piutang). Selain itu, Perputaran Kas dihitung untuk menilai seberapa efisien kas dikelola untuk menghasilkan penjualan.
Analisis Piutang
Analisis piutang mengukur kualitas piutang dan efektivitas kebijakan kredit dan penagihan perusahaan:
- Perputaran Piutang (Accounts Receivable Turnover): Rasio ini mengukur seberapa cepat piutang diubah menjadi kas. Semakin tinggi rasionya, semakin efektif dan cepat penagihan piutang.
- Rata-Rata Periode Penagihan (Days Sales Outstanding/DSO): Rasio ini mengukur rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk mengumpulkan piutang. Periode yang lebih pendek menunjukkan pengelolaan piutang yang baik, karena kas perusahaan dapat segera digunakan kembali.