གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Nayla Andara

TA2025 -> DISKUSI

Nayla Andara གིས-
NAMA : NAYLA ANDARA
NPM : 2413031018

Setelah menyimak si video tersebut yang diberikan dari OpenTuition terkait pengukuran dalam laporan keuangan, dapat disimpulkan bahwa video tersebut memberikan penjelasan yang sangat sistematis dan komprehensif mengenai berbagai metode pengukuran aset dan kewajiban sesuai dengan kerangka konseptual serta standar IFRS, khususnya IFRS 13 tentang nilai wajar.

Video menguraikan dengan rinci pentingnya pengukuran yang tepat dalam penyusunan laporan posisi keuangan (neraca), termasuk pengukuran berbasis:
-Biaya historis: nilai awal pembelian dikurangi akumulasi penyusutan.
-Nilai wajar: harga pasar saat ini yang merupakan harga keluar (exit price).
-Biaya saat ini: jumlah yang diperlukan untuk memperoleh aset yang sama saat ini, nilai masuk (entry price).
-Nilai dalam penggunaan: nilai sekarang dari arus kas masa depan yang dihasilkan aset tersebut, menggunakan diskonto berdasarkan tingkat bunga tertentu.

Video ini menitikberatkan pada keandalan dan relevansi informasi keuangan serta perlunya mengikuti kriteria pengakuan dan pengukuran agar laporan keuangan bisa mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Contoh perhitungan yang diberikan, seperti penyusutan dan penghitungan nilai kini menggunakan faktor anuitas, sangat membantu pemahaman praktis konsep-konsep tersebut.

Secara keseluruhan video ini sangat bermanfaat sebagai sumber pembelajaran mendalam di bidang akuntansi laporan keuangan, khususnya bagi mahasiswa, praktisi akuntansi, dan dosen yang menginginkan pemahaman teori dan aplikasi pengukuran aset dan liabilitas secara menyeluruh dan sesuai standar internasional. Penjelasan yang jelas serta pendekatan bertahap yang diperlihatkan dalam video membuat materi teknis yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami dan diaplikasikan di konteks nyata laporan keuangan.

TA2025 -> CASE STUDY

Nayla Andara གིས-
NAMA: NAYLA ANDARA
NPM: 2413031018 

1. Keputusan PT Garuda Sejahtera menggunakan nilai wajar sebagai dasar pengukuran dapat dibenarkan secara konseptual mengacu pada IFRS yang menekankan relevansi dan penyajian informasi keuangan yang mencerminkan nilai pasar saat ini. Namun, dalam konteks pasar Indonesia yang sangat terbatas dan tidak aktif untuk pesawat, penggunaan nilai wajar menjadi kurang andal dan rawan subjektivitas penilaian. PSAK sebagai standar akuntansi yang berlaku di Indonesia juga mengadopsi konsep nilai wajar, tetapi penilaiannya harus memperhatikan kondisi pasar lokal agar informasi tetap dapat dipercaya dan tidak menimbulkan distorsi.

2. Perbandingan kerangka konseptual PSAK dan IFRS:
- Tujuan Laporan Keuangan: Tujuan laporan keuangan bagi kedua kerangka ini pada dasarnya sama, yaitu menyediakan informasi keuangan tentang entitas pelapor yang berguna bagi para investor, pemberi pinjaman, dan kreditor dalam pengambilan keputusan ekonomis. Namun, IFRS lebih menekankan kebutuhan informasi yang relevan bagi pasar global, sedangkan PSAK mengarahkan pada penyediaan informasi yang relevan tidak hanya bagi investor global tapi juga pengguna lokal di Indonesia.
- Karakteristik Kualitatif Informasi: dalam PSAK mencakup relevansi, reliabilitas, netralitas, konsistensi, dan keterbandingan, yang sifatnya mirip dengan IFRS. Namun, IFRS menekankan sedikit lebih pada kewajaran (fair presentation) dan keandalan dalam konteks pelaporan keuangan yang konsisten dan dapat dibandingkan secara internasional.
- Basis pengukuran, PSAK memperbolehkan penggunaan biaya historis maupun nilai wajar, dengan catatan harus mempertimbangkan kondisi pasar lokal agar informasi tetap dapat dipercaya. Sebaliknya, IFRS lebih condong menggunakan nilai wajar sebagai basis utama, kecuali dalam kondisi di mana nilai wajar tidak dapat diukur dengan andal, sehingga biaya historis masih diperbolehkan.
- Asumsi Entitas dan Kelangsungan Usaha: Kedua kerangka konsep menggunakan asumsi entitas ekonomi yang terpisah dari pemiliknya dan berkelanjutan (going concern). Mereka sama-sama mengasumsikan bahwa entitas akan terus beroperasi dalam waktu yang wajar ke depan.
Secara ringkas, PSAK dan IFRS sangat sejalan secara konseptual, dengan PSAK berusaha menyeimbangkan prinsip IFRS dengan keadaan pasar dan kebutuhan lokal di Indonesia.

3. -Tidak sepenuhnya setuju. Indonesia memiliki kondisi pasar, ekonomi, dan sosial yang berbeda dengan banyak negara pengguna IFRS. Pasar modal yang belum sepenuhnya likuid dan terbatas dalam beberapa aset seperti pesawat memerlukan penyesuaian dalam penerapan standar agar informasi yang disajikan tetap relevan dan dapat dipercaya.
-Penyesuaian lokal penting untuk menangani keterbatasan pasar, infrastruktur pengukuran nilai wajar, dan tingkat kematangan regulasi pasar modal Indonesia.
- Penggunaan kerangka konseptual PSAK yang mengadopsi IFRS dengan penyesuaian lokal justru memberikan keseimbangan antara kebutuhan investor asing dan kondisi riil pasar Indonesia.
- Faktor sosial seperti pemahaman pengguna laporan keuangan lokal dan kesiapan pelaku usaha juga harus diperhitungkan agar standar yang diterapkan dapat diimplementasikan dengan efektif dan membawa manfaat nyata.

Secara ringkas, PT Garuda Sejahtera dapat mempertimbangkan kembali praktik nilai wajar jika pasar lokal tidak mendukung pengukuran nilai yang andal. Selain itu, penerapan standar akuntansi di Indonesia sebaiknya tetap mengacu pada PSAK yang mengakomodasi lokalitas, meskipun selaras dengan IFRS, agar laporan keuangan tidak hanya memenuhi kebutuhan investor global tetapi juga sesuai kondisi pasar dan pengguna domestik.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

Nayla Andara གིས-
Jurnal tersebut membahas batasan-batasan dalam kerangka konseptual pelaporan keuangan (Conceptual Framework/CFW) dengan fokus pada literatur dan penelitian empiris terkait. Kerangka konseptual tersebut merupakan panduan bagi penyusun standar akuntansi internasional seperti IASB dan FASB dalam mengembangkan standar pelaporan yang harmonis di tingkat global. Jurnal menyoroti pentingnya kerangka ini dalam menetapkan tujuan pelaporan keuangan yakni menyediakan informasi yang berguna bagi investor, kreditor, dan pengguna laporan keuangan lainnya untuk pengambilan keputusan ekonomi. Penelitian menelusuri sejarah dan perkembangan kerangka konseptual, menunjukkan bahwa meskipun FASB dan IASB telah berupaya menyatukan kerangka mereka, masih terdapat perbedaan pandangan dalam penerapannya. Jurnal juga membahas keterbatasan-keterbatasan inheren dalam kerangka konseptual, seperti masalah komparabilitas laporan keuangan antar perusahaan dan antar negara, penggunaan biaya historis versus nilai wajar dalam pengukuran aset, serta pengaruh politik akuntansi, estimasi akuntansi, kesalahan dan kecurangan, serta konservatisme akuntansi. Konservatisme, misalnya, dipandang sebagai pembatas yang muncul dari praktik akuntansi yang memprioritaskan pengakuan kerugian lebih cepat daripada keuntungan, yang meskipun bukan karakteristik ideal, tetap dipraktikkan demi kewaspadaan. Jurnal menunjukkan bahwa beberapa batasan tersebut memengaruhi kualitas dan kegunaan laporan keuangan dalam pengambilan keputusan. Penulis menyimpulkan bahwa meskipun terdapat batasan, kerangka konseptual tetap merupakan pedoman terbaik untuk pengembangan standar pelaporan keuangan yang konsisten dan harmonis secara global. Namun, perlu ada pembaruan dan peningkatan agar kerangka ini lebih efektif dalam mengatasi batasan-batasan tersebut.

TA2025 -> DISKUSI

Nayla Andara གིས-
setelah menyimak video tersebut dapat disimpulkan bahwa bahwa Dewan Standar Akuntansi Keuangan (FASB) di Amerika Serikat mengembangkan kerangka kerja konseptual yang menjadi dasar penyusunan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Kerangka ini menetapkan tujuan pelaporan keuangan yang utamanya untuk menyediakan informasi yang berguna bagi investor, kreditor, dan pengguna lainnya dalam pengambilan keputusan ekonomi. Informasi keuangan harus memiliki kualitas relevansi dan representasi yang setia, serta karakteristik tambahan seperti ketepatan waktu, keterbandingan, keterverifikasian, dan kemudahan pemahaman. Kerangka ini juga mengatur elemen-elemen laporan keuangan utama, asumsi dasar seperti periodisitas dan kelangsungan usaha, serta prinsip-prinsip pengakuan pendapatan dan biaya. Di samping itu, terdapat kendala seperti biaya penyediaan informasi dan praktik industri tertentu, serta prinsip konservatisme yang cenderung lebih cepat mengakui kerugian daripada keuntungan. Kerangka kerja ini menyediakan panduan sistematis untuk pengembangan standar akuntansi yang lebih konsisten dan transparan.