Posts made by Tiara Vita Loka

TA2025 -> DISKUSI

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

Pendapat tentang Aspek Perilaku dalam Akuntansi

Berdasarkan dua jurnal yang Anda berikan, aspek perilaku dalam akuntansi menunjukkan bahwa akuntansi bukan hanya sekadar sistem pencatatan dan pelaporan angka-angka, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sikap, motivasi, persepsi, emosi, pola pikir, budaya organisasi, dan bias kognitif manusia. Jurnal oleh Muhammad Daham Sabbar menunjukkan bahwa keputusan dalam penggunaan sistem akuntansi dan pengambilan keputusan keuangan sering dipengaruhi oleh faktor perilaku seperti heuristik, bias kognitif (misalnya overconfidence atau framing), serta dinamika organisasi yang dapat mengubah cara informasi akuntansi ditafsirkan dan digunakan dalam praktik sehari‑hari. Hal ini berarti bahwa tidak semua keputusan akuntansi bersifat rasional seperti yang diasumsikan teori klasik, melainkan dipengaruhi oleh proses berpikir manusia yang kompleks dan kontekstual. 

Sementara itu, jurnal tentang behavioral accounting yang menghubungkan akuntansi dengan psikologi dan sosiologi menunjukkan bahwa sikap, persepsi, motivasi, kepribadian, dan faktor sosial seperti interaksi kelompok dan kepercayaan memainkan peranan penting dalam bagaimana akuntan dan pemangku kepentingan lain memahami, menggunakan, dan merespon informasi akuntansi. Perilaku ini kemudian dapat memengaruhi efektivitas sistem akuntansi, hubungan antar individu dalam organisasi, dan bahkan keputusan strategis perusahaan. 

Urgensi Aspek Perilaku dalam Akuntansi

Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi sangat tinggi karena perilaku manusia dapat menentukan seberapa efektif informasi akuntansi digunakan untuk pengambilan keputusan. Tanpa memahami bagaimana manusia memproses informasi, mempercayai data, atau bereaksi terhadap sistem pengendalian, perusahaan berisiko membuat keputusan yang bias atau tidak optimal. Misalnya, bias kognitif seperti confirmation bias dapat menyebabkan manajer cenderung memilih data yang mendukung keputusan awal mereka, bukan data yang paling objektif, sehingga laporan atau proyeksi keuangan menjadi kurang akurat. Penerapan behavioral accounting membantu mengidentifikasi dan mengatasi faktor‑faktor ini, serta merancang sistem yang lebih adaptif terhadap karakter manusia. 

Proses Standard‑Setting & Ekonomi Politik

Dalam konteks standard‑setting (penetapan standar akuntansi) dan ekonomi politik, aspek perilaku sangat relevan karena standar tidak ditetapkan dalam ruang hampa; mereka dipengaruhi oleh kelompok kepentingan, negosiasi antara regulator, praktisi, industri, dan pemangku kepentingan lain yang masing‑masing memiliki motivasi dan tekanan sosial maupun politik. Di sini, behavioral accounting dapat membantu memahami bagaimana nilai, persepsi risiko, dan preferensi kelompok memengaruhi proses perumusan standar. Misalnya, dalam negosiasi IFRS atau PSAK, entitas bisnis besar dapat mendorong aturan yang memberikan fleksibilitas lebih besar karena kepentingan ekonomi mereka, sementara kelompok lain mungkin menuntut transparansi dan proteksi investor. Dalam ekonomi politik akuntansi, teori akuntansi positif (yang erat kaitannya dengan perilaku manajerial) menunjukkan bahwa kebijakan akuntansi yang dipilih cenderung dipengaruhi oleh insentif ekonomi, tekanan regulatif, dan kekuasaan institusional, bukan semata‑mata oleh pertimbangan rasional normatif.

Secara praktis, standard‑setting melibatkan evaluasi konsekuensi perilaku dari suatu aturan misalnya, bagaimana pelaporan baru mempengaruhi motivasi manajer atau perilaku pelapor dan pengguna laporan. Efek‑efek ini kemudian perlu dipertimbangkan agar standar yang ditetapkan tidak hanya teoritis ideal, tetapi juga praktis dapat diikuti dan tidak menciptakan resistensi atau manipulasi. Ekonomi politik di baliknya berarti keputusan standar sering kali merupakan hasil kompromi antara kekuatan ekonomi dan politik; kelompok industri yang lebih kuat dapat mempengaruhi hasil akhir melalui lobi, sedangkan tekanan publik atau lembaga regulasi mencoba menyeimbangkan kepentingan tersebut dengan perlindungan investor dan transparansi pasar.

Secara keseluruhan, memahami aspek perilaku dalam akuntansi penting tidak hanya untuk interpretasi data dalam praktik organisasi, tetapi juga untuk memahami bagaimana standar dibentuk dan diterapkan dalam konteks sosial‑politikal yang kompleks memberikan wawasan bahwa akuntansi merupakan fenomena sosial dan ekonomi, bukan sekadar teknik pencatatan.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Jurnal 1
Jurnal ini membahas perbandingan pendekatan teori normatif dan teori positif dalam praktik kebijakan akuntansi pada dua perusahaan besar di Indonesia, yaitu PT Astra International Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia. Pendekatan normatif menekankan apa yang seharusnya dilakukan berdasarkan standar atau pedoman, sedangkan pendekatan positif menjelaskan keputusan nyata manajer berdasarkan insentif, kondisi industri, dan tujuan perusahaan. Dari pembahasan ini terlihat bahwa kebijakan akuntansi yang diambil sering kali dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan manajerial, bukan hanya mengikuti aturan ideal. Opini saya, penelitian ini sangat relevan karena menunjukkan bahwa memahami perilaku manajer dalam konteks nyata penting untuk menilai kebijakan akuntansi, sehingga perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih realistis dan sesuai kebutuhan bisnis.

2. Jurnal 2
Jurnal ini menjelaskan teori akuntansi positif (PAT) yang dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman, yang berfokus pada penjelasan dan prediksi kebijakan akuntansi yang diambil manajer berdasarkan kepentingan mereka, bonus, hutang, atau biaya politik yang dihadapi perusahaan. Teori ini menekankan bahwa manajer bertindak rasional untuk memaksimalkan kepentingannya sendiri atau kepentingan perusahaan dalam kondisi nyata, bukan semata-mata mengikuti pedoman normatif. Dari pembahasan ini, terlihat PAT menjadi kerangka penting untuk penelitian empiris dalam akuntansi karena memberikan wawasan tentang perilaku manajerial. Opini saya, teori ini sangat berguna untuk memahami keputusan akuntansi dalam praktik, meskipun harus tetap diimbangi dengan pertimbangan etis dan sosial agar keputusan perusahaan tidak hanya menguntungkan secara ekonomi.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022


Jurnal ini membahas perdebatan konseptual antara penggunaan historical cost dan fair value sebagai dasar pengukuran dalam akuntansi keuangan, khususnya pada saat pengakuan awal dan pada tanggal neraca. Historical cost menilai aset dan liabilitas berdasarkan biaya perolehan dan hanya disesuaikan jika terjadi penurunan nilai, sehingga bersifat entity-specific. Sebaliknya, fair value mencerminkan kondisi ekonomi terkini berdasarkan harga pasar dan ekspektasi pelaku pasar, sehingga dianggap lebih relevan dan dapat dibandingkan.

Penulis menjelaskan bahwa IFRS semakin mendorong penggunaan fair value, terutama untuk instrumen keuangan dan properti investasi, dengan alasan rendahnya daya informatif historical cost, perlindungan terhadap erosi modal fisik, serta peningkatan objektivitas dan komparabilitas laporan keuangan. Namun, penerapan fair value juga menimbulkan risiko, terutama ketika pasar aktif tidak tersedia, sehingga pengukuran bergantung pada model estimasi yang subjektif dan berpotensi menurunkan reliabilitas.

Jurnal ini juga menyoroti isu penerapan fair value pada aset non-keuangan, seperti dalam IAS 41 (Agriculture), yang sepenuhnya meninggalkan historical cost. Menurut penulis, pendekatan ini berisiko menghasilkan laba belum terealisasi yang dapat mengganggu prinsip pemeliharaan modal, terutama saat terjadi krisis keuangan. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa tidak ada satu dasar pengukuran yang paling tepat untuk semua kondisi. Kombinasi antara fair value dan pengukuran berbasis entitas diperlukan agar laporan keuangan tetap relevan, andal, dan tidak menyesatkan pengguna informasi akuntansi

TA2025 -> DISKUSI

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

Setelah menyimak video tersebut, saya memahami bahwa perbedaan antara historical cost accounting dan fair value accounting terletak pada dasar penilaian aset dan kewajiban yang digunakan dalam laporan keuangan. Historical cost menekankan pencatatan berdasarkan biaya perolehan awal sehingga memberikan stabilitas dan objektivitas, namun sering kali kurang relevan karena tidak mencerminkan kondisi ekonomi terkini. Sebaliknya, fair value accounting berupaya menyajikan nilai yang lebih aktual sesuai kondisi pasar sehingga informasi yang dihasilkan lebih relevan bagi investor dan pengambil keputusan, meskipun metode ini mengandung unsur estimasi dan volatilitas yang lebih tinggi. Video tersebut secara jelas menunjukkan bahwa tidak ada metode yang sepenuhnya sempurna, karena masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Oleh karena itu, pemilihan metode penilaian perlu disesuaikan dengan jenis aset, tujuan pelaporan, serta kebutuhan pengguna laporan keuangan agar informasi yang disajikan tetap andal dan relevan.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

Jurnal ini membahas keterkaitan antara teori pengukuran dan tujuan laporan keuangan, serta kritik terhadap anggapan bahwa akuntansi sudah merupakan disiplin pengukuran yang lengkap. Penelitian menunjukkan bahwa selama ini tujuan laporan keuangan yang sering dikutip dalam literatur akuntansi belum sepenuhnya kompatibel dengan prinsip-prinsip dasar pengukuran dalam ilmu sosial, sehingga sebenarnya tidak dapat disebut sebagai tujuan pengukuran yang sah. 

Penulis menekankan bahwa konsep pengukuran hanya bermakna jika didukung oleh suatu teori pengukuran yang jelas, yang mencakup formulasi tujuan, standar pembandingan, serta cara menghubungkan atribut empiris dengan ukuran numerik. Dalam akuntansi, pengukuran dipahami sebagai proses menetapkan jumlah moneter untuk unsur laporan keuangan (seperti aset, kewajiban) berdasarkan sejumlah aturan praktik yang ada. Namun, menurut pendekatan teori representasional (yang merupakan teori pengukuran dalam ilmu sosial), prinsip tersebut belum secara lengkap tercakup dalam praktik akuntansi saat ini. 

Akibatnya, meskipun akuntansi sering dipandang sebagai disiplin yang “mengukur” fenomena ekonomi, tidak ada teori pengukuran akuntansi yang secara teoretis memadai yang menjelaskan mengapa dan bagaimana angka-angka dalam laporan keuangan merepresentasikan realitas ekonomi. Tanpa landasan teori pengukuran yang kuat, laporan keuangan belum benar-benar mengandung informasi pengukuran yang dapat dibenarkan secara ilmiah. Penulis menyimpulkan bahwa pengembangan teori pengukuran yang mengintegrasikan tujuan akuntansi diperlukan agar laporan keuangan benar-benar memenuhi fungsi pengukurannya.