Kiriman dibuat oleh Triya Nadilla 2413046007

MCR 4A -> Tugas Diskusi -> Tugas Diskusi -> Re: Tugas Diskusi

oleh Triya Nadilla 2413046007 -
Nama: Triya Nadilla
Npm: 2413046007
Kelas: 4A

1.Pembukaan dengan Dialog
“Kenapa kamu kembali ke rumah ini?” suara itu terdengar pelan, hampir seperti bisikan dari balik pintu yang sudah lama tak dibuka. dava terdiam, tangannya masih menggantung di gagang pintu berdebu, seolah ragu antara masuk atau pergi. Ia tidak pernah menyangka akan berdiri lagi di ambang rumah masa kecilnya setelah sepuluh tahun menghilang tanpa kabar. Bau kayu lapuk dan kenangan yang tertinggal seketika menyergapnya. Di dalam, sesuatu berderit pelan, seperti ada yang menunggu. “Aku tidak punya pilihan,” jawabnya akhirnya, meski ia sendiri tidak yakin kepada siapa ia berbicara. Dan saat pintu itu terbuka perlahan, dava sadar bahwa kepulangannya mungkin adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

2.Pembukaan dengan Pertanyaan
Pernahkah kamu merasa seolah-olah seseorang mengingatmu, padahal kamu yakin belum pernah bertemu dengannya? Itulah yang dirasakan cantika setiap kali ia melewati halte tua di ujung kota. Setiap sore, di bangku paling pojok, selalu ada seorang pria yang menatapnya dengan senyum samar, seolah menyimpan rahasia yang hanya mereka berdua pahami. Anehnya, tidak ada satu pun penumpang lain yang tampak menyadari keberadaan pria itu. cantika mencoba mengabaikannya, tetapi rasa penasaran perlahan berubah menjadi kegelisahan. Siapa sebenarnya pria itu, dan mengapa tatapannya terasa begitu akrab sekaligus menakutkan? Pada hari ketujuh, cantika memutuskan untuk duduk di sampingnya, keputusan yang segera ia sesali.

3.Pembukaan dengan Aksi/Adegan
Langit masih gelap ketika vania berlari menembus hujan, napasnya tersengal dan sepatu sekolahnya basah oleh genangan air. Ia tidak peduli pada petir yang sesekali menyambar, atau jalanan licin yang bisa membuatnya jatuh kapan saja. Di tangannya, ia menggenggam sebuah amplop cokelat yang harus sampai sebelum matahari terbit. Suara sirene di kejauhan membuat langkahnya semakin cepat, seolah waktu sedang mengejarnya. Ia menoleh sekali, memastikan tidak ada yang mengikuti, tetapi bayangan di tikungan tadi masih terbayang jelas di benaknya. Jika ia terlambat, semuanya akan berakhir. bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk seseorang yang ia cintai. vania mempercepat larinya, tanpa tahu apakah ia sedang menuju keselamatan atau justru bahaya yang lebih besar.

SB4A -> Tugas Diskusi -> Tugas Diskusi -> Re: Tugas Diskusi

oleh Triya Nadilla 2413046007 -
Nama: Triya Nadilla
Npm: 2413046007
Kelas: 4A

1.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah pendekatan interdisipliner dalam sastra bandingan, yang membandingkan karya sastra (puisi Sapardi Djoko Damono) dengan karya seni rupa (lukisan Vincent van Gogh) melalui elemen deskripsi alam. Pendekatan ini melibatkan integrasi metode, teori, dan perspektif dari sastra serta seni visual untuk analisis holistik.

2. Pendekatan ini relevan karena memungkinkan pemahaman mendalam tentang hubungan deskripsi alam dalam puisi (temporal, bahasa) dengan visualisasi lukisan (spasial, warna/bentuk), mengungkap paralel estetika seperti ut pictura poesis. Ia memperkaya analisis dengan perspektif lintas media, menghindari batasan disiplin tunggal, dan mendukung kajian kontemporer seperti intermedialitas yang menyoroti dialog antar-seni. Dalam konteks Sapardi dan van Gogh, ini ideal untuk membandingkan representasi alam sebagai ekspresi emosional dan budaya.
Nama: Triya Nadilla
Npm: 2413046007
Kelas: 4A

1.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah pendekatan interdisipliner dalam sastra bandingan, yang membandingkan karya sastra (puisi Sapardi Djoko Damono) dengan karya seni rupa (lukisan Vincent van Gogh) melalui elemen deskripsi alam. Pendekatan ini melibatkan integrasi metode, teori, dan perspektif dari sastra serta seni visual untuk analisis holistik.

2. Pendekatan ini relevan karena memungkinkan pemahaman mendalam tentang hubungan deskripsi alam dalam puisi (temporal, bahasa) dengan visualisasi lukisan (spasial, warna/bentuk), mengungkap paralel estetika seperti ut pictura poesis. Ia memperkaya analisis dengan perspektif lintas media, menghindari batasan disiplin tunggal, dan mendukung kajian kontemporer seperti intermedialitas yang menyoroti dialog antar-seni. Dalam konteks Sapardi dan van Gogh, ini ideal untuk membandingkan representasi alam sebagai ekspresi emosional dan budaya.

ANAWA4A -> Tugas Diskusi -> Tugas Diskusi -> Re: Tugas Diskusi

oleh Triya Nadilla 2413046007 -
Nama: Triya Nadilla
Npm: 2413046007
Kelas: 4A

1.Jelskan pengertian dan contoh kohesi dalam wacana.
jawaban: Kohesi tercipta melalui hubungan formal antarposisi, seperti substitusi, elipsis, atau konjungsi, yang membuat wacana terasa padu secara struktural. Menurut Halliday dan Hasan, kohesi gramatikal meliputi referensi (misalnya pronomina) dan leksikal meliputi sinonim atau kolokasi. contohnya, “Saya lapar. Maka, saya makan nasi.” (Konjungsi “maka” menyambung kalimat).

2.Jelskan pengertian dan contoh koherensi dalam wacana.
jawaban: Koherensi bersifat semantik, mengandalkan alur logis gagasan agar pembaca memahami hubungan implisit antarfakta tanpa ambigu. Wohl dalam Tarigan menyebutnya sebagai pengaturan rapi ide menjadi untaian logis. contohnya, “Wajah pekarangan rumah di desa kami berubah menjadi warung hidup. Di perkarangan itu ditanam bayam, tomat, cabai, singkong.” (Gagasan berubahnya fungsi lahan tersirat secara logis).

3.Identifikasi piranti kohesi yang terdapat dalam paragraf tersebut.
jawaban: Piranti kohesi dalam paragraf tersebut adalah konjungsi “sehingga” (kalimat 2, menunjukkan sebab-akibat) dan “namun” (kalimat 4, menunjukkan kontras). Kata “jalanan” dan “jalan lain” juga membentuk kohesi leksikal melalui hiponimi (kata turunan). Kata “air” merujuk anaphora ke “hujan” pada kalimat sebelumnya.

4.Jelaskan hubungan koherensi antar kalimat dalam paragraf tersebut.
jawaban: Kalimat 1 (hujan deras) menjadi penyebab utama, kalimat 2 (genangan air dan macet) menyusul sebagai akibat langsung, kalimat 3 (usaha cari alternatif) sebagai respons logis, dan kalimat 4 (banjir di jalan lain) memperkuat situasi tanpa solusi. Alur ini membentuk koherensi kausal secara implisit, di mana setiap gagasan saling mendukung tema banjir kota.

MCR 4A -> Tugas Individu -> Tugas Individu -> Re: Tugas Individu

oleh Triya Nadilla 2413046007 -
Nama: Triya Nadilla

Npm: 2413046007

materi yang saya pahami setelah berdiskusi adalah, Kegiatan menulis memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa karena melalui proses menulis seseorang dilatih untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyusun gagasan secara logis serta sistematis. Selain itu, kemampuan menulis juga menjadi indikator utama dalam penguasaan bahasa karena mencerminkan ketepatan penggunaan kosakata, tata bahasa, serta kemampuan menyampaikan ide secara jelas dan terstruktur. Dengan demikian, menulis tidak hanya melatih keterampilan berbahasa, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir secara kritis dan reflektif.