གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Alya Khoirun Nisa

TA2025 -> CASE STUDY

Alya Khoirun Nisa གིས-
Nama : Alya Khoirun Nisa
Npm : 2413031019

1. Kelebihan dan Kekurangan Fair Value vs Historical Cost
Penggunaan fair value membuat laporan keuangan PT Nusantara Properti lebih relevan karena mencerminkan kondisi pasar terkini. Investor dapat menilai potensi nilai aset dan risiko dengan lebih akurat, apalagi di industri properti yang harganya fluktuatif. Namun, kelemahannya adalah sifatnya yang subjektif karena bergantung pada asumsi penilai, biaya penilaian yang mahal, serta potensi membuat laporan menjadi lebih volatil. Sebaliknya, historical cost lebih stabil dan objektif, tetapi kurang relevan karena tidak mencerminkan nilai riil saat ini.


2. Relevansi dan Keandalan Fair Value di Indonesia dan IFRS
Dalam IFRS, fair value meningkatkan relevansi karena menunjukkan nilai aset yang sebenarnya di pasar, bukan sekadar biaya perolehan lama. Namun, di Indonesia, masalah muncul pada keandalan. Pasar properti sering tidak transparan, sehingga penilaian rentan subjektif. Jadi, meskipun fair value lebih relevan, keandalannya bisa berkurang jika tanpa pengawasan dan pengungkapan memadai.


3. Rekomendasi Kebijakan Jika di DSAK IAI
Jika menjadi anggota DSAK IAI, saya merekomendasikan penggunaan fair value tetap dipertahankan untuk sektor properti, tetapi harus diikuti dengan pengungkapan rinci tentang metode, asumsi, dan tingkat input yang digunakan. Selain itu, penilaian perlu diaudit independen dan ada standar nasional bagi profesi penilai agar hasil lebih konsisten. Dengan begitu, laporan tetap relevan sekaligus andal, sesuai prinsip akuntansi: relevansi dan representasi jujur.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

Alya Khoirun Nisa གིས-
Nama: Alya Khoirun Nisa
Npm: 2413031019

Jurnal ini membicarakan perbedaan antara historical cost dan fair value sebagai dasar dalam mengukur aset dan liabilitas dalam akuntansi keuangan. Historical cost mengukur aset dan liabilitas berdasarkan harga saat membeli, sedangkan fair value menunjukkan nilai pasar saat ini. IFRS kini lebih mendorong penggunaan fair value, terutama untuk instrumen keuangan, properti investasi, dan aset biologis, karena dianggap lebih tepat dan objektif dibanding historical cost. Namun, penggunaan fair value juga membawa risiko, terutama untuk aset non-keuangan yang tidak memiliki pasar yang aktif, sehingga pengukurannya sering bergantung pada perkiraan yang subjektif dari manajemen.

Penulis menekankan bahwa fair value memberikan informasi yang lebih baik bagi pembaca laporan keuangan, tetapi bisa berisiko jika keuntungan dari revaluasi yang belum terjadi dimasukkan ke dalam laba.
Dalam situasi krisis keuangan, penggunaan fair value justru dipertanyakan karena dapat memperparah ketidakstabilan pasar. Oleh karena itu, Dvořáková menyimpulkan bahwa menggabungkan historical cost dan fair value adalah pilihan terbaik: fair value cocok digunakan untuk instrumen keuangan, sedangkan metode pengukuran yang berbasis pada entity-specific atau historical cost masih relevan untuk aset non-keuangan.

TA2025 -> DISKUSI

Alya Khoirun Nisa གིས-
Nama : Alya Khoirun Nisa
Npm : 2413031019

Setelah menonton video tersebut, saya memahami bahwa pokok pembahasan adalah perbedaan mendasar antara biaya historis dan nilai wajar dalam akuntansi, serta dampaknya terhadap laporan keuangan. Biaya historis mencatat aset atau kewajiban berdasarkan harga saat transaksi pertama kali terjadi. Metode ini lebih mudah dicheck karena objektif dan konsisten, karena didukung oleh bukti nyata dari transaksi yang sebenarnya. Namun, kelemahannya adalah informasi yang diberikan tidak mencerminkan harga pasar saat ini, terutama jika harga pasar berubah signifikan dalam jangka tertentu. Sementara itu, nilai wajar menggambarkan harga aset atau kewajiban sesuai dengan kondisi pasar saat ini, yang didapat dari transaksi di pasar aktif. Informasi yang dihasilkan dianggap lebih relevan dan membantu bagi pihak yang membutuhkan gambaran ekonomi yang realistis. Namun, penggunaan nilai wajar juga memiliki kelemahan, yaitu bergantung pada perkiraan dan asumsi yang bisa menyebabkan perbedaan antar periode, bahkan meningkatkan ruang bagi subjektivitas. Oleh karena itu, kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam praktik akuntansi, penting bagi seorang akuntan maupun pengguna laporan keuangan untuk memahami konteks dan tujuan penggunaan metode tersebut agar informasi yang diberikan tetap akurat, dapat dipercaya, dan sesuai dengan kebutuhan pengambilan keputusan.