Nama : Vina Nailatul Izza
NPM : 2413031007
Selama periode harga meningkat, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah jika dibandingkan dengan metode FIFO. Hal ini terjadi karena metode LIFO (Last-In, First-Out) mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli (yang harganya lebih tinggi di masa inflasi) adalah yang pertama kali dikeluarkan sebagai Harga Pokok Penjualan. Akibatnya, beban Harga Pokok Penjualan menjadi lebih tinggi, yang secara langsung akan mengurangi laba kotor dan laba bersih. Sebaliknya, metode FIFO (First-In, First-Out) mengeluarkan barang yang pertama dibeli (yang harganya lebih rendah) sebagai Harga Pokok Penjualan, sehingga beban ini nilainya lebih rendah dan laba bersih yang dilaporkan menjadi lebih tinggi.
Sebaliknya, selama periode penurunan harga, situasinya akan terbalik. Metode LIFO justru akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi daripada FIFO. Pada situasi deflasi ini, barang yang terakhir dibeli memiliki harga yang lebih rendah. Dengan LIFO, barang-barang berharga rendah ini yang dihitung sebagai Harga Pokok Penjualan, sehingga bebannya menjadi rendah. Beban yang rendah ini kemudian menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi. Sementara itu, FIFO akan mengeluarkan barang yang pertama dibeli yang harganya lebih tinggi sebagai Harga Pokok Penjualan, yang menyebabkan bebannya lebih tinggi dan laba bersihnya menjadi lebih rendah.
Secara konkret, pilihan metode akuntansi ini tidak mengubah arus kas fisik barang yang sebenarnya, tetapi memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap pelaporan laba bersih perusahaan, yang pada akhirnya mempengaruhi analisis kinerja, pajak yang dibayar, dan keputusan investor.