Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C
Pencatatan.
Pencatatan aset tak berwujud dalam laporan keuangan dimulai dari pengakuan awal, yaitu ketika aset tersebut dapat diidentifikasi, dikendalikan oleh perusahaan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi di masa depan. Aset tak berwujud dicatat sebesar biaya perolehan, misalnya biaya pembelian hak paten, lisensi, atau biaya pengembangan yang memenuhi syarat. Namun, tidak semua pengeluaran bisa langsung diakui sebagai aset, karena biaya riset umumnya dibebankan langsung sebagai beban pada periode terjadinya.
Penilaian.
Untuk penilaian, aset tak berwujud dinilai sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan akumulasi penurunan nilai. Jika aset tak berwujud memiliki umur manfaat terbatas, maka diamortisasi secara sistematis selama umur manfaat tersebut. Sebaliknya, jika aset tak berwujud memiliki umur manfaat tidak terbatas, maka tidak diamortisasi, tetapi harus diuji penurunan nilainya secara berkala untuk memastikan nilainya masih wajar.
Penyajian.
Dalam penyajian laporan keuangan, aset tak berwujud disajikan dalam laporan posisi keuangan sebagai bagian dari aset tidak lancar. Perusahaan juga perlu melakukan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan, seperti jenis aset tak berwujud yang dimiliki, metode amortisasi yang digunakan, umur manfaat, nilai tercatat, serta adanya penurunan nilai. Pengungkapan ini penting agar pengguna laporan keuangan dapat memahami nilai dan peran aset tak berwujud dalam mendukung kinerja dan posisi keuangan perusahaan.
NPM: 2413031080
Kelas: 24C
Pencatatan.
Pencatatan aset tak berwujud dalam laporan keuangan dimulai dari pengakuan awal, yaitu ketika aset tersebut dapat diidentifikasi, dikendalikan oleh perusahaan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi di masa depan. Aset tak berwujud dicatat sebesar biaya perolehan, misalnya biaya pembelian hak paten, lisensi, atau biaya pengembangan yang memenuhi syarat. Namun, tidak semua pengeluaran bisa langsung diakui sebagai aset, karena biaya riset umumnya dibebankan langsung sebagai beban pada periode terjadinya.
Penilaian.
Untuk penilaian, aset tak berwujud dinilai sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan akumulasi penurunan nilai. Jika aset tak berwujud memiliki umur manfaat terbatas, maka diamortisasi secara sistematis selama umur manfaat tersebut. Sebaliknya, jika aset tak berwujud memiliki umur manfaat tidak terbatas, maka tidak diamortisasi, tetapi harus diuji penurunan nilainya secara berkala untuk memastikan nilainya masih wajar.
Penyajian.
Dalam penyajian laporan keuangan, aset tak berwujud disajikan dalam laporan posisi keuangan sebagai bagian dari aset tidak lancar. Perusahaan juga perlu melakukan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan, seperti jenis aset tak berwujud yang dimiliki, metode amortisasi yang digunakan, umur manfaat, nilai tercatat, serta adanya penurunan nilai. Pengungkapan ini penting agar pengguna laporan keuangan dapat memahami nilai dan peran aset tak berwujud dalam mendukung kinerja dan posisi keuangan perusahaan.