Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022
Pendapat tentang Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Berdasarkan dua jurnal yang Anda berikan, aspek perilaku dalam akuntansi menunjukkan bahwa akuntansi bukan hanya sekadar sistem pencatatan dan pelaporan angka-angka, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sikap, motivasi, persepsi, emosi, pola pikir, budaya organisasi, dan bias kognitif manusia. Jurnal oleh Muhammad Daham Sabbar menunjukkan bahwa keputusan dalam penggunaan sistem akuntansi dan pengambilan keputusan keuangan sering dipengaruhi oleh faktor perilaku seperti heuristik, bias kognitif (misalnya overconfidence atau framing), serta dinamika organisasi yang dapat mengubah cara informasi akuntansi ditafsirkan dan digunakan dalam praktik sehari‑hari. Hal ini berarti bahwa tidak semua keputusan akuntansi bersifat rasional seperti yang diasumsikan teori klasik, melainkan dipengaruhi oleh proses berpikir manusia yang kompleks dan kontekstual. 
Sementara itu, jurnal tentang behavioral accounting yang menghubungkan akuntansi dengan psikologi dan sosiologi menunjukkan bahwa sikap, persepsi, motivasi, kepribadian, dan faktor sosial seperti interaksi kelompok dan kepercayaan memainkan peranan penting dalam bagaimana akuntan dan pemangku kepentingan lain memahami, menggunakan, dan merespon informasi akuntansi. Perilaku ini kemudian dapat memengaruhi efektivitas sistem akuntansi, hubungan antar individu dalam organisasi, dan bahkan keputusan strategis perusahaan. 
Urgensi Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi sangat tinggi karena perilaku manusia dapat menentukan seberapa efektif informasi akuntansi digunakan untuk pengambilan keputusan. Tanpa memahami bagaimana manusia memproses informasi, mempercayai data, atau bereaksi terhadap sistem pengendalian, perusahaan berisiko membuat keputusan yang bias atau tidak optimal. Misalnya, bias kognitif seperti confirmation bias dapat menyebabkan manajer cenderung memilih data yang mendukung keputusan awal mereka, bukan data yang paling objektif, sehingga laporan atau proyeksi keuangan menjadi kurang akurat. Penerapan behavioral accounting membantu mengidentifikasi dan mengatasi faktor‑faktor ini, serta merancang sistem yang lebih adaptif terhadap karakter manusia. 
Proses Standard‑Setting & Ekonomi Politik
Dalam konteks standard‑setting (penetapan standar akuntansi) dan ekonomi politik, aspek perilaku sangat relevan karena standar tidak ditetapkan dalam ruang hampa; mereka dipengaruhi oleh kelompok kepentingan, negosiasi antara regulator, praktisi, industri, dan pemangku kepentingan lain yang masing‑masing memiliki motivasi dan tekanan sosial maupun politik. Di sini, behavioral accounting dapat membantu memahami bagaimana nilai, persepsi risiko, dan preferensi kelompok memengaruhi proses perumusan standar. Misalnya, dalam negosiasi IFRS atau PSAK, entitas bisnis besar dapat mendorong aturan yang memberikan fleksibilitas lebih besar karena kepentingan ekonomi mereka, sementara kelompok lain mungkin menuntut transparansi dan proteksi investor. Dalam ekonomi politik akuntansi, teori akuntansi positif (yang erat kaitannya dengan perilaku manajerial) menunjukkan bahwa kebijakan akuntansi yang dipilih cenderung dipengaruhi oleh insentif ekonomi, tekanan regulatif, dan kekuasaan institusional, bukan semata‑mata oleh pertimbangan rasional normatif.
Secara praktis, standard‑setting melibatkan evaluasi konsekuensi perilaku dari suatu aturan misalnya, bagaimana pelaporan baru mempengaruhi motivasi manajer atau perilaku pelapor dan pengguna laporan. Efek‑efek ini kemudian perlu dipertimbangkan agar standar yang ditetapkan tidak hanya teoritis ideal, tetapi juga praktis dapat diikuti dan tidak menciptakan resistensi atau manipulasi. Ekonomi politik di baliknya berarti keputusan standar sering kali merupakan hasil kompromi antara kekuatan ekonomi dan politik; kelompok industri yang lebih kuat dapat mempengaruhi hasil akhir melalui lobi, sedangkan tekanan publik atau lembaga regulasi mencoba menyeimbangkan kepentingan tersebut dengan perlindungan investor dan transparansi pasar.
Secara keseluruhan, memahami aspek perilaku dalam akuntansi penting tidak hanya untuk interpretasi data dalam praktik organisasi, tetapi juga untuk memahami bagaimana standar dibentuk dan diterapkan dalam konteks sosial‑politikal yang kompleks memberikan wawasan bahwa akuntansi merupakan fenomena sosial dan ekonomi, bukan sekadar teknik pencatatan.
NPM: 2413031022
Pendapat tentang Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Berdasarkan dua jurnal yang Anda berikan, aspek perilaku dalam akuntansi menunjukkan bahwa akuntansi bukan hanya sekadar sistem pencatatan dan pelaporan angka-angka, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sikap, motivasi, persepsi, emosi, pola pikir, budaya organisasi, dan bias kognitif manusia. Jurnal oleh Muhammad Daham Sabbar menunjukkan bahwa keputusan dalam penggunaan sistem akuntansi dan pengambilan keputusan keuangan sering dipengaruhi oleh faktor perilaku seperti heuristik, bias kognitif (misalnya overconfidence atau framing), serta dinamika organisasi yang dapat mengubah cara informasi akuntansi ditafsirkan dan digunakan dalam praktik sehari‑hari. Hal ini berarti bahwa tidak semua keputusan akuntansi bersifat rasional seperti yang diasumsikan teori klasik, melainkan dipengaruhi oleh proses berpikir manusia yang kompleks dan kontekstual. 
Sementara itu, jurnal tentang behavioral accounting yang menghubungkan akuntansi dengan psikologi dan sosiologi menunjukkan bahwa sikap, persepsi, motivasi, kepribadian, dan faktor sosial seperti interaksi kelompok dan kepercayaan memainkan peranan penting dalam bagaimana akuntan dan pemangku kepentingan lain memahami, menggunakan, dan merespon informasi akuntansi. Perilaku ini kemudian dapat memengaruhi efektivitas sistem akuntansi, hubungan antar individu dalam organisasi, dan bahkan keputusan strategis perusahaan. 
Urgensi Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi sangat tinggi karena perilaku manusia dapat menentukan seberapa efektif informasi akuntansi digunakan untuk pengambilan keputusan. Tanpa memahami bagaimana manusia memproses informasi, mempercayai data, atau bereaksi terhadap sistem pengendalian, perusahaan berisiko membuat keputusan yang bias atau tidak optimal. Misalnya, bias kognitif seperti confirmation bias dapat menyebabkan manajer cenderung memilih data yang mendukung keputusan awal mereka, bukan data yang paling objektif, sehingga laporan atau proyeksi keuangan menjadi kurang akurat. Penerapan behavioral accounting membantu mengidentifikasi dan mengatasi faktor‑faktor ini, serta merancang sistem yang lebih adaptif terhadap karakter manusia. 
Proses Standard‑Setting & Ekonomi Politik
Dalam konteks standard‑setting (penetapan standar akuntansi) dan ekonomi politik, aspek perilaku sangat relevan karena standar tidak ditetapkan dalam ruang hampa; mereka dipengaruhi oleh kelompok kepentingan, negosiasi antara regulator, praktisi, industri, dan pemangku kepentingan lain yang masing‑masing memiliki motivasi dan tekanan sosial maupun politik. Di sini, behavioral accounting dapat membantu memahami bagaimana nilai, persepsi risiko, dan preferensi kelompok memengaruhi proses perumusan standar. Misalnya, dalam negosiasi IFRS atau PSAK, entitas bisnis besar dapat mendorong aturan yang memberikan fleksibilitas lebih besar karena kepentingan ekonomi mereka, sementara kelompok lain mungkin menuntut transparansi dan proteksi investor. Dalam ekonomi politik akuntansi, teori akuntansi positif (yang erat kaitannya dengan perilaku manajerial) menunjukkan bahwa kebijakan akuntansi yang dipilih cenderung dipengaruhi oleh insentif ekonomi, tekanan regulatif, dan kekuasaan institusional, bukan semata‑mata oleh pertimbangan rasional normatif.
Secara praktis, standard‑setting melibatkan evaluasi konsekuensi perilaku dari suatu aturan misalnya, bagaimana pelaporan baru mempengaruhi motivasi manajer atau perilaku pelapor dan pengguna laporan. Efek‑efek ini kemudian perlu dipertimbangkan agar standar yang ditetapkan tidak hanya teoritis ideal, tetapi juga praktis dapat diikuti dan tidak menciptakan resistensi atau manipulasi. Ekonomi politik di baliknya berarti keputusan standar sering kali merupakan hasil kompromi antara kekuatan ekonomi dan politik; kelompok industri yang lebih kuat dapat mempengaruhi hasil akhir melalui lobi, sedangkan tekanan publik atau lembaga regulasi mencoba menyeimbangkan kepentingan tersebut dengan perlindungan investor dan transparansi pasar.
Secara keseluruhan, memahami aspek perilaku dalam akuntansi penting tidak hanya untuk interpretasi data dalam praktik organisasi, tetapi juga untuk memahami bagaimana standar dibentuk dan diterapkan dalam konteks sosial‑politikal yang kompleks memberikan wawasan bahwa akuntansi merupakan fenomena sosial dan ekonomi, bukan sekadar teknik pencatatan.