Kiriman dibuat oleh Maya Lisnawati

AKM B2025 -> Diskusi

oleh Maya Lisnawati -
Maya Lisnawati
2413031043

Pencatatan, penilaian, dan penyajian aset tak berwujud dalam laporan keuangan mengikuti PSAK 19. Aset tak berwujud dicatat ketika memenuhi dua syarat utama, yaitu dapat diidentifikasi dan memberikan manfaat ekonomi di masa depan, serta biaya perolehannya dapat diukur secara andal. Pada saat awal, aset tak berwujud diakui sebesar biaya perolehan seperti biaya pengembangan, lisensi, hak paten, atau perangkat lunak. Setelah pengakuan awal, penilaian dapat menggunakan model biaya (biaya dikurangi akumulasi amortisasi dan rugi penurunan nilai) atau model revaluasijika terdapat pasar aktif yang dapat menunjukkan nilai wajarnya. Dalam penyajiannya, aset tak berwujud disajikan pada bagian aset tidak lancar dalam laporan posisi keuangan, disertai pengungkapan mengenai umur manfaat, metode amortisasi, nilai tercatat, serta penjelasan penurunan nilai jika ada. Amortisasi dilakukan secara sistematis sesuai umur manfaat aset, kecuali untuk aset tak berwujud berumur manfaat tak terbatas yang tidak diamortisasi tetapi diuji penurunan nilainya secara tahunan. Dengan pendekatan ini, laporan keuangan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai nilai dan kontribusi aset tak berwujud terhadap kinerja perusahaan.

AKM B2025 -> Diskusi

oleh Maya Lisnawati -
Maya Lisnawati 
2413031043

Asset tetap adalah aset yang digunakan perusahaan untuk kegiatan operasional, misalnya mesin produksi, kendaraan perusahaan, atau gedung kantor yang dipakai sendiri. Aset ini tidak ditujukan untuk menghasilkan pendapatan sewa, tetapi berfungsi mendukung proses produksi dan aktivitas bisnis sehari-hari. Pencatatannya mengikuti PSAK 16, di mana aset tetap akan disusutkan selama masa manfaatnya.

Properti investasi adalah properti yang dimiliki untuk memperoleh manfaat ekonomi secara langsung, baik berupa pendapatan sewa maupun kenaikan nilai properti dari waktu ke waktu. Properti ini tidak digunakan dalam operasional perusahaan, melainkan sebagai instrumen investasi. Pengaturannya mengacu pada PSAK 13/IAS 40, dan dapat diukur dengan model biaya atau nilai wajar.

Jika diminta memilih, saya akan memilih membeli properti investasi. Alasannya, properti investasi memberikan arus kas langsung melalui pendapatan sewa, memiliki potensi apresiasi nilai yang dapat meningkatkan kekayaan jangka panjang, dan relatif lebih stabil terhadap risiko fluktuasi ekonomi. Selain itu, properti investasi tidak menambah beban operasional seperti aset tetap yang mengalami penyusutan dan memerlukan biaya perawatan untuk mendukung aktivitas produksi. Dengan demikian, properti investasi lebih menguntungkan dari sisi finansial dan potensi pertumbuhan nilai.

AKM B2025 -> Diskusi

oleh Maya Lisnawati -
Nama: Maya Lisnawati
NPM: 2413031043

Selama periode harga meningkat, metode LIFO (Last In, First Out) menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan metode FIFO (First In, First Out). Hal ini karena LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli yang harganya lebih tinggi adalah yang pertama dijual, sehingga biaya pokok penjualan menjadi lebih besar dan laba bersih menurun. Sebaliknya, pada periode harga menurun, LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO, karena barang yang terakhir dibeli memiliki harga yang lebih rendah, sehingga biaya pokok penjualan lebih kecil dan laba bersih meningkat.