Assalamu'alaikum wr, wb.
Nama : Najwa Denita Syafitri
Npm : 2413031065
Jurnal diatas menjelaskan bahwa akuntansi selama ini sering disebut sebagai ilmu pengukuran karena tujuannya adalah mengukur dan melaporkan informasi keuangan. Dalam teori pengukuran sosial (representational measurement theory), setiap proses pengukuran harus memenuhi beberapa syarat penting. Pertama, harus jelas apa yang diukur. Kedua, harus ada skala pengukuran yang digunakan secara konsisten. Ketiga, hasil pengukuran harus benar-benar menggambarkan kenyataan yang ada. Sayangnya, praktik akuntansi sering kali tidak memenuhi ketiga hal ini. Misalnya, nilai “value” atau “cost” dalam laporan keuangan tidak selalu memiliki dasar nyata yang pasti dan lebih banyak bergantung pada asumsi atau perkiraan.
Laporan keuangan juga disebut sebagai hasil proses pengukuran, tetapi banyak isinya yang tidak bisa disebut pengukuran sejati karena bersifat subjektif dan tidak dapat diverifikasi secara ilmiah. Contohnya, nilai aset atau laba sering ditentukan berdasarkan estimasi masa depan, bukan hasil pengamatan langsung.
Musvoto juga meninjau dua belas tujuan laporan keuangan yang pernah ditetapkan oleh Trueblood Committee (1971). Setelah dianalisis, ia menyimpulkan bahwa tidak satu pun dari tujuan tersebut benar-benar sejalan dengan prinsip teori pengukuran yang representasional. Alasannya karena informasi akuntansi sering tidak pasti, tidak objektif, dan berbeda antarperusahaan, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai hasil pengukuran yang sah.
Nama : Najwa Denita Syafitri
Npm : 2413031065
Jurnal diatas menjelaskan bahwa akuntansi selama ini sering disebut sebagai ilmu pengukuran karena tujuannya adalah mengukur dan melaporkan informasi keuangan. Dalam teori pengukuran sosial (representational measurement theory), setiap proses pengukuran harus memenuhi beberapa syarat penting. Pertama, harus jelas apa yang diukur. Kedua, harus ada skala pengukuran yang digunakan secara konsisten. Ketiga, hasil pengukuran harus benar-benar menggambarkan kenyataan yang ada. Sayangnya, praktik akuntansi sering kali tidak memenuhi ketiga hal ini. Misalnya, nilai “value” atau “cost” dalam laporan keuangan tidak selalu memiliki dasar nyata yang pasti dan lebih banyak bergantung pada asumsi atau perkiraan.
Laporan keuangan juga disebut sebagai hasil proses pengukuran, tetapi banyak isinya yang tidak bisa disebut pengukuran sejati karena bersifat subjektif dan tidak dapat diverifikasi secara ilmiah. Contohnya, nilai aset atau laba sering ditentukan berdasarkan estimasi masa depan, bukan hasil pengamatan langsung.
Musvoto juga meninjau dua belas tujuan laporan keuangan yang pernah ditetapkan oleh Trueblood Committee (1971). Setelah dianalisis, ia menyimpulkan bahwa tidak satu pun dari tujuan tersebut benar-benar sejalan dengan prinsip teori pengukuran yang representasional. Alasannya karena informasi akuntansi sering tidak pasti, tidak objektif, dan berbeda antarperusahaan, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai hasil pengukuran yang sah.