གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Resti Gustin

AKM A2025 -> Diskusi

Resti Gustin གིས-
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Nilai waktu dari uang adalah konsep dalam bidang keuangan yang menyatakan bahwa sejumlah uang yang dimiliki saat ini memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah uang yang sama yang diterima di masa depan. Hal ini dikarenakan uang yang ada sekarang bisa diinvestasikan sehingga dapat berkembang nilainya seiring waktu, sedangkan jika uang tersebut diterima di kemudian hari, kesempatan untuk menghasilkan nilai tambahan tersebut hilang.

Ada dua faktor utama yang mempengaruhi nilai waktu dari uang. Pertama, opportunity cost, yaitu biaya kesempatan yang hilang jika seseorang memilih menerima uang di masa depan dan kehilangan kesempatan berinvestasi sekarang. Kedua, inflasi yang menyebabkan nilai uang akan menurun dari waktu ke waktu, sehingga 1 juta rupiah sekarang akan membeli lebih banyak barang dibandingkan dengan 1 juta rupiah di masa depan.

Selain itu, konsep nilai waktu dari uang juga berkaitan dengan dua istilah penting yakni nilai sekarang (present value) dan nilai masa depan (future value). Nilai sekarang adalah nilai saat ini dari sejumlah uang yang akan diterima di masa depan setelah didiskontokan dengan tingkat bunga tertentu. Sedangkan nilai masa depan adalah jumlah uang yang akan diterima di masa depan sebagai hasil investasi dari uang yang dimiliki saat ini.

TA2025 -> DISKUSI

Resti Gustin གིས-
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Pendapat saya setelah menyimak video ACCA Financial Reporting (FR) dari OpenTuition tentang kerangka pengukuran dalam pelaporan keuanganya:
Video tersebut memberikan penjelasan mendalam dan sistematis mengenai pengukuran aset dan kewajiban dalam laporan keuangan berdasarkan kerangka konseptual IFRS. Fokus utama adalah bagaimana menentukan nilai yang tepat untuk aset dan liabilitas agar laporan keuangan dapat menyajikan informasi kuantitatif yang relevan dan dapat dipercaya.

Beberapa poin penting yang dijelaskan di dalamnya:
- Pengukuran harus mengikuti kriteria fundamental dalam kerangka konseptual yaitu relevansi dan faithful representation (representasi yang andal dan lengkap).Angka yang dipilih tidak bisa sembarang, melainkan harus berlandaskan metode pengukuran yang tepat.
Ada beberapa basis pengukuran utama yang dibahas, seperti:
- Historical cost (biaya historis) yaitu nilai perolehan awal aset atau kewajiban dikurangi depresiasi.
- Fair value (nilai wajar) yang didasarkan pada harga pasar saat ini, sesuai IFRS 13 yang secara khusus mengatur pengukuran nilai wajar. Contohnya nilai wajar bisa lebih tinggi atau lebih rendah dibanding biaya historis.
- Current cost (biaya penggantian saat ini) yang menunjukkan berapa biaya untuk membeli aset yang sama pada saat kini, cocok untuk aset khusus yang pasar aktifnya terbatas.
- Value in use(nilai guna) yaitu nilai kini arus kas masa depan dari penggunaan aset tersebut, memperhitungkan manfaat ekonomi yang diharapkan.

Video tersebut juga membahas bagaimana pengukuran ini secara praktis terlihat di laporan keuangan dan bagaimana perbedaan basis pengukuran akan berdampak pada nilai yang dilaporkan.Materi sangat berguna bagi mahasiswa akuntansi dan praktisi karena menyajikan konsep yang kompleks dengan contoh konkret dan bahasa yang mudah dimengerti. Penjelasan yang rinci tentang pentingnya pilihan basis pengukuran serta kaitannya dengan standar IFRS memberikan pemahaman kuat dalam menerapkan pengukuran yang tepat dalam pelaporan keuangan. Selain itu, isi Video tersebut juga dapat menjadi sumber pembelajaran penting bagi persiapan ujian ACCA FR karena disusun secara sistematis mengikuti silabus materi.

TA2025 -> CASE STUDY

Resti Gustin གིས-
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

1. Dua Basis Pengukuran yang Relevan dalam Kasus Ini

Dalam menghitung nilai aset tetap seperti mesin produksi PT Surya Terang, menurut PSAK 16 terdapat dua model pengukuran yang dapat digunakan setelah pengakuan awal, yaitu model biaya historis dan model revaluasi.

-Model biaya historis adalah pendekatan yang umum digunakan di mana aset dicatat pada harga perolehan awalnya yang sudah dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai jika ada. Kelebihan dari metode ini adalah bahwa nilainya didasarkan pada biaya yang sebenarnya dikeluarkan perusahaan, sehingga lebih dapat diandalkan dan konsisten dari waktu ke waktu. Metode ini juga mudah diadministrasikan dan diaudit karena berdasarkan data transaksi aktual. Namun, kekurangannya adalah nilai tercatat aset tidak mencerminkan nilai pasar yang berlaku saat ini. Dalam kasus PT Surya Terang, nilai tercatat mesin masih Rp600 juta, padahal nilai pasarnya hanya Rp400 juta akibat pergeseran teknologi. Hal ini menjadikan laporan keuangan kurang informatif dan kurang relevan karena tidak menunjukkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
-Sebaliknya, model revaluasi mengukur aset tetap berdasarkan nilai wajarnya yang dapat diukur secara andal setiap kali dilakukan revaluasi. Dengan pendekatan ini, nilai tercatat aset disesuaikan dengan nilai pasar saat revaluasi dilakukan, sehingga laporan keuangan menjadi lebih relevan dan menunjukkan nilai aset yang aktual. Namun, model ini juga memiliki kelemahan, seperti kebutuhan penilaian berkala, biaya penilaian yang bisa mahal, dan fluktuasi nilai aset yang dapat menyebabkan volatilitas laba rugi ketika terjadi penurunan nilai yang harus diakui secara langsung. Selain itu, penilaian nilai wajar terkadang mengandung unsur subjektivitas, terutama bila pasar tidak aktif.

Dalam konteks PT Surya Terang, model revaluasi dapat memberikan gambaran yang lebih tepat tentang nilai aset yang sesungguhnya, terutama karena ada perubahan teknologi yang menyebabkan penurunan pasar mesin secara drastis.

2. Implikasi Akuntansi Model Revaluasi terhadap Laporan Keuangan

Apabila PT Surya Terang memutuskan menggunakan model revaluasi, maka nilai mesin akan disesuaikan menjadi nilai wajar terbaru sebesar Rp400.000.000 dikurangi akumulasi penyusutan setelah revaluasi. Jika nilai tercatat sebelumnya adalah Rp600.000.000, maka terdapat penurunan sebesar Rp200.000.000. Penurunan nilai ini akan diakui dalam laporan keuangan sebagai berikut: jika perusahaan sebelumnya memiliki surplus revaluasi atas aset tersebut di ekuitas, maka penurunan nilai aset akan mengurangi surplus tersebut. Namun, jika penurunan nilai tersebut melebihi saldo surplus revaluasi, kelebihan penurunan nilai harus diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi.
Hal ini dapat berdampak pada penurunan laba periode berjalan. Dalam laporan posisi keuangan, aset tetap akan muncul dengan nilai tercatat yang lebih mendekati nilai pasar saat ini, sehingga neraca akan lebih realistis dan relevan menggambarkan kondisi ekonomi perusahaan.
Namun, di sisi laporan laba rugi, beban penyusutan juga mungkin mengalami perubahan mengikuti nilai aset yang baru, dan ada kemungkinan munculnya beban penurunan nilai yang dapat menimbulkan fluktuasi profitabilitas perusahaan. Selain itu, perusahaan wajib mengungkapkan secara rinci dalam catatan atas laporan keuangan: dasar revaluasi, frekuensi revaluasi, serta dampak revaluasi terhadap laporan keuangan.

3. Apakah Nilai Wajar Lebih Memenuhi Karakteristik Kualitatif Relevansi dan Keandalan Dibandingkan Biaya Historis?

Nilai wajar dalam pengukuran aset tetap selama aset tersebut dapat diukur secara andal memang lebih memenuhi karakteristik kualitatif relevansi karena memberikan informasi yang lebih tepat waktu dan mencerminkan nilai ekonomi sekarang. Pengguna laporan keuangan mendapatkan gambaran yang akurat mengenai nilai aset yang sebenarnya dan risiko yang menyertainya, sehingga dapat membuat keputusan ekonomi yang lebih baik. Namun, dari sisi keandalan, biaya historis cenderung lebih unggul karena didasarkan pada data pengukuran riil (transaksi pembelian), bebas dari subjektivitas dan lebih mudah diverifikasi. Sebaliknya, nilai wajar memerlukan estimasi dan asumsi yang kadang kurang objektif, terutama jika pasar tidak aktif atau data tidak tersedia secara umum.
Dalam kasus PT Surya Terang, yang mengalami penurunan nilai aset karena munculnya teknologi baru, penggunaan nilai wajar jelas lebih relevan dan menggambarkan kondisi ekonomi saat ini, meskipun harus diimbangi dengan upaya memastikan keandalan penilaian melalui metode penilaian yang tepat dan pengungkapan yang memadai agar informasi tetap dapat dipercaya.

Kesimpulannya, model revaluasi menggunakan nilai wajar dapat meningkatkan relevansi informasi dalam laporan keuangan PT Surya Terang, namun membutuhkan kehati-hatian agar keandalan tetap terjaga serta memenuhi persyaratan PSAK.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

Resti Gustin གིས-
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

jurnal "The Role of Measurement Theory in Supporting the Objectives of the Financial Statements" oleh Saratiel Weszerai Musvoto.
Jurnal tersebut menyoroti ketidaksesuaian antara tujuan laporan keuangan dengan prinsip-prinsip pengukuran dalam ilmu sosial, khususnya teori representasi pengukuran. Meskipun akuntansi kerap dianggap sebagai disiplin pengukuran yang sempurna, dalam praktik tata kelola keuangan belum terdapat teori pengukuran yang mapan dan terintegrasi dengan tujuan pengukuran laporan keuangan. Hal ini menimbulkan keraguan apakah laporan keuangan benar-benar mengandung informasi pengukuran yang valid.

Teori pengukuran adalah prasyarat penting agar proses pengukuran memiliki tujuan yang jelas, standar pembanding, dan satuan ukuran yang konsisten. Dalam akuntansi, definisi pengukuran sering kali hanya terbatas pada penugasan nilai moneter terhadap objek akuntansi tanpa kejelasan objek yang diukur dan skala ukuran yang digunakan. Akibatnya, konsep nilai dan biaya dalam akuntansi masih ambigu dan sulit diukur secara objektif.

Jurnal juga menganalisis berbagai tujuan laporan keuangan, seperti menyediakan informasi yang dapat membantu pengambilan keputusan ekonomi dan penilaian manajemen, yang menurut teori pengukuran harus kompatibel dengan teori pengukuran yang memadai. Namun, banyak tujuan tersebut tidak sesuai dengan prinsip representasional pengukuran karena bersifat subjektif, bergantung pada asumsi, estimasi, dan sulit diverifikasi secara empiris.

Kesimpulannya, akuntansi perlu mengevaluasi ulang peran teori pengukuran dalam penyusunan laporan keuangan agar tujuan pengukuran sesuai dengan standar ilmiah, menghasilkan laporan yang lebih akurat dan dapat dipercaya.