Kiriman dibuat oleh Waly Tanti Fitrani

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Waly Tanti Fitrani -
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

Artikel “The Role of Measurement Theory in Supporting the Objectives of the Financial Statements” oleh Saratiel Weszerai Musvoto (2011) menjelaskan bahwa tujuan laporan keuangan belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip teori pengukuran dalam ilmu sosial, khususnya representational measurement theory. Penulis menyoroti bahwa meskipun akuntansi sering dianggap sebagai disiplin pengukuran, sebenarnya belum memiliki teori pengukuran yang utuh untuk mendasari proses penyusunan laporan keuangan. Akibatnya, informasi yang dihasilkan sering kali tidak dapat dikatakan sebagai hasil pengukuran ilmiah yang valid. Menurut Musvoto, teori pengukuran harus mencakup tujuan, standar pembanding, serta unit atau skala pengukuran agar hasilnya bermakna dan dapat diverifikasi. Namun, dalam praktik akuntansi, konsep seperti “nilai” atau “biaya” masih bersifat ambigu dan tidak memiliki dasar empiris yang jelas. Penulis juga menunjukkan bahwa laporan keuangan menggunakan estimasi, asumsi, dan nilai prediktif yang tidak sepenuhnya mencerminkan realitas objektif. Dengan demikian, meskipun laporan keuangan berfungsi untuk mendukung pengambilan keputusan ekonomi, akuntansi belum dapat dikategorikan sebagai disiplin pengukuran yang ilmiah. Musvoto menyarankan agar akuntansi mengembangkan teori pengukuran yang konsisten dengan prinsip-prinsip ilmiah, sehingga tujuan laporan keuangan dapat benar-benar didukung oleh dasar pengukuran yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Waly Tanti Fitrani -
NAMA : WALY TANTI FITRANI
NPM : 2413031031

1. Kritik terhadap penggunaan nilai wajar
Keputusan T Garuda Sejahtera menggunakan nilai wajar (fair value) sebagai dasar pengukuran belum sepenuhnya dapat dibenarkan dalam konteks Indonesia. Menurut IFRS, nilai wajar relevan jika didasarkan pada pasar aktif dan data yang dapat diverifikasi. Namun, pasar pesawat di Indonesia terbatas, sehingga pengukuran nilai wajar berisiko tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Dalam kerangka konseptual PSAK, informasi keuangan harus relevan, andal, dan mencerminkan kehati-hatian (prudence). Karena itu, biaya historis (historical cost) sering dianggap lebih tepat dalam situasi pasar tidak aktif. Dengan demikian, keputusan Garuda cenderung mengorbankan keandalan dan representasi jujur, yang menjadi prinsip utama baik dalam PSAK maupun IFRS.


2. Perbandingan PSAK dan IFRS
Secara umum, PSAK dan IFRS memiliki tujuan yang sama yaitu menyediakan informasi keuangan yang berguna bagi pengambilan keputusan ekonomi. Namun, PSAK menyesuaikan dengan konteks nasional dan stabilitas ekonomi Indonesia, sedangkan IFRS berorientasi pada kepentingan investor global. Dalam hal karakteristik kualitatif informasi, PSAK menekankan keandalan dan kehati-hatian, sementara IFRS menonjolkan relevansi dan representasi jujur (faithful representation). Dari sisi basis pengukuran PSAK lebih banyak menggunakan biaya historis dengan pertimbangan konservatif, sedangkan IFRS mendorong penggunaan nilai wajar agar lebih mencerminkan kondisi pasar global. Adapun asumsi entitas dan kelangsungan usaha, keduanya mengasumsikan bahwa entitas akan terus beroperasi, tetapi PSAK menyesuaikannya dengan situasi ekonomi dan hukum lokal, sedangkan IFRS bersifat universal.


3. Pendapat tentang penerapan IFRS penuh di Indonesia
Indonesia sebaiknya tidak sepenuhnya mengikuti IFRS tanpa penyesuaian lokal. Meskipun IFRS meningkatkan keterbandingan dan menarik investasi global, penerapannya harus mempertimbangkan tingkat kematangan pasar, kondisi ekonomi, dan kapasitas profesional akuntan di Indonesia. Pasar keuangan Indonesia belum sepenuhnya efisien, dan banyak aset tidak memiliki pasar aktif untuk penentuan nilai wajar. Oleh karena itu, adaptasi lokal tetap penting agar standar akuntansi tetap relevan, dapat diandalkan, dan sesuai dengan kebutuhan ekonomi nasional. Pendekatan konvergensi IFRS berbasis PSAK yang saat ini diterapkan sudah tepat, karena menjaga keseimbangan antara relevansi global dan realitas domestik.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Waly Tanti Fitrani -
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

Artikel “Approaches and Criticisms of Positive Accounting Theory and Its Economic Consequences” membahas teori akuntansi positif (Positive Accounting Theory/PAT) yang diperkenalkan oleh Watts dan Zimmerman pada tahun 1978 sebagai pergeseran dari pendekatan normatif ke pendekatan positif dalam penelitian akuntansi. PAT bertujuan menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi yang sebenarnya terjadi di perusahaan, bukan menentukan bagaimana seharusnya akuntansi dilakukan. Teori ini menyoroti tiga hipotesis utama: bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis, dan political cost hypothesis, yang menjelaskan bagaimana kepentingan manajerial dapat memengaruhi pelaporan keuangan. Berbagai penelitian mendukung PAT dengan bukti empiris mengenai perilaku manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk keuntungan tertentu. Namun, teori ini juga mendapat kritik, terutama terkait metode penelitian yang kurang menggambarkan kondisi sosial secara utuh, pandangan filosofis yang dianggap terlalu objektif, serta pendekatan ekonomi yang terlalu individualistis. Konsep economic consequences yang dikemukakan Zeff (1978) menegaskan bahwa pelaporan akuntansi berdampak pada keputusan ekonomi berbagai pihak. Secara keseluruhan, PAT berkontribusi besar terhadap pengembangan teori akuntansi dengan memberikan kerangka empiris untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi praktik akuntansi di dunia nyata.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Waly Tanti Fitrani -
NAMA : WALY TANTI FITRANI
NPM : 2413031031

Jurnal “Historical Costs versus Fair Value Measurement in Financial Accounting” oleh Dana Dvořáková (2009) membahas perbedaan dan implikasi antara penggunaan biaya historis dan nilai wajar dalam pelaporan keuangan. Biaya historis mencatat aset dan kewajiban berdasarkan harga perolehannya, sedangkan nilai wajar mengukur berdasarkan harga pasar saat ini. Dalam perkembangan standar akuntansi internasional (IFRS), terjadi pergeseran menuju penerapan nilai wajar karena dianggap lebih relevan dan mencerminkan kondisi ekonomi aktual.

Namun, penulis menyoroti bahwa penggunaan nilai wajar juga membawa risiko, terutama saat pasar tidak aktif atau dalam kondisi krisis keuangan, karena penilaian menjadi kurang andal dan dapat menyebabkan fluktuasi besar dalam laporan keuangan. Dvořáková menegaskan bahwa meskipun nilai wajar memberikan informasi yang lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan, biaya historis tetap penting karena memberikan kestabilan dan keandalan data. Kesimpulannya, jurnal ini merekomendasikan pendekatan kombinasi antara pengukuran biaya historis dan nilai wajar untuk mencapai keseimbangan antara relevansi dan keandalan informasi akuntansi, sehingga laporan keuangan dapat lebih akurat mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara nyata.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Waly Tanti Fitrani -
NAMA : WALY TANTI FITRANI
NPM ; 2413031031

Video tersebut membahas perbandingan antara metode biaya historis (historical cost) dan nilai wajar (fair value) dalam akuntansi. Biaya historis adalah metode pencatatan aset berdasarkan harga perolehannya saat pertama kali dibeli, sedangkan nilai wajar mengukur aset dan liabilitas berdasarkan nilai pasar saat ini. Metode biaya historis dianggap lebih andal karena menggunakan data transaksi nyata dan tidak mudah berubah, namun kurang mencerminkan kondisi ekonomi terkini. Sebaliknya, metode nilai wajar dinilai lebih relevan karena mencerminkan nilai pasar yang sesungguhnya, tetapi memiliki kelemahan berupa ketergantungan pada estimasi dan fluktuasi pasar yang tinggi. Secara keseluruhan, video ini menekankan pentingnya pemilihan metode pengukuran yang tepat agar laporan keuangan dapat memberikan informasi yang relevan, andal, dan mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara akurat.