Kiriman dibuat oleh Shafa Djiana Wardani

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Pencatatan.
Pencatatan aset tak berwujud dalam laporan keuangan dimulai dari pengakuan awal, yaitu ketika aset tersebut dapat diidentifikasi, dikendalikan oleh perusahaan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi di masa depan. Aset tak berwujud dicatat sebesar biaya perolehan, misalnya biaya pembelian hak paten, lisensi, atau biaya pengembangan yang memenuhi syarat. Namun, tidak semua pengeluaran bisa langsung diakui sebagai aset, karena biaya riset umumnya dibebankan langsung sebagai beban pada periode terjadinya.

Penilaian.
Untuk penilaian, aset tak berwujud dinilai sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan akumulasi penurunan nilai. Jika aset tak berwujud memiliki umur manfaat terbatas, maka diamortisasi secara sistematis selama umur manfaat tersebut. Sebaliknya, jika aset tak berwujud memiliki umur manfaat tidak terbatas, maka tidak diamortisasi, tetapi harus diuji penurunan nilainya secara berkala untuk memastikan nilainya masih wajar.

Penyajian.
Dalam penyajian laporan keuangan, aset tak berwujud disajikan dalam laporan posisi keuangan sebagai bagian dari aset tidak lancar. Perusahaan juga perlu melakukan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan, seperti jenis aset tak berwujud yang dimiliki, metode amortisasi yang digunakan, umur manfaat, nilai tercatat, serta adanya penurunan nilai. Pengungkapan ini penting agar pengguna laporan keuangan dapat memahami nilai dan peran aset tak berwujud dalam mendukung kinerja dan posisi keuangan perusahaan.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Perbedaan antara aset tetap dan properti investasi.
Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan operasional utama, seperti gedung kantor, mesin, dan peralatan. Aset ini dipakai untuk menghasilkan barang atau jasa dan manfaatnya digunakan dalam jangka panjang. Sementara itu, properti investasi adalah tanah atau bangunan yang dimiliki bukan untuk dipakai sendiri dalam operasional, tetapi untuk memperoleh pendapatan sewa, kenaikan nilai, atau keduanya. Jadi, perbedaan utamanya terletak pada tujuan kepemilikan. Aset tetap digunakan secara langsung dalam operasi perusahaan, sedangkan properti investasi dimiliki sebagai sarana investasi.

Jika saya diminta memilih, saya cenderung memilih properti investasi. Karena menurut saya, properti investasi lebih fleksibel karena dapat memberikan pendapatan pasif melalui sewa sekaligus peluang kenaikan nilai aset dalam jangka panjang. Selain itu, properti investasi tidak langsung terikat pada aktivitas operasional, sehingga risikonya lebih terpisah dari kinerja operasional perusahaan. Dari sudut pandang akuntansi, properti investasi juga dapat diukur dengan model nilai wajar, sehingga nilai aset bisa mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.

Sebagai rujukan, PSAK 13 tentang Properti Investasi menjelaskan bahwa properti investasi dimiliki untuk menghasilkan sewa atau kenaikan nilai, sedangkan PSAK 16 tentang Aset Tetap menegaskan bahwa aset tetap digunakan untuk produksi, penyediaan jasa, atau tujuan administratif. Berdasarkan perbedaan tujuan tersebut, menurut saya properti investasi lebih menarik jika tujuan utamanya adalah pertumbuhan nilai dan pendapatan jangka panjang, bukan sekadar mendukung operasional.