གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Eka Saryuni

AKL A2026 -> Case

Eka Saryuni གིས-
Nama: Eka Saryuni
NPM: 2413031030

a. Kerangka Konseptual PSAK/IFRS berperan sebagai acuan ketika tidak ada standar khusus, dengan membantu manajemen menentukan pengakuan dan pengukuran berdasarkan prinsip dasar seperti relevansi dan penyajian yang jujur, sehingga tetap mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya.

b. Goodwill dapat diakui karena menggambarkan potensi manfaat di masa depan, tetapi jika didasarkan pada asumsi yang terlalu optimistis, nilainya bisa tidak mencerminkan realitas. Penilaian aset tidak berwujud dengan nilai wajar tanpa pasar aktif juga rawan subjektivitas, sehingga berpotensi bias.

c. Penggunaan professional judgment yang keliru dapat menyebabkan kesalahan material dalam laporan keuangan, menyesatkan pengguna, melanggar prinsip etika, dan menurunkan kepercayaan terhadap perusahaan.

d. Kasus ini dapat dijadikan contoh pembelajaran untuk melatih pola pikir kritis siswa serta menekankan bahwa akuntansi tidak hanya teknis, tetapi juga menuntut tanggung jawab dan etika.

EPE A2026 -> Diskusi

Eka Saryuni གིས-
Nama: Eka Saryuni
Npm: 2413031030

Pengukuran, penilaian, dan evaluasi dalam pendidikan berbeda pada peran dan tingkatannya. Pengukuran adalah kegiatan mengumpulkan data hasil belajar dalam bentuk angka. Penilaian adalah proses menafsirkan angka tersebut agar memiliki arti sesuai kriteria yang ditetapkan. Sedangkan evaluasi merupakan tahap pengambilan keputusan berdasarkan hasil penilaian.

Dari sisi urgensi, pengukuran menjadi dasar penyediaan data, penilaian membantu memahami tingkat pencapaian siswa, dan evaluasi menjadi yang paling penting karena menentukan langkah atau tindakan dalam proses pembelajaran.

TA2025 -> CASE STUDY 1

Eka Saryuni གིས-
Nama: Eka Saryuni
Npm: 2413031030

1. Penggunaan teknologi blockchain dalam sustainability reporting dapat memperkuat teori akuntansi yang menekankan reliabilitas dan transparansi informasi, karena sifat blockchain yang immutable dan dapat diaudit memberikan dasar objektif bagi pencatatan jejak karbon dan asal bahan baku. Dalam perspektif teori agensi dan teori sinyal, blockchain membantu mengurangi asimetri informasi dengan menyediakan bukti transaksi yang tidak dapat dimanipulasi, sehingga meningkatkan kepercayaan antara manajemen dan stakeholder.

2. Tantangan yang mungkin muncul bagi PT Hijau Lestari mencakup ketidakjelasan regulasi terkait penggunaan blockchain untuk pelaporan non-keuangan di Indonesia, termasuk belum adanya pedoman eksplisit dari OJK atau Kementerian terkait mengenai validitas data berbasis blockchain.Tantangan global juga muncul karena harmonisasi standar keberlanjutan seperti GRI, ISSB, dan EU CSRD masih berkembang, sehingga penggunaan blockchain harus mampu memenuhi kebutuhan berbagai standar sekaligus. Biaya implementasi, kebutuhan literasi digital manajemen, serta isu privasi data juga menjadi hambatan yang signifikan.

3. Rekomendasi strategis meliputi penerapan pilot project blockchain untuk area tertentu seperti pelacakan rantai pasok atau pengukuran jejak karbon sehingga perusahaan dapat menguji manfaat dan risiko sebelum implementasi penuh. PT Hijau Lestari perlu menyelaraskan desain sistem blockchain dengan prinsip teori akuntansi seperti relevansi dan reliabilitas, memastikan bahwa data yang dicatat memenuhi kriteria materialitas dan dapat diaudit.