Kiriman dibuat oleh Shafa Djiana Wardani

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 2

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah pada periode harga meningkat. Hal ini terjadi karena LIFO membebankan biaya persediaan yang paling baru, yang harganya lebih tinggi, ke harga pokok penjualan. Akibatnya, harga pokok penjualan menjadi lebih besar dan laba bersih menjadi lebih kecil dibandingkan FIFO.
Sebaliknya, FIFO menggunakan biaya persediaan yang lebih lama dan lebih rendah sebagai harga pokok penjualan pada saat harga meningkat. Dampaknya, harga pokok penjualan lebih kecil dan laba bersih yang dilaporkan menjadi lebih tinggi.
Pada periode penurunan harga, pengaruhnya berbalik. LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO, karena biaya persediaan terbaru yang lebih rendah dibebankan ke harga pokok penjualan. Sementara itu, FIFO akan membebankan biaya persediaan lama yang lebih tinggi, sehingga harga pokok penjualan lebih besar dan laba bersih lebih rendah. Analisis ini menjelaskan bahwa perbedaan metode penilaian persediaan memengaruhi waktu pengakuan laba, bukan arus kas aktual perusahaan.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 1

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Metode FIFO, rata-rata tertimbang, dan LIFO lebih sering digunakan dalam penilaian persediaan karena lebih praktis dan mudah diterapkan dibandingkan metode identifikasi khusus. Metode FIFO mengasumsikan bahwa barang yang pertama dibeli adalah yang pertama dijual, sehingga persediaan akhir mencerminkan harga yang lebih mendekati harga pasar saat ini. Secara teoritis, FIFO cukup layak dalam menilai aktiva karena nilai persediaan di neraca menjadi lebih realistis, terutama saat harga mengalami kenaikan. Namun, dari sisi penentuan laba, FIFO dapat menghasilkan laba yang lebih tinggi karena harga pokok penjualan berasal dari barang lama dengan biaya lebih rendah, sehingga laba bisa terpengaruh oleh inflasi.

Metode rata-rata tertimbang menghitung biaya persediaan dengan merata-ratakan seluruh biaya barang yang tersedia untuk dijual. Metode ini dianggap paling stabil karena dapat mengurangi fluktuasi laba akibat perubahan harga yang tajam. Secara teoritis, metode ini cukup adil dalam menentukan laba karena tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah, serta memberikan nilai persediaan yang juga berada di posisi tengah di neraca. Kelemahannya adalah nilai persediaan dan laba tidak sepenuhnya mencerminkan harga terkini maupun biaya historis tertentu.

Metode LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli adalah yang pertama dijual. Dari sisi penentuan laba, LIFO dianggap relevan secara teoritis karena mencocokkan biaya terbaru dengan pendapatan saat ini, sehingga laba lebih mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya, terutama saat harga meningkat. Namun, kelemahan LIFO terletak pada penilaian aktiva, karena persediaan akhir di neraca dinilai berdasarkan harga lama yang kurang relevan dengan kondisi pasar saat ini.

Berbeda dengan ketiga metode tersebut, metode identifikasi khusus menilai persediaan berdasarkan biaya aktual dari masing-masing barang. Secara teoritis, metode ini paling akurat dalam menentukan laba dan nilai aktiva karena benar-benar mencerminkan biaya yang sesungguhnya. Namun, metode ini kurang layak diterapkan secara luas karena sulit digunakan untuk barang yang homogen dan berjumlah banyak, serta berpotensi dimanfaatkan untuk mengatur laba secara sengaja.

Secara keseluruhan, FIFO, rata-rata tertimbang, dan LIFO lebih sering digunakan karena lebih praktis dan konsisten, meskipun masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan dalam menentukan laba dan menilai aktiva. Metode identifikasi khusus paling tepat secara teoritis, tetapi penggunaannya terbatas pada kondisi tertentu sehingga jarang diterapkan dalam praktik umum.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Menurut saya, jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah pada saat terjadi kenaikan harga. Hal ini karena pada metode LIFO, persediaan yang terakhir dibeli dengan harga lebih tinggi dianggap terjual terlebih dahulu, sehingga harga pokok penjualan menjadi lebih besar dan laba bersih menjadi lebih kecil. Sebaliknya, pada metode FIFO harga pokok penjualan berasal dari persediaan yang lebih lama dengan harga lebih rendah, sehingga laba bersih cenderung lebih tinggi.

Sebaliknya, pada saat terjadi penurunan harga, metode LIFO justru dapat menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO. Hal ini karena barang yang terakhir dibeli dengan harga lebih rendah dianggap terjual terlebih dahulu, sehingga harga pokok penjualan menjadi lebih kecil dan laba bersih meningkat. Sementara itu, pada metode FIFO, harga pokok penjualan berasal dari persediaan lama yang berharga lebih tinggi, sehingga laba bersih menjadi lebih rendah.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Pengertian dan jenis instrumen keuangan
Instrumen keuangan adalah kontrak yang menimbulkan aset keuangan bagi satu pihak dan kewajiban atau ekuitas bagi pihak lain. Instrumen keuangan terdiri dari aset keuangan seperti kas, piutang, saham, dan obligasi, liabilitas keuangan seperti utang usaha dan utang bank, serta instrumen ekuitas yang menunjukkan hak pemilik atas perusahaan.

2. Kas dan pengendalian internal terhadap kas
Kas adalah aset paling lancar yang berupa uang tunai dan saldo di bank yang siap digunakan. Karena kas mudah disalahgunakan, perusahaan perlu pengendalian internal seperti pemisahan tugas, penggunaan bukti transaksi, rekonsiliasi bank secara rutin, dan pengawasan agar kas aman dan tercatat dengan benar.

3. Penyajian dan pengungkapan kas dalam laporan keuangan
Kas disajikan sebagai aset lancar dalam neraca. Jumlah kas yang disajikan harus menunjukkan kas yang benar-benar bisa digunakan. Jika ada kas yang dibatasi penggunaannya atau setara kas, hal tersebut harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.

4. Pengertian dan pengakuan piutang
Piutang adalah hak perusahaan untuk menerima uang dari pihak lain akibat penjualan kredit atau transaksi lain. Piutang diakui saat barang atau jasa diserahkan dan perusahaan memiliki hak untuk menagih, serta jumlahnya dapat ditentukan dengan jelas.

5. Penilaian, penurunan nilai, penyajian, dan pengungkapan piutang
Piutang dicatat sebesar nilai yang diperkirakan dapat ditagih. Jika ada kemungkinan piutang tidak tertagih, perusahaan membentuk cadangan kerugian piutang. Dalam laporan keuangan, piutang disajikan sebagai aset lancar dan cadangan kerugian piutang sebagai pengurang piutang. Perusahaan juga perlu mengungkapkan kebijakan kredit dan risiko piutang.

6. Analisis kas dan piutang
Analisis kas dilakukan untuk melihat kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek, biasanya menggunakan rasio likuiditas. Analisis piutang dilakukan untuk menilai kecepatan penagihan piutang melalui perputaran piutang dan rata-rata periode penagihan.