གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Adinda Putri Zahra

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 1

Adinda Putri Zahra གིས-
Nama: Adinda Putri Zahra
NPM : 24130031083

Terdapat tiga cara utama untuk menilai persediaan: Metode FIFO (First-In, First-Out), Metode Rata-Rata Tertimbang, dan Metode Identifikasi Khusus. Metode Identifikasi Khusus dianggap yang paling baik secara teori karena secara akurat menyamakan biaya perolehan nyata dari unit yang terjual dengan pendapatan yang dihasilkan, sesuai dengan prinsip penandingan. Persediaan akhir dan HPP yang dihasilkan benar-benar mencerminkan aliran fisik dan biaya yang terjadi. Namun, karena rumit dalam penerapan dan risiko manipulasi laba (dengan memilih unit biaya terendah atau tertinggi untuk dijual), penggunaannya jarang dilakukan kecuali untuk barang yang bernilai tinggi dan unik.

Sementara itu, Metode FIFO dan rata-rata tertimbang sering diterapkan karena lebih praktis. Metode FIFO beranggapan bahwa biaya barang yang paling lama adalah yang pertama kali menjadi HPP. Dalam konteks penilaian aset, FIFO memiliki kesesuaian teoritis yang kuat karena nilai persediaan akhir dihitung berdasarkan biaya perolehan terbaru, menjadikannya paling relevan di laporan neraca. Namun, dalam menentukan laba selama periode inflasi, FIFO menghasilkan HPP yang rendah (biaya lama), membuat laba kotor terlihat lebih tinggi (overstated), sehingga kurang memenuhi prinsip penandingan yang optimal.

Dan yang terakhir, metode rata-rata tertimbang menggunakan rata-rata biaya dari semua unit yang ada. Metode ini memiliki keuntungan teoritis dalam memberikan hasil laba yang stabil dan moderat, karena dapat meratakan efek dari perubahan biaya. Meskipun tidak mempertimbangkan arus biaya yang sebenarnya, metode ini dianggap sebagai solusi yang baik, terutama untuk persediaan yang seragam dan sulit untuk dibedakan. Secara keseluruhan, perusahaan lebih memilih FIFO dan Rata-Rata Tertimbang karena kesederhanaan dan efisiensinya dibandingkan dengan pelacakan biaya per unit yang rumit pada Metode Identifikasi Khusus.

AKM C2025 -> Diskusi

Adinda Putri Zahra གིས-
Nama: Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083
Kelas: 2024C

Menurut pendapat saya perbandingan antara metode perhitungan biaya persediaan LIFO (Last-In, First-Out) dan FIFO (First-In, First-Out) memberikan pengaruh langsung terhadap laporan laba bersih, yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga. Pada saat harga naik (inflasi), metode LIFO biasanya menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena Harga Pokok Penjualan (HPP) dihitung berdasarkan biaya persediaan terbaru yang lebih tinggi, sehingga laba kotor menjadi lebih kecil. Sebaliknya, metode FIFO menghasilkan laba bersih yang lebih besar karena HPP berdasarkan biaya persediaan yang lebih lama dan lebih murah. Namun, dampak ini akan berubah selama periode penurunan harga (deflasi), di mana LIFO bisa memberikan laba bersih yang lebih tinggi (karena HPP memakai biaya terbaru yang lebih rendah) sementara FIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah (karena HPP memakai biaya terlama yang lebih tinggi). Pemilihan metode ini sangat penting bagi perusahaan, meskipun penting untuk diingat bahwa metode LIFO tidak diperkenankan dalam Standar Akuntansi Internasional (IFRS/PSAK) serta banyak hukum di tempat lain.

AKM C2025 -> Diskusi

Adinda Putri Zahra གིས-
Nama: Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083

1. Instrumen keuangan mengacu pada aset yang diperdagangkan atau dipertukarkan . Saham , Exchange Traded Fund (ETF), obligasi, sertifikat deposito, reksa dana, pinjaman, dan kontrak derivatif adalah beberapa contoh instrumen keuangan .

2. Kas adalah aset lancar yang mencakup uang kertas, koin, dan barang-barang lain yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah, serta bisa diakses kapan saja. Ini merupakan salah satu bentuk modal kerja dengan tingkat likuiditas yang sangat tinggi. Pengendalian internal melibatkan semua rencana organisasi, metode, dan ukuran yang dipilih oleh suatu usaha untuk melindungi asetnya, memverifikasi akurasi dan keandalan data akuntansi, meningkatkan efisiensi operasional, serta memastikan kepatuhan terhadap kebijakan manajerial yang ada. Dengan adanya sistem pengendalian internal, diharapkan dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya kesalahan, penyimpangan, dan masalah yang dapat mengganggu kelangsungan perusahaan.

3.Saldo kas serta aset setara kas harus ditampilkan dalam Neraca dan Laporan Arus Kas. Perubahan antara pos-pos kas dan aset setara kas tidak dicatat dalam laporan keuangan karena kegiatan ini termasuk dalam pengelolaan kas dan tidak terkait dengan aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitori dalam Laporan Arus Kas. Penjelasan mengenai kas dan aset setara kas dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) setidaknya perlu mencakup hal-hal berikut:
1. Rincian mengenai kas dan aset setara kas
2. Kebijakan pengelolaan aset setara kas
3. Informasi lain yang dianggap relevan.

4. Piutang adalah klaim terhadap orang lain karena adanya penjualan yang dilakukan secara kredit oleh perusahaan di masa lalu, dengan penagihan yang dilakukan saat ini. Pengakuan piutang adalah saat di mana perusahaan mencatat dan mengakui piutang sebagai aset yang dimiliki.

5. Penilaian, Penurunan Nilai, Penyajian, dan Pengungkapan Piutang
Penilaian piutang ditentukan berdasarkan nilai wajar atas imbalan yang akan diterima, yang biasanya sama dengan nilai tagihan. Penurunan nilai piutang diukur ketika terdapat tanda-tanda bahwa piutang tidak bisa sepenuhnya dikumpulkan. Piutang ditampilkan di neraca sebagai bagian dari aset lancar. Penyajian harus dilakukan dengan jelas dan konsisten. Pengungkapan piutang dalam laporan keuangan memberikan informasi yang jelas mengenai kualitas, risiko, dan nilai piutang kepada pembaca laporan, seperti investor dan kreditur.

6. Analisis kas mencakup pengamatan terhadap arus kas yang masuk dan keluar, serta rasio keuangan untuk menilai seberapa efisien pengelolaan kas berlangsung. Sedangkan analisis piutang fokus pada menilai kualitas piutang, kecepatan dalam mengumpulkan, dan kemungkinan terjadinya kerugian. Dengan melakukan analisis kas dan piutang secara rinci, hal ini dapat membantu meningkatkan efisiensi keuangan dan menekan risiko.

TA C2025 -> CASE STUDY

Adinda Putri Zahra གིས-
Nama: Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083

1. Dalam kasus PT IndoEnergi Tbk, perubahan metode depresiasi dari garis lurus menjadi saldo menurun ganda mengakibatkan beban depresiasi yang lebih besar pada awal periode, yang mengurangi laba bersih untuk tahun tersebut. Meskipun pihak manajemen berargumen bahwa perubahan ini mencerminkan pola yang lebih akurat dalam penggunaan manfaat ekonomi (mengacu pada percepatan pemakaian aset dalam proyek energi baru), PAT menginterpretasikan tindakan ini sebagai usaha kepentingan pribadi manajemen untuk mengelola harapan dari luar dan meringankan tekanan finansial. Secara rinci:
A.Bonus Plan Hypothesis:Hipotesis ini menyatakan bahwa manajer yang memiliki kontrak kompensasi berdasarkan laba (seperti bonus atau insentif bagi eksekutif) cenderung memilih langkah akuntansi yang menurunkan laba saat laba dalam kondisi tinggi untuk menghindari meningkatnya harapan dividen atau bonus di masa mendatang. Di PT IndoEnergi, penurunan laba bisa membuat ekspektasi dividen dari para investor menurun, yang sejalan dengan dugaan analis pasar. Hal ini memberi kesempatan bagi manajemen untuk "menyimpan" laba yang mungkin dihasilkan untuk periode berikutnya, sehingga mereka dapat memaksimalkan bonus jangka panjang. PAT menganggap ini sebagai pendekatan penghalusan pendapatan untuk menjaga stabilitas kinerja yang terlihat, yang pada akhirnya bermanfaat bagi kepentingan pribadi manajer.
B. Debt Covenant Hypothesis: Manajer di perusahaan yang memiliki tingkat utang tinggi biasanya memilih kebijakan yang menurunkan laba untuk menghindari pelanggaran terhadap covenant utang (misalnya, rasio utang terhadap ekuitas). Meskipun tidak dinyatakan secara langsung, sektor energi terbarukan seperti PT IndoEnergi sering kali sangat bergantung pada pinjaman untuk mendanai proyek-proyek besar. Penurunan laba dapat memperkecil pajak (seperti yang disimpulkan oleh para analis), yang secara tidak langsung mengurangi beban finansial dan risiko gagal bayar utang, sehingga melindungi posisi manajemen dari tekanan dari kreditur.
C.Political Cost Hypothesis: Untuk perusahaan besar yang terdaftar di BEI, manajer mungkin mengambil keputusan untuk menurunkan laba guna mengurangi perhatian dari regulator atau pemerintah, terutama di sektor energi yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan subsidi atau pajak lingkungan. Di Indonesia, dengan adanya regulasi pajak progresif, penurunan laba dapat membantu mengurangi beban pajak perusahaan, yang merupakan bentuk kepentingan pribadi untuk menjaga aliran kas internal.

2.Keputusan PT IndoEnergi untuk mengubah cara depresiasi merupakan hal yang umum dan diperbolehkan di bawah standar akuntansi internasional, baik IFRS maupun US GAAP, dengan syarat terdapat alasan yang sah. Standar IFRS, melalui IAS 8 dan IAS 16, memperbolehkan perubahan dalam kebijakan akuntansi hanya jika metode yang baru dapat memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat dipercaya, misalnya, lebih baik dalam mencerminkan cara penggunaan manfaat ekonomi dari aset.Di berbagai negara, termasuk yang menerapkan US GAAP, pilihan antara metode penyusutan garis lurus dan penyusutan dipercepat adalah salah satu bentuk fleksibilitas akuntansi yang sering dimanfaatkan oleh manajemen untuk pengelolaan laba. Dalam hal PT IndoEnergi, pernyataan manajemen yang menyebutkan "percepatan penggunaan aset" adalah alasan yang diperlukan agar sesuai dengan standar. Dengan kata lain, meskipun keputusan tersebut didorong oleh insentif ekonomi yang telah dianalisis oleh PAT, tindakan ini tetap diperbolehkan secara internasional asalkan memenuhi syarat pengungkapan dan alasan yang memadai.

3.Saya setuju bahwa PAT cukup dalam menggambarkan motivasi para manajer di PT IndoEnergi (contohnya, menghindari pajak dan biaya politik) karena teori ini secara logis mengaitkan pemilihan akuntansi (seperti depresiasi yang dipercepat) dengan insentif ekonomi untuk individu atau perusahaan. PAT mendorong kita untuk melihat lebih dalam dari sekadar alasan teknis ("pola konsumsi manfaat yang tepat") dan lebih memperhatikan kepentingan pribadi manajer (self-interest). Namun, PAT memiliki batasan dalam konteks yang lebih luas. Beberapa kritik utama adalah sebagai berikut:
A.Terlalu Terfokus pada Oportunisme
PAT cenderung untuk mengabaikan elemen efisiensi (manajer seharusnya memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan nilai perusahaan bagi seluruh pemegang saham) dan hanya menekankan oportunisme (kepentingan pribadi).
B.Batasan pada Standar Globa
Dengan adanya standar global yang ketat (IFRS), ruang gerak manajer untuk bertindak (fleksibilitas akuntansi) menjadi semakin sempit, sehingga beberapa prediksi dari PAT menjadi kurang relevan.
C.Bersifat Setelah Kejadian
PAT hanya menjelaskan alasan di balik suatu keputusan setelah keputusan tersebut diambil, dan bukan memberi pedoman tentang bagaimana seharusnya manajer bertindak (normatif).

TA C2025 -> ACTIVITYl RESUME

Adinda Putri Zahra གིས-
Nama: Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083
Kelas: 2024C
Jurnal 1: “Perbandingan Pendekatan Teori Normatif dan Positif dalam Kebijakan Akuntansi pada PT Astra International Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk di Indonesia”
Jurnal ini membahas perbandingan antara penerapan teori normatif dan teori positif dalam kebijakan akuntansi dua perusahaan besar di Indonesia, yaitu PT Astra International Tbk yang bergerak di sektor manufaktur dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk di sektor teknologi. PT Astra lebih cenderung mengikuti teori normatif yang mengutamakan kepatuhan pada standar akuntansi, keterbukaan dalam laporan keuangan, serta legitimasi sosial. Hal ini dipicu oleh karakteristik sektor manufaktur yang memerlukan modal besar, memiliki risiko tinggi terhadap lingkungan, dan berada di bawah pengawasan ketat dari pihak regulator.
Di sisi lain, PT Telkom Indonesia lebih menerapkan teori positif, yang memberikan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif. Kebijakan akuntansi di perusahaan ini disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, perkembangan teknologi, dan kepentingan manajerial untuk mencapai sasaran di pasar modal. Karakter sektor teknologi yang sangat dinamis, kompetitif, dan berbasis aset tidak berwujud memberikan kebebasan lebih dalam pengelolaan laporan keuangan dan pengambilan keputusan strategis.

Jurnal 2: "Positive Accounting Theory: Theoretical Perspectives on Accounting Policy Choice" (Tinjauan Literatur tentang Positive Accounting Theory/PAT)
Jurnal ini merupakan kajian literatur yang mengeksplorasi Teori Akuntansi Positif (PAT) sebagai pendekatan positif dalam bidang akuntansi, yang bertujuan untuk menguraikan dan meramalkan praktik akuntansi yang ada berdasarkan asumsi kepentingan pribadi dari manajemen. PAT muncul sebagai jawaban atas kekurangan teori akuntansi normatif, yang dianggap terlalu sederhana, tidak berbasis bukti, dan lebih fokus pada kesejahteraan investor individu dibandingkan masyarakat secara keseluruhan. PAT memberikan penekanan lebih pada penelitian berbasis bukti untuk meramalkan kebijakan akuntansi yang dipilih, seperti cara penghitung depresiasi atau pengakuan pendapatan, yang dipengaruhi oleh faktor seperti kontrak bonus (hipotesis bonus), utang (hipotesis utang), dan ukuran perusahaan (hipotesis politik). Inti dari teori ini adalah bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan kepuasan pribadi, seperti meningkatkan bonus atau menekan biaya utang, dengan implikasi teori yang mendukung analisis perilaku akuntansi dalam konteks organisasi. Jurnal ini tidak menyajikan pengamatan empiris yang baru, melainkan menyusun pandangan historis dan hipotesis PAT untuk menjadi panduan riset di masa yang akan datang.

Kedua jurnal ini menekankan bahwa kebijakan berkenaan akuntansi tidak hanya dipengaruhi oleh norma, melainkan juga oleh elemen perilaku dan ekonomi dari manajemen. Pentingnya keseimbangan antara pendekatan normatif dan positif diperlukan agar kebijakan akuntansi mampu menunjukkan transparansi dan relevansi strategis dalam praktik bisnis masa kini.