Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008
1. Penjelasan Menurut Teori Positif Akuntansi
Berdasarkan Positive Accounting Theory (PAT) yang dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman, keputusan PT IndoEnergi untuk mengubah metode depresiasi dari garis lurus menjadi saldo menurun ganda dapat dijelaskan melalui tiga hipotesis utama: bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis, dan political cost hypothesis. Dalam konteks ini, manajemen mungkin berupaya menurunkan laba untuk mengurangi beban pajak dan tekanan dari pemegang saham terkait pembagian dividen, sebagaimana dijelaskan oleh political cost hypothesis. Selain itu, perubahan metode juga bisa menjadi strategi untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang atau memperbaiki arus kas jangka pendek. Dengan demikian, teori positif menilai bahwa keputusan tersebut merupakan tindakan rasional dan prediktif berdasarkan kepentingan ekonomi manajemen, bukan semata-mata pertimbangan teknis akuntansi.
2. Perbandingan dengan Praktik di Negara Lain (AS dan IFRS)
Di bawah IFRS (IAS 8) dan US GAAP (ASC 250), perubahan metode depresiasi umumnya diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi, bukan perubahan kebijakan, sehingga penerapannya dilakukan secara prospektif tanpa perlu menyusun ulang laporan keuangan sebelumnya. Praktik seperti yang dilakukan PT IndoEnergi tergolong umum, asalkan perusahaan dapat membuktikan bahwa perubahan metode mencerminkan pola konsumsi manfaat ekonomi aset yang lebih akurat. Namun, baik IFRS maupun GAAP mengharuskan perusahaan untuk memberikan pengungkapan yang transparan mengenai alasan dan dampak perubahan tersebut. Jika tidak disertai bukti teknis yang memadai, perubahan ini bisa dianggap sebagai bentuk earnings management atau manipulasi laba, terutama jika bertepatan dengan tekanan pajak atau tuntutan kinerja pasar.
3. Penilaian Kritis terhadap Teori Positif Akuntansi
Teori positif akuntansi cukup kuat dalam menjelaskan perilaku manajerial yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, seperti pengelolaan laba, penghindaran pajak, atau penyesuaian kontrak. Namun, teori ini memiliki keterbatasan karena terlalu fokus pada motif ekonomi dan kurang mempertimbangkan aspek etika, tata kelola, dan tekanan institusional yang berbeda di tiap negara. Dalam konteks global, penerapan PAT tidak selalu dapat menjelaskan perilaku manajer di lingkungan dengan pengawasan ketat atau budaya transparansi yang tinggi. Oleh karena itu, meskipun PAT berguna untuk memprediksi perilaku oportunistik, perlu dilengkapi dengan perspektif normatif dan tata kelola perusahaan agar penilaian terhadap kebijakan akuntansi lebih seimbang, transparan, dan etis.
NPM : 2413031008
1. Penjelasan Menurut Teori Positif Akuntansi
Berdasarkan Positive Accounting Theory (PAT) yang dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman, keputusan PT IndoEnergi untuk mengubah metode depresiasi dari garis lurus menjadi saldo menurun ganda dapat dijelaskan melalui tiga hipotesis utama: bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis, dan political cost hypothesis. Dalam konteks ini, manajemen mungkin berupaya menurunkan laba untuk mengurangi beban pajak dan tekanan dari pemegang saham terkait pembagian dividen, sebagaimana dijelaskan oleh political cost hypothesis. Selain itu, perubahan metode juga bisa menjadi strategi untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang atau memperbaiki arus kas jangka pendek. Dengan demikian, teori positif menilai bahwa keputusan tersebut merupakan tindakan rasional dan prediktif berdasarkan kepentingan ekonomi manajemen, bukan semata-mata pertimbangan teknis akuntansi.
2. Perbandingan dengan Praktik di Negara Lain (AS dan IFRS)
Di bawah IFRS (IAS 8) dan US GAAP (ASC 250), perubahan metode depresiasi umumnya diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi, bukan perubahan kebijakan, sehingga penerapannya dilakukan secara prospektif tanpa perlu menyusun ulang laporan keuangan sebelumnya. Praktik seperti yang dilakukan PT IndoEnergi tergolong umum, asalkan perusahaan dapat membuktikan bahwa perubahan metode mencerminkan pola konsumsi manfaat ekonomi aset yang lebih akurat. Namun, baik IFRS maupun GAAP mengharuskan perusahaan untuk memberikan pengungkapan yang transparan mengenai alasan dan dampak perubahan tersebut. Jika tidak disertai bukti teknis yang memadai, perubahan ini bisa dianggap sebagai bentuk earnings management atau manipulasi laba, terutama jika bertepatan dengan tekanan pajak atau tuntutan kinerja pasar.
3. Penilaian Kritis terhadap Teori Positif Akuntansi
Teori positif akuntansi cukup kuat dalam menjelaskan perilaku manajerial yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, seperti pengelolaan laba, penghindaran pajak, atau penyesuaian kontrak. Namun, teori ini memiliki keterbatasan karena terlalu fokus pada motif ekonomi dan kurang mempertimbangkan aspek etika, tata kelola, dan tekanan institusional yang berbeda di tiap negara. Dalam konteks global, penerapan PAT tidak selalu dapat menjelaskan perilaku manajer di lingkungan dengan pengawasan ketat atau budaya transparansi yang tinggi. Oleh karena itu, meskipun PAT berguna untuk memprediksi perilaku oportunistik, perlu dilengkapi dengan perspektif normatif dan tata kelola perusahaan agar penilaian terhadap kebijakan akuntansi lebih seimbang, transparan, dan etis.