Posts made by Adinda Putri Zahra

AKM C2025 -> Diskusi

by Adinda Putri Zahra -
Nama: Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083
Kelas: 2024C

TVM (Time Value of Money)atau nilai uang saat ini adalah representasi dari ide bahwa nilai uang sekarang dianggap lebih signifikan dibandingkan nilai yang sama di masa depan. Ini berarti, di masa yang akan datang, uang mungkin kehilangan nilainya. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki Rp5.000.000 saat ini, nilai uang tersebut dapat berkurang setelah 10 tahun. Penurunan nilai ini biasanya dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk waktu, inflasi, dan biaya peluang.

TA C2025 -> CASE STUDY

by Adinda Putri Zahra -
Nama : Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083
Kelas: 2024C

1. Penggunaan fair value dalam pelaporan aset tetap memiliki beberapa keuntungan dibandingkan metode historical cost, terutama di sektor properti yang sering berubah. Pertama, nilai wajar menjadikan informasi lebih bermanfaat karena mencerminkan harga pasar yang berlaku saat ini, sehingga memberikan pemahaman yang lebih baik tentang keadaan keuangan perusahaan, memungkinkan investor dan pihak lainnya untuk membuat pilihan yang lebih akurat berdasarkan informasi terbaru. Kedua, metode ini mencerminkan kondisi ekonomi secara real time, termasuk perubahan nilai aset akibat pergerakan pasar, inflasi, dan faktor lainnya, sehingga laporan keuangan lebih sesuai dengan kondisi nyata bisnis. Ketiga, nilai wajar meningkatkan kejelasan dengan menjelaskan metode dan asumsi yang diterapkan dalam penilaian, yang pada gilirannya memperdalam pemahaman pihak ketiga tentang nilai aset itu.

Namun, nilai wajar juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan.
Penilaian nilai wajar kerap kali bersifat subjektif dan tidak pasti, karena bergantung pada estimasi dan asumsi pasar yang mungkin tidak tepat, terutama di pasar yang sepi atau kurang likuid, sehingga menyebabkan keraguan tentang keandalan nilai yang dilaporkan. Selain itu, perubahan nilai wajar dapat menyebabkan fluktuasi dalam laporan keuangan, seperti peningkatan laba atau ekuitas yang tidak mewakili kinerja bisnis jangka panjang perusahaan, sehingga berpotensi menyesatkan pengguna. Akhirnya, proses penilaian oleh pihak independen memerlukan biaya tambahan serta waktu yang cukup besar, yang bisa menjadi beban bagi perusahaan seperti PT Nusantara Properti.

2. Penggunaan nilai wajar oleh PT Nusantara Properti membuat informasi akuntansi lebih relevan bagi para investor, terutama karena aset properti komersial yang dikelolanya berada dalam pasar yang sering berfluktuasi. Dengan menerapkan model revaluasi sesuai PSAK 16 revisi dan IFRS (IAS 16), perusahaan dapat mencerminkan nilai aset yang lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini, yang merupakan informasi penting untuk mengevaluasi risiko dan peluang bisnis perusahaan. Meskipun kenaikan relevansi ini terjadi, keandalan informasi tetap terjaga. Standar global (IFRS 13 / PSAK 68) telah menetapkan hierarki nilai wajar (Level 1, 2, dan 3) sebagai mekanisme penjamin. Meskipun banyak penilaian properti komersial bergantung pada asumsi (Level 2 atau 3), keandalan tetap bisa dipertahankan melalui pengungkapan yang jelas dan audit yang profesional. Selama perusahaan mengungkapkan secara rinci asumsi yang digunakan dalam penilaian, serta auditor memastikan bahwa asumsi tersebut masuk akal dan didukung oleh data pasar yang ada, penggunaan nilai wajar mampu menjaga keseimbangan antara memberikan informasi yang relevan tanpa mengurangi kejujuran atau keandalan secara signifikan.

3. Sebagai bagian dari Komite Standar Akuntansi Keuangan (DSAK IAI), saya merekomendasikan agar penerapan nilai wajar dalam pelaporan aset tetap di sektor properti dilakukan lebih luas dengan aturan yang ketat untuk memastikan keandalan informasi. Kebijakan ini harus mewajibkan penilaian yang dilakukan oleh penilai independen yang berkompeten, dengan menggunakan pendekatan yang terperinci dan dapat diverifikasi, serta perlu ada pengungkapan komprehensif mengenai asumsi, metode penilaian, dan seberapa rentannya nilai tersebut terhadap perubahan asumsi. Selain itu, perusahaan sebaiknya memiliki fleksibilitas untuk memilih antara model nilai wajar dan biaya historis sesuai dengan ciri khas usahanya, sambil tetap memastikan penerapan metode yang sama dari satu periode ke periode yang lain.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Adinda Putri Zahra -
Nama: Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083
Kelas: 2024C

Inti dari jurnal ini berfokus pada perdebatan mendasar dalam akuntansi keuangan yang melibatkan dua metode pengukuran, yaitu biaya historis dan nilai wajar. Nilai wajar didorong oleh lembaga standar seperti IASB karena dianggap memberikan informasi yang lebih relevan, objektif, dan dapat dibandingkan, serta lebih baik dalam mencerminkan situasi ekonomi saat ini dibandingkan dengan biaya historis. Upaya ini bahkan mengarah pada usulan untuk mengukur semua aset dan liabilitas dengan menggunakan nilai wajarnya pada saat pengakuan awal, sebuah langkah yang sepenuhnya menghilangkan dasar biaya historis di beberapa standar. Akan tetapi, penerapan nilai wajar membawa ancaman yang signifikan. Terutama untuk aset non-keuangan, ketidakadaan pasar aktif seringkali memaksa untuk menggunakan model subjektif yang dapat mengurangi keandalan pengukuran.Risiko besar lainnya adalah bahaya pengikisan modal fisik jika keuntungan yang belum direalisasi dari revaluasi nilai wajar dimasukkan ke laba bersih dan kemudian didistribusikan. Krisis keuangan semakin menyoroti masalah ini, karena pasar yang kacau membuat nilai wajar menjadi tidak tersedia atau tidak mencerminkan nilai sebenarnya, yang memicu seruan untuk menangguhkan aturan nilai wajar dan beralih ke pengukuran spesifik entitas. Sebagai kesimpulan, penulis dari jurnal di atas menyarankan perlunya menggunakan kedua pendekatan nilai wajar, yang lebih cocok untuk instrumen keuangan, dan pengukuran spesifik entitas, yang terkadang lebih baik untuk aset non-keuangan untuk memberikan informasi yang benar tanpa membiarkan distribusi keuntungan yang belum terealisasi.