Posts made by Eldian Novasari

Nama : Eldian Novasari
Npm : 2413046075
Kelas : 5A

1. Menurut saya, yang lebih sulit adalah memutuskan apakah suatu bagian dalam naskah memang perlu diperbaiki. Menemukan kesalahan biasanya dapat dilakukan dengan melihat aturan bahasa, seperti ejaan atau tata kalimat. Namun, tidak semua bagian yang berbeda dari aturan berarti salah. Penyunting harus melihat konteks, tujuan tulisan, dan maksud penulis terlebih dahulu. Menurut saya, penyunting harus berhati-hati agar perbaikan yang dilakukan tidak justru mengubah makna atau ciri khas dari tulisan tersebut.

2. Seorang penyunting buku cerita berbahasa Lampung harus memiliki kemampuan bahasa sekaligus pengetahuan tentang budaya Lampung karena bahasa dan budaya saling berkaitan. Penyunting perlu memahami arti kata, ungkapan, maupun cara berbahasa yang digunakan dalam cerita. Selain itu, pengetahuan budaya penting agar penyunting tidak salah memahami adat, kebiasaan, sapaan, atau nilai-nilai masyarakat Lampung. Dengan begitu, penyunting dapat memperbaiki kesalahan bahasa tanpa menghilangkan identitas dan nilai budaya yang terdapat dalam cerita.

3. Sebelumnya saya berpikir bahwa pekerjaan penyunting hanya mencari kesalahan dan memperbaiki tulisan. Setelah mengikuti kegiatan hari ini, pemahaman saya berubah karena ternyata pekerjaan penyunting membutuhkan ketelitian dan pertimbangan yang lebih luas. Penyunting juga harus memahami tujuan tulisan, karakter pembaca, maksud penulis, serta latar belakang budaya dalam sebuah naskah. Jadi, menurut saya, penyunting bukan hanya memperbaiki tulisan, tetapi juga memastikan agar pesan penulis dapat tersampaikan dengan baik tanpa kehilangan makna aslinya.

MCR 4A -> Tugas Diskusi -> Tugas Diskusi -> Re: Tugas Diskusi

by Eldian Novasari -
Nama : Eldian Novasari
Npm : 2413046075
Kelas : 4A
Prodi : pendidikan Bahasa Lampung
MK : Menulis Cerita Rekaan


1. Pembuka dengan dialog
“Aku tidak mencuri apa pun, Bu. Sumpah.” Suara Raka bergetar, tapi matanya justru menantang. Ibu itu menghela napas panjang, seolah sudah mendengar kalimat yang sama ratusan kali dari orang yang berbeda. “Kalau begitu, kenapa gelang itu ada di tasmu?” tanyanya pelan, namun tajam seperti ujung pisau. Raka terdiam, tangannya mengepal di samping tubuhnya. Ruangan itu tiba-tiba terasa sempit, penuh dengan tatapan yang menuduh. Di luar, hujan turun deras, seakan ikut menekan suasana. Dan di saat itulah, Raka sadar bahwa satu keputusan kecil semalam telah menyeretnya ke masalah yang jauh lebih besar.

2. Pembuka dengan pertanyaan Pernahkah kamu merasa hidupmu tiba-tiba berubah hanya karena satu pesan singkat? Itulah yang terjadi pada Lila pagi itu, ketika notifikasi di ponselnya berbunyi saat ia sedang menyisir rambut. Pesan itu hanya terdiri dari tiga kata, tetapi cukup untuk membuat jantungnya berdebar tidak menentu. Ia membaca ulang berkali-kali, berharap maknanya berubah, namun tetap sama. Di luar jendela, matahari bersinar seperti hari biasa, seolah tidak peduli dengan kekacauan yang mulai tumbuh di pikirannya. Lila menelan ludah dan duduk di tepi tempat tidur, mencoba memahami apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Karena ia tahu, jawaban atas pesan itu akan menentukan arah hidupnya ke depan.


3. Pembuka dengan aksi atau adegan
Ardi berlari sekuat tenaga menyusuri gang sempit yang gelap, napasnya tersengal dan langkahnya hampir tersandung batu. Di belakangnya, suara langkah kaki lain terdengar semakin mendekat, berat dan terburu-buru. Ia menoleh sekilas, cukup untuk memastikan bahwa ia memang sedang dikejar. Keringat membasahi dahinya, bercampur dengan debu yang beterbangan di udara malam. Tanpa pikir panjang, ia berbelok tajam ke arah gang kecil yang bahkan belum pernah ia lewati sebelumnya. Lampu-lampu redup membuat bayangannya terlihat seperti sosok asing yang ikut mengejar. Dalam kepanikan itu, Ardi hanya tahu satu hal—ia tidak boleh berhenti, apa pun yang terjadi.

SB4A -> Tugas Diskusi -> Tugas Diskusi -> Re: Tugas Diskusi

by Eldian Novasari -
Nama : Eldian Novasari
Npm : 2413046075
Kelas : 4A
Prodi : Pendidikan Bahasa Lampung

Dalam kajian sastra bandingan, penelitian tersebut menggunakan pendekatan interdisipliner, yaitu pendekatan yang menggabungkan dua bidang ilmu yang berbeda, dalam hal ini sastra dan seni rupa. Peneliti membandingkan puisi karya Sapardi Djoko Damono dengan lukisan Vincent van Gogh untuk melihat bagaimana alam digambarkan dalam dua bentuk karya seni yang berbeda. Pada puisi, alam biasanya dihadirkan melalui kata-kata, imaji, dan perasaan yang dibangun oleh penyair. Sementara itu, dalam lukisan, alam divisualisasikan melalui warna, garis, dan bentuk yang diciptakan oleh pelukis.

Pendekatan interdisipliner dianggap relevan karena karya sastra dan karya seni rupa sama-sama merupakan bentuk ekspresi artistik yang sering mengangkat tema yang serupa, misalnya alam, kehidupan, atau perasaan manusia. Dengan membandingkan keduanya, peneliti dapat melihat bagaimana satu tema yang sama dapat ditampilkan melalui media yang berbeda. Misalnya, Sapardi Djoko Damono menggambarkan suasana alam dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh makna, sedangkan Vincent van Gogh menampilkan keindahan alam melalui warna-warna yang kuat dan ekspresif dalam lukisannya.

Melalui pendekatan ini, peneliti tidak hanya memahami makna yang terkandung dalam puisi atau lukisan secara terpisah, tetapi juga dapat melihat hubungan, persamaan, dan perbedaan cara kedua seniman tersebut memandang dan mengekspresikan alam. Oleh karena itu, pendekatan interdisipliner sangat tepat digunakan untuk mengkaji hubungan antara karya sastra dan seni lukis dalam kajian sastra bandingan.

ANAWA4A -> Tugas Diskusi -> Tugas Diskusi -> Re: Tugas Diskusi

by Eldian Novasari -
Nama : Eldian Novasari
Npm : 2413046075
Kelas : 4A
Prodi : pendidikan Bahasa Lampung

1. Pengertian dan Contoh Kohesi dalam Wacana

Kohesi adalah hubungan keterkaitan antarunsur bahasa dalam sebuah teks atau wacana yang membuat kalimat-kalimatnya saling terhubung secara bentuk. Kohesi biasanya terlihat dari penggunaan kata hubung, kata ganti, pengulangan kata, atau kata yang merujuk pada hal yang sama sehingga teks terasa padu.

Contohnya:
“Rina membeli buku baru. Buku itu sangat menarik untuk dibaca.”

Pada contoh tersebut terdapat kohesi melalui penggunaan kata ganti “itu” yang merujuk pada “buku” di kalimat sebelumnya.


2. Pengertian dan Contoh Koherensi dalam Wacana

Koherensi adalah hubungan makna atau keterkaitan ide antar kalimat dalam sebuah wacana sehingga isi teks dapat dipahami secara logis dan runtut. Koherensi lebih berkaitan dengan hubungan gagasan daripada bentuk kata.

Contohnya:
“Semalam hujan turun sangat deras. Pagi ini beberapa jalan di kota menjadi tergenang air.”

Kedua kalimat tersebut memiliki hubungan sebab-akibat yang logis, sehingga pembaca dapat memahami bahwa banjir terjadi karena hujan deras.

3. Identifikasi Piranti Kohesi dalam Paragraf

Paragraf:
“Pagi itu hujan turun sangat deras. Jalanan di kota menjadi tergenang air sehingga banyak kendaraan yang terjebak macet. Para pengendara berusaha mencari jalan alternatif. Namun, sebagian jalan lain juga mengalami banjir.”

Piranti kohesi yang terdapat dalam paragraf tersebut antara lain:
• Kata hubung (konjungsi):
• sehingga → menunjukkan hubungan sebab akibat
• namun → menunjukkan pertentangan
• Kohesi leksikal (pengulangan makna):
• Kata jalan, jalanan, dan jalan lain memiliki keterkaitan makna.
• Kata rujukan:
• para pengendara merujuk pada orang-orang yang menggunakan kendaraan pada kalimat sebelumnya.

Piranti-piranti ini membuat setiap kalimat saling terhubung dan tidak berdiri sendiri.


4. Hubungan Koherensi Antar Kalimat dalam Paragraf

Hubungan koherensi dalam paragraf tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
• Kalimat pertama menjelaskan peristiwa awal, yaitu hujan yang turun sangat deras.
• Kalimat kedua menunjukkan akibat dari hujan tersebut, yaitu jalanan menjadi tergenang air dan menyebabkan kemacetan.
• Kalimat ketiga menjelaskan reaksi para pengendara yang mencoba mencari jalan alternatif agar terhindar dari kemacetan.
• Kalimat keempat menunjukkan bahwa usaha tersebut tidak sepenuhnya berhasil karena beberapa jalan lain juga mengalami banjir.

Dengan demikian, paragraf tersebut memiliki alur yang logis: peristiwa (hujan deras) → akibat (jalan tergenang dan macet) → usaha (mencari jalan lain) → hambatan (jalan lain juga banjir).

MCR 4A -> Tugas Individu -> Tugas Individu -> Re: Tugas Individu

by Eldian Novasari -

Nama : Eldian Novasarii

NPM : 2413046075

Kelas : 4A

Menurut saya dari materi yang saya pahami tentang “ Menulis cerita rekaan”  Menulis cerita rekaan merupakan kegiatan yang memiliki banyak manfaat bagi perkembangan seseorang. Cerita rekaan adalah cerita yang dibuat berdasarkan imajinasi penulis, walaupun tidak sepenuhnya terjadi di dunia nyata, tetapi tetap mengandung pesan dan nilai kehidupan. Melalui kegiatan menulis cerita rekaan, seseorang dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya karena ia belajar menciptakan tokoh, menyusun alur, serta menggambarkan latar dan suasana. Proses ini melatih otak untuk berpikir lebih luas dan tidak terpaku pada satu sudut pandang saja.