Posts made by Nashita Shafiyah

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Nashita Shafiyah -
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009

Artikel ini membahas perbedaan dan perdebatan antara penggunaan historical cost dan fair value dalam pengukuran aset serta kewajiban pada akuntansi keuangan. Historical cost berlandaskan pada harga perolehan awal suatu aset, sehingga relatif stabil, mudah diverifikasi, dan tidak bergantung pada fluktuasi pasar. Namun, metode ini sering dianggap kurang relevan karena tidak mencerminkan kondisi ekonomi terkini, terutama pada instrumen keuangan yang nilainya cepat berubah. Sebaliknya, fair value menawarkan informasi yang lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini, meski membawa risiko ketidakpastian karena bergantung pada estimasi, volatilitas harga, serta ketersediaan pasar aktif.

Dalam perkembangannya, IFRS (International Financial Reporting Standards) semakin mendorong penggunaan fair value, baik pada saat pengakuan awal maupun di tanggal laporan keuangan. Beberapa standar, seperti IAS 16 dan IAS 38, masih memberi opsi historical cost, namun standar lain seperti IAS 40 (Properti Investasi), IAS 39 (Instrumen Keuangan), dan IAS 41 (Agrikultur) lebih mengutamakan fair value. Penekanan ini didasari anggapan bahwa informasi berbasis fair value lebih relevan, objektif, dan dapat diperbandingkan antar entitas. Meski demikian, penerapan penuh fair value tidak lepas dari kritik, khususnya pada aset non-keuangan yang sulit dinilai dengan harga pasar, sehingga sering menimbulkan masalah reliabilitas dan potensi manipulasi.

Penulis juga menyoroti konteks krisis keuangan global, di mana penerapan fair value justru dipandang memperburuk keadaan karena nilai pasar aset anjlok drastis dan sulit diverifikasi. Hal ini memicu perdebatan apakah fair value tetap layak dipakai pada masa krisis atau perlu digantikan sementara oleh metode lain yang lebih konservatif. Pada akhirnya, artikel ini menekankan bahwa tidak ada satu metode yang sempurna. Historical cost memberi kestabilan, sementara fair value menawarkan relevansi, sehingga keduanya sebaiknya dilihat sebagai pendekatan saling melengkapi agar laporan keuangan benar-benar bermanfaat bagi pengambil keputusan.

TA2025 -> DISKUSI

by Nashita Shafiyah -
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009

Setelah saya menyimak video berjudul “Historical Cost vs Fair Value Accounting”, saya memahami bahwa pembahasan utamanya adalah perbandingan antara metode pencatatan aset berdasarkan biaya perolehan awal (historical cost) dengan metode penilaian berdasarkan nilai wajar saat ini (fair value). Historical cost dinilai lebih stabil karena berpatokan pada harga beli yang jelas dan mudah diverifikasi, tetapi sering kali tidak mencerminkan kondisi pasar terbaru. Sebaliknya, fair value memberikan gambaran yang lebih realistis sesuai nilai pasar terkini, namun cenderung fluktuatif dan membutuhkan estimasi yang bisa berbeda-beda. Video ini juga menekankan bagaimana pilihan metode berdampak pada laporan keuangan: historical cost membuat laporan lebih stabil, sedangkan fair value bisa membuat laba rugi naik turun mengikuti perubahan pasar. Dari penjelasan dan contoh yang diberikan, saya jadi lebih paham bahwa kedua metode ini punya keunggulan dan kelemahannya masing-masing, serta digunakan sesuai kebutuhan dan aturan standar akuntansi yang berlaku.

AKM A2025 -> Diskusi

by Nashita Shafiyah -
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009

Nilai waktu dari uang adalah prinsip bahwa uang saat ini memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan jumlah yang sama di masa depan, karena uang yang dimiliki sekarang dapat diinvestasikan untuk memperoleh bunga, keuntungan, atau peluang ekonomi lainnya. Dengan kata lain, semakin cepat uang diterima, semakin besar manfaat yang bisa diperoleh, sedangkan penerimaan di masa depan perlu didiskontokan agar setara dengan nilai saat ini.

Konsep ini sangat penting dalam akuntansi dan keuangan karena digunakan untuk menilai investasi, menentukan kelayakan proyek, serta menghitung nilai wajar aset maupun kewajiban jangka panjang. Melalui perhitungan present value dan future value, perusahaan maupun individu dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, mempertimbangkan risiko, inflasi, serta potensi keuntungan sehingga laporan keuangan menjadi lebih relevan dan andal.

TA2025 -> CASE STUDY

by Nashita Shafiyah -
Nama : Nashita Shafiyah 
Npm : 2413031009



1. Dalam kasus PT Surya Terang, terdapat dua basis pengukuran aset tetap yang relevan, yaitu biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis merupakan pencatatan aset berdasarkan harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai. Kelebihan biaya historis adalah lebih mudah diukur, objektif, serta stabil karena berdasarkan transaksi aktual. Namun, kelemahannya adalah kurang relevan, sebab nilai tercatat bisa jauh berbeda dengan kondisi pasar terkini. Sebaliknya, nilai wajar atau revaluasi mencatat aset sesuai nilai pasar pada tanggal revaluasi. Metode ini lebih relevan karena mencerminkan kondisi ekonomi terkini dan memberikan gambaran realistis bagi pemakai laporan keuangan. Kekurangannya adalah pengukuran lebih kompleks, memerlukan penilaian independen, bersifat subjektif, serta berpotensi menimbulkan fluktuasi nilai aset di laporan keuangan.

2. Apabila PT Surya Terang menggunakan model revaluasi, maka nilai mesin akan disesuaikan dari Rp600.000.000 (nilai buku) menjadi Rp400.000.000 (nilai wajar). Selisih penurunan sebesar Rp200.000.000 akan dicatat sebagai rugi revaluasi. Karena ini merupakan penurunan pertama dan tidak ada surplus revaluasi sebelumnya, maka rugi tersebut langsung diakui dalam laporan laba rugi, sehingga mengurangi laba tahun berjalan. Pada laporan posisi keuangan, nilai aset tetap akan tercatat sebesar Rp400.000.000. Selain itu, perhitungan penyusutan di periode berikutnya akan menggunakan nilai baru sebesar Rp400.000.000 sebagai dasar, bukan lagi nilai tercatat sebelumnya Rp600.000.000. Dengan demikian, model revaluasi berdampak pada penurunan laba tahun berjalan dan penyesuaian nilai aset serta beban penyusutan di masa depan.

3. Dalam konteks ini, pengukuran menggunakan nilai wajar lebih memenuhi karakteristik relevansi karena mencerminkan kondisi ekonomi terkini. Dengan adanya teknologi baru yang menyebabkan penurunan drastis nilai pasar mesin, informasi berbasis nilai wajar akan lebih bermanfaat bagi pengambilan keputusan pengguna laporan keuangan. Namun, dari sisi keandalan, biaya historis lebih unggul karena bersifat objektif, mudah diverifikasi, dan tidak bergantung pada estimasi penilai. Sementara itu, nilai wajar cenderung kurang andal karena bergantung pada penilaian independen dan asumsi tertentu. Oleh karena itu, terdapat trade-off antara relevansi dan keandalan. Dalam kasus PT Surya Terang, nilai wajar dianggap lebih tepat digunakan karena memberikan gambaran yang lebih realistis dan relevan terkait nilai mesin saat ini, meskipun sedikit mengurangi aspek keandalan dibandingkan biaya historis.

AKM A2025 -> Diskusi

by Nashita Shafiyah -
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009

Neraca merupakan laporan keuangan yang penting karena menunjukkan posisi aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan pada suatu waktu tertentu. Namun, neraca memiliki keterbatasan utama, yaitu sifatnya statis. Informasi yang ditampilkan hanya berupa potret singkat kondisi keuangan saat itu, sehingga tidak menggambarkan perubahan atau dinamika yang terjadi setelah tanggal laporan.

Selain itu, angka-angka dalam neraca umumnya disusun berdasarkan biaya historis, bukan nilai pasar terkini. Hal ini membuat nilai aset maupun kewajiban terkadang tidak lagi relevan dengan kondisi sebenarnya. Misalnya, harga tanah atau peralatan bisa saja sudah naik atau turun di pasar, tetapi neraca tetap menampilkan nilai saat pembelian.

Oleh karena itu, neraca sebaiknya tidak digunakan secara tunggal dalam menilai kinerja atau kesehatan keuangan perusahaan. Informasi dari neraca akan lebih bermanfaat jika dilengkapi dengan laporan laba rugi, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Dengan begitu, pengguna laporan bisa memperoleh gambaran yang lebih utuh dan akurat mengenai kondisi perusahaan.