གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Shafa Djiana Wardani

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Jurnal ini membahas peran measurement theory dalam mendukung tujuan pelaporan keuangan, khususnya dalam menentukan bagaimana elemen laporan keuangan seharusnya diukur agar informasi yang dihasilkan bermanfaat bagi pengguna. Penulis menekankan bahwa pengukuran bukan sekadar proses teknis, melainkan fondasi konseptual yang menentukan kualitas informasi akuntansi. Tanpa dasar teori pengukuran yang jelas, angka dalam laporan keuangan berpotensi kehilangan makna ekonomi dan menurunkan keandalan pengambilan keputusan.

Jurnal ini menjelaskan bahwa tujuan utama pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan dan dapat diandalkan bagi investor dan kreditor. Oleh karena itu, basis pengukuran harus selaras dengan tujuan tersebut. Measurement theory membantu menjelaskan hubungan antara atribut ekonomi yang diukur dengan angka akuntansi yang disajikan, serta menyoroti keterbatasan masing-masing basis pengukuran seperti biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis unggul dalam hal objektivitas dan verifiabilitas, sedangkan nilai wajar lebih relevan karena mencerminkan kondisi ekonomi terkini, tetapi mengandung tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi. Dengan demikian, measurement theory berperan penting dalam mendukung kerangka konseptual akuntansi dan membantu standar akuntansi menghasilkan informasi keuangan yang lebih bermakna dan berguna bagi pengambilan keputusan ekonomi.

TA C2025 -> DISKUSI

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Setelah menyimak video tersebut, saya berpendapat bahwa pengukuran dalam akuntansi merupakan bagian yang sangat krusial karena secara langsung menentukan kualitas angka yang disajikan dalam laporan keuangan. Video ini dengan jelas menunjukkan bahwa laporan keuangan bukan sekadar kumpulan angka, melainkan hasil dari proses konseptual yang didasarkan pada kerangka pemikiran tertentu. Tanpa dasar pengukuran yang jelas, informasi keuangan berisiko menjadi tidak relevan atau tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

Menurut saya, penjelasan tentang berbagai basis pengukuran seperti biaya historis, nilai wajar, biaya kini, dan nilai pakai memperlihatkan bahwa tidak ada satu metode yang selalu paling benar untuk semua kondisi. Biaya historis unggul dari sisi keandalan dan kemudahan verifikasi, tetapi sering kali kurang mencerminkan nilai ekonomi terkini. Sebaliknya, nilai wajar dan nilai pakai lebih relevan karena mencerminkan kondisi saat ini atau manfaat ekonomi masa depan, namun memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi karena bergantung pada estimasi dan asumsi. Hal ini menegaskan adanya trade off antara relevansi dan faithful representation dalam praktik akuntansi.

Saya juga melihat bahwa video ini menekankan peran penting kerangka konseptual sebagai pedoman, bukan aturan teknis yang kaku. Framework membantu kita memahami alasan di balik pemilihan suatu basis pengukuran, sementara standar akuntansi seperti IFRS memberikan aturan yang lebih rinci untuk penerapannya. Dengan demikian, akuntansi tidak hanya bersifat mekanis, tetapi juga membutuhkan pertimbangan profesional dan pemahaman konteks ekonomi.

TA C2025 -> CASE STUDY

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Keputusan PT Garuda Sejahtera menggunakan nilai wajar sebagai dasar pengukuran aset pesawat dapat dibenarkan secara konseptual jika dilihat dari kerangka konseptual IFRS. IFRS menekankan relevansi dan substance over form, sehingga nilai wajar dianggap mampu mencerminkan kondisi ekonomi aset secara lebih aktual dan bermanfaat bagi investor, khususnya investor global. Namun, dalam konteks Indonesia, keputusan ini patut dikritisi karena salah satu syarat utama nilai wajar adalah adanya pasar aktif dan data yang andal. Ketika pasar pesawat di Indonesia terbatas, penentuan nilai wajar menjadi sangat subjektif dan bergantung pada asumsi manajemen, sehingga berpotensi mengurangi faithful representation. Dalam kerangka konseptual PSAK, meskipun telah mengadopsi IFRS, keandalan dan kehati-hatian tetap menjadi pertimbangan penting. Oleh karena itu, penggunaan nilai wajar secara konseptual dapat diterima, tetapi penerapannya perlu dievaluasi secara kritis agar tidak mengorbankan keandalan informasi bagi pengguna laporan keuangan di Indonesia.

2. a. Tujuan laporan keuangan
Baik PSAK maupun IFRS bertujuan menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan ekonomi. Perbedaannya, IFRS lebih berorientasi pada kebutuhan pengguna global dan pasar modal internasional, sedangkan PSAK lebih mempertimbangkan kondisi pengguna laporan keuangan di Indonesia, termasuk regulator dan pelaku usaha domestik.

b. Karakteristik kualitatif informasi
Kedua kerangka menekankan relevansi dan representasi setia sebagai karakteristik fundamental, serta ketepatan waktu, keterbandingan, keterverifikasian, dan keterpahaman sebagai karakteristik peningkat. Namun, dalam praktik, IFRS lebih memberi ruang pada penggunaan estimasi berbasis nilai wajar, sedangkan PSAK cenderung lebih berhati-hati dengan tetap mempertimbangkan tingkat keandalan informasi.

c. Basis pengukuran
IFRS mendorong penggunaan nilai wajar untuk mencerminkan nilai ekonomi terkini, sementara PSAK pada dasarnya mengadopsi pendekatan yang sama tetapi sering mengombinasikannya dengan biaya historis, menyesuaikan dengan ketersediaan data pasar dan kondisi ekonomi Indonesia.

d. Asumsi entitas dan kelangsungan usaha
Baik PSAK maupun IFRS menggunakan asumsi entitas dan going concern, yaitu perusahaan diasumsikan akan terus beroperasi di masa depan. Perbedaannya lebih terletak pada penilaian risiko dan ketidakpastian, yang dalam PSAK lebih mempertimbangkan konteks ekonomi lokal.

3. Saya tidak sepenuhnya setuju jika Indonesia mengikuti kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal. Meskipun IFRS meningkatkan daya banding internasional dan dapat menarik investor asing, kondisi ekonomi, sosial, dan tingkat kematangan pasar Indonesia belum sepenuhnya mendukung penerapan penuh tersebut. Pasar yang belum aktif, keterbatasan data, serta perbedaan tingkat pemahaman pelaku usaha dapat menurunkan keandalan informasi jika IFRS diterapkan secara mentah. Oleh karena itu, adopsi IFRS melalui PSAK dengan penyesuaian lokal merupakan pilihan yang lebih tepat agar standar akuntansi tetap selaras secara global, tetapi tetap relevan dan andal bagi kondisi Indonesia.

TA C2025 -> DISKUSI

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Setelah saya menyimak video tersebut, dapat saya simpulkan bahwa Conceptual framework merupakan kerangka dasar yang digunakan oleh Financial Accounting Standards Board (FASB) dalam menyusun Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) di Amerika Serikat. Sebelum adanya FASB, lembaga pembuat standar akuntansi seperti Committee on Accounting Procedure dan Accounting Principles Board belum memiliki landasan teori yang jelas, sehingga standar akuntansi dibuat secara reaktif dan hanya menanggapi permasalahan yang muncul. Hal ini menimbulkan kritik karena tidak adanya prinsip umum yang konsisten. Untuk mengatasi hal tersebut, FASB menyusun kerangka konseptual melalui Statements of Financial Accounting Concepts (SFAC) yang kemudian menjadi pedoman utama dalam pengembangan standar akuntansi keuangan.

Tujuan utama dari pelaporan keuangan dalam conceptual framework adalah menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan ekonomi. Informasi dikatakan berguna apabila mampu memengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan, seperti keputusan untuk berinvestasi atau memberikan pinjaman. Laporan keuangan disusun berdasarkan elemen-elemen dasar yang meliputi aset, liabilitas, dan ekuitas yang diukur pada suatu titik waktu tertentu, serta pendapatan, beban, laba, dan rugi yang diukur selama suatu periode. Selain itu, terdapat pula elemen investasi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik seperti dividen yang menjadi bagian dari pelaporan keuangan.

Agar informasi akuntansi dapat memberikan manfaat yang optimal, informasi tersebut harus memiliki karakteristik kualitatif tertentu. Karakteristik kualitatif dibagi menjadi dua kelompok, yaitu karakteristik fundamental dan karakteristik peningkat. Karakteristik fundamental terdiri dari relevansi dan faithful representation. Relevansi berarti informasi memiliki kemampuan untuk memengaruhi keputusan pengguna, baik melalui nilai prediktif maupun nilai konfirmatori, serta harus bersifat material. Informasi yang terlalu kecil dan tidak berdampak pada keputusan dianggap tidak material. Sementara itu, faithful representation berarti informasi harus menggambarkan kondisi keuangan perusahaan secara jujur dan akurat, bebas dari kesalahan, lengkap, dan tidak bias.

Selain karakteristik fundamental, terdapat pula karakteristik peningkat yang mendukung kualitas informasi akuntansi, yaitu ketepatan waktu, keterbandingan, keterverifikasian, dan keterpahaman. Ketepatan waktu memastikan informasi tersedia saat masih relevan untuk digunakan, keterbandingan memungkinkan pengguna membandingkan laporan keuangan antar periode atau antar perusahaan, keterverifikasian menunjukkan bahwa informasi dapat diuji kebenarannya oleh pihak lain, dan keterpahaman memastikan informasi dapat dipahami oleh pengguna yang memiliki pengetahuan dasar tentang akuntansi. Dengan adanya conceptual framework ini, penyusunan laporan keuangan tidak hanya berfokus pada pencatatan angka, tetapi juga pada penyajian informasi yang logis, konsisten, dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan ekonomi.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 2024C

Jurnal berjudul “Restrictions in the Conceptual Framework for Financial Reporting: A Review of the Literature” membahas tentang batasan-batasan dalam Conceptual Framework for Financial Reporting (CFW) serta pengaruhnya terhadap kualitas pelaporan keuangan. Conceptual Framework for Financial Reporting (CFW) yaitu kerangka dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. Dalam konteks globalisasi, standar pelaporan keuangan dunia seperti FASB dari Amerika dan IASB dari internasional berupaya untuk menyatukan prinsip agar laporan keuangan bisa lebih seragam dan mudah dipahami di berbagai negara.

Conceptual Framework for Financial Reporting (CFW) memiliki peran penting dalam menentukan tujuan dan kualitas informasi keuangan yang disajikan perusahaan. Namun, dalam penerapannya masih terdapat sejumlah batasan yang memengaruhi keandalan dan kegunaan laporan keuangan. Beberapa di antaranya yaitu keterbandingan informasi (comparability), penggunaan biaya historis (historical cost), kebijakan akuntansi yang berbeda antarperusahaan, estimasi akuntansi yang bisa berubah, adanya kemungkinan kesalahan atau kecurangan, serta sikap konservatif dalam pencatatan keuangan.

Selain itu, jurnal ini juga menyoroti bahwa laporan keuangan tidak bisa sepenuhnya menggambarkan nilai sebenarnya dari suatu perusahaan karena adanya faktor eksternal seperti kondisi ekonomi dan kebijakan akuntansi yang digunakan. Oleh karena itu, kerangka konseptual ini terus dikembangkan agar dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih konsisten, transparan, dan relevan bagi pengguna informasi seperti investor, kreditor, dan pihak lainnya.