Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011
Video ini membahas jenis penilaian hasil belajar secara lengkap. Penilaian formatif berjalan saat proses belajar, kasih umpan balik cepat via kuis harian atau observasi kelas. Penilaian sumatif ukur akhir kompetensi lewat ujian semester atau UN. Penilaian diagnostik temukan kesulitan awal pakai pre-test untuk sesuaikan pengajaran. Penilaian selektif pilih siswa unggul untuk kelas khusus atau beasiswa. Penilaian penempatan tentukan level siswa baru agar materi pas. Penilaian ipsatif bandingkan progres siswa dengan diri sendiri untuk motivasi pribadi. Kamu terapkan campuran ini di RPP Kurikulum Merdeka untuk nilai efektif di kelas ekonomi
Kiriman dibuat oleh Alissya Putri Kartika
EPE A2026 -> Diskusi
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011
Dalam konteks pendidikan, pengukuran, penilaian, dan evaluasi adalah tiga konsep yang saling berkaitan tetapi memiliki peran yang berbeda dan sama-sama penting. Pengukuran merujuk pada proses mengumpulkan data secara kuantitatif, misalnya melalui tes atau angka nilai, untuk mengetahui sejauh mana peserta didik mencapai suatu kompetensi. Penilaian lebih luas dari pengukuran karena tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga menafsirkan hasil tersebut untuk memahami kemampuan, kemajuan, dan kebutuhan belajar siswa. Sementara itu, evaluasi mencakup proses pengambilan keputusan berdasarkan hasil penilaian, seperti menentukan efektivitas metode pembelajaran, kurikulum, atau bahkan kebijakan pendidikan. Urgensinya terletak pada fungsinya masing-masing: pengukuran menyediakan data yang objektif, penilaian memberi makna pada data tersebut, dan evaluasi membantu guru atau lembaga pendidikan mengambil keputusan yang tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tanpa ketiganya, proses pendidikan akan kehilangan arah karena tidak ada dasar yang jelas untuk menilai keberhasilan maupun memperbaiki kekurangan.
EPE A2026 -> SUMMARY VIDEO
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011
video membahas pengertian dasar tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi dalam konteks pendidikan. tes adalah alat atau instrumen berupa soal, tugas, atau prosedur sistematis untuk mengumpul data tentang kemampuan siswa. kamu lihat contoh tes uraian yang minta jawaban bebas, atau tes objektif seperti pilihan ganda yang jawabannya tetap. tes fokus kumpul bukti empiris tentang pengetahuan, keterampilan, atau sikap siswa. pengukuran ambil langkah selanjutnya. misalnya, siswa jawab 80 dari 100 soal benar, maka skornya 80 poin. pengukuran pakai skala numerik atau kategorikal untuk deskripsikan performa siswa secara objektif. Ini beda dengan tes karena pengukuran proses kuantifikasi data, bukan alat pengumpulannya. evaluasi rangkai semuanya menjadi kesatiruan besar. Kamu nilai efektivitas program pembelajaran secara keseluruhan, termasuk tes, pengukuran, dan penilaian. evaluasi tanya apakah metode ajar capai tujuan, siswa berkembang, dan ada ruang perbaikan. Contoh, evaluasi akhir semester lihat tren nilai kelas untuk ubah strategi tahun depan. hubungan antar konsep ini berjenjang. tes hasilkan data mentah. pengukuran ubah data jadi angka. penilaian beri arti angka itu. evaluasi tarik kesimpulan sistematis untuk perbaiki proses belajar. kamu terapkan langsung saat buat RPP, desain asesmen formatif atau sumatif, dan analisis hasil belajar di kelas ekonomi. konsep ini dasar penilaian autentik sesuai kurikulum merdeka, bantu kamu ukur pencapaian kompetensi siswa secara tepat.
AKL A2026 -> Case
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011
a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS
Kerangka Konseptual berfungsi sebagai pedoman dasar ketika tidak ada PSAK yang secara spesifik mengatur suatu transaksi. Di situ dijelaskan tentang tujuan laporan keuangan, karakteristik kualitatif (relevan dan andal), serta definisi aset, liabilitas, pendapatan, dan beban.
Dalam kasus PT Edukasi Nusantara, manajemen bisa mengacu pada Kerangka Konseptual untuk memastikan bahwa kebijakan yang dipilih tetap mencerminkan substansi ekonomi, bukan hanya bentuk hukumnya. Jadi, Kerangka Konseptual membantu agar keputusan tetap logis, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
b. Analisis goodwill dan nilai wajar aset tidak berwujud
Pengakuan goodwill sebagai aset itu wajar dalam akuisisi, apalagi jika ada proyeksi pertumbuhan yang kuat. Namun, goodwill sangat bergantung pada estimasi masa depan. Kalau proyeksi pengguna terlalu optimis, nilai goodwill bisa menjadi terlalu tinggi dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Untuk aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna, penggunaan nilai wajar tanpa pasar aktif berarti penilaiannya banyak bergantung pada asumsi manajemen. Secara substansi ekonomi, bisa saja mencerminkan potensi bisnis digital. Tapi risikonya tinggi terhadap bias atau overstatement.
Dengan demikan, secara konsep bisa dibenarkan, tetapi harus didukung asumsi yang realistis dan transparan agar benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya.
c. Risiko dan implikasi etis jika professional judgment tidak tepat
Kalau professional judgment digunakan secara tidak objektif, risikonya cukup besar:
- Laporan keuangan bisa menyesatkan investor.
- Nilai aset dan laba bisa terlihat lebih tinggi dari kondisi riil.
- Kepercayaan publik terhadap perusahaan bisa turun.
- Berpotensi melanggar prinsip integritas dan objektivitas dalam etika profesi akuntan.
Secara moral, manajemen harus mengutamakan kejujuran dan transparansi. Professional judgment bukan alat untuk “mengatur” angka agar terlihat bagus, tapi untuk menyajikan informasi yang paling wajar dan masuk akal.
d. Sebagai contoh pembelajaran bagi peserta didik
Kasus ini bisa dijadikan bahan diskusi kelas tentang:
- Pentingnya memahami substansi ekonomi, bukan hanya aturan teknis.
- Peran etika dalam pengambilan keputusan akuntansi.
- Bahwa akuntansi bukan sekadar hitung-hitungan, tapi juga melibatkan pertimbangan dan tanggung jawab moral.
Sebagai calon pendidik ekonomi, saya akan menggunakan kasus ini untuk melatih mahasiswa berpikir kritis: apakah suatu kebijakan itu benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi, atau hanya menguntungkan manajemen. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya paham teori, tetapi juga sadar akan tanggung jawab moral dalam praktik akuntansi.
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011
Kelompok 2