གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Shafa Djiana Wardani

TA C2025 -> ACTIVITYl RESUME

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Resume Jurnal 1
Jurnal pertama membahas perbandingan penerapan teori normatif dan teori positif dalam kebijakan akuntansi pada dua perusahaan besar Indonesia, yaitu PT Astra International Tbk dari sektor manufaktur dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dari sektor teknologi. Fokus utamanya adalah bagaimana karakteristik industri, tekanan regulasi, dan motivasi manajerial memengaruhi pilihan kebijakan akuntansi. Temuan utama menunjukkan bahwa Astra lebih dominan menggunakan pendekatan normatif. Perusahaan ini menekankan kepatuhan pada standar akuntansi, transparansi, dan akuntabilitas demi menjaga legitimasi sosial dan kepercayaan pemangku kepentingan. Hal ini masuk akal mengingat industri manufaktur memiliki risiko sosial dan lingkungan yang tinggi. Sebaliknya, Telkom cenderung mengadopsi pendekatan teori positif. Kebijakan akuntansinya lebih fleksibel dan adaptif terhadap dinamika bisnis teknologi yang cepat berubah. Akuntansi diposisikan sebagai alat strategis untuk mendukung target pasar modal, pengelolaan laba, dan penciptaan nilai perusahaan. Jurnal ini menyimpulkan bahwa kebijakan akuntansi pada praktiknya merupakan hasil negosiasi antara ideal normatif dan kepentingan rasional, sehingga tidak ada satu pendekatan yang sepenuhnya unggul untuk semua konteks industri .

Resume Jurnal 2
Jurnal kedua bersifat konseptual dan menelaah Positive Accounting Theory secara mendalam, khususnya dalam kaitannya dengan pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajemen. Artikel ini menegaskan bahwa tujuan utama teori positif adalah menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi yang benar-benar terjadi, bukan menentukan bagaimana akuntansi seharusnya dilakukan. Pembahasan berpusat pada tiga hipotesis utama teori akuntansi positif, yaitu bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis, dan political cost hypothesis. Ketiganya menjelaskan bahwa pilihan kebijakan akuntansi sangat dipengaruhi oleh insentif ekonomi, kontrak, serta tekanan politik yang dihadapi manajemen. Jurnal ini juga mengulas berbagai kritik terhadap teori positif, baik dari sisi metodologi maupun filsafat ilmu, namun menegaskan bahwa teori ini tetap relevan karena kemampuannya menjelaskan perilaku nyata manajemen dalam konteks pasar dan kontrak. Kesimpulannya, meskipun menuai kritik, Positive Accounting Theory masih menjadi landasan penting dalam riset akuntansi empiris karena membantu memahami mengapa manajemen memilih kebijakan akuntansi tertentu dalam situasi tertentu .

Opini
Menurut saya, kedua jurnal ini saling melengkapi dengan baik. Jurnal kedua memberikan fondasi teoritis yang kuat tentang mengapa manajemen bertindak oportunistis dan rasional dalam memilih kebijakan akuntansi. Sementara itu, jurnal pertama menunjukkan bagaimana teori tersebut benar-benar tercermin dalam praktik nyata di Indonesia, dengan konteks industri dan regulasi yang berbeda. Saya sepakat dengan kesimpulan dari jurnal pertama bahwa perdebatan normatif versus positif seharusnya tidak dipahami secara terpisah. Dalam praktik, perusahaan tidak mungkin sepenuhnya normatif atau sepenuhnya positif. Kepatuhan pada standar tetap penting untuk menjaga kredibilitas, tetapi fleksibilitas juga dibutuhkan agar laporan keuangan relevan dengan realitas bisnis. Jika keduanya dibaca bersama, pemahaman tentang kebijakan akuntansi menjadi lebih utuh. Akuntansi tidak hanya soal aturan yang ideal, tetapi juga tentang bagaimana manusia, insentif, dan lingkungan bisnis saling berinteraksi dalam pengambilan keputusan.

TA C2025 -> CASE STUDY

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Penggunaan fair value pada aset tetap PT Nusantara Properti memiliki kelebihan utama dari sisi relevansi. Fair value (nilai wajar) mampu mencerminkan kondisi pasar properti terkini yang bersifat dinamis, sehingga memberikan gambaran yang lebih aktual mengenai nilai ekonomi aset perusahaan. Informasi ini sangat membantu investor dalam menilai posisi keuangan, potensi pertumbuhan, serta risiko perusahaan, terutama di sektor properti yang sangat sensitif terhadap perubahan pasar. Namun, kelemahannya terletak pada keandalan pengukuran. Fair value sangat bergantung pada asumsi penilai dan model estimasi, apalagi jika pasar aktif tidak sepenuhnya tersedia. Hal ini membuka ruang subjektivitas dan potensi bias, sehingga menimbulkan keraguan atas ketepatan angka yang disajikan. Sebaliknya, historical cost (biaya historis) lebih andal dan mudah diverifikasi karena berbasis transaksi nyata, tetapi sering kali kehilangan relevansi karena tidak mencerminkan nilai ekonomi aset saat ini.

2. Dalam kerangka IFRS dan PSAK, nilai wajar memang dirancang untuk meningkatkan relevansi laporan keuangan, khususnya bagi investor pasar modal. Di Indonesia, penggunaan nilai wajar dapat meningkatkan kualitas informasi dengan didukung oleh penilaian independen yang kompeten, metodologi yang transparan, dan pengungkapan yang memadai. Tantangannya adalah memastikan bahwa peningkatan relevansi tidak mengorbankan keandalan. Dalam pasar properti Indonesia yang tingkat likuiditas dan keterbukaan informasinya belum merata, nilai wajar harus diterapkan dengan kehati hatian tinggi. Artinya, relevansi dapat meningkat, tetapi hanya jika disertai pengendalian kualitas estimasi dan pengungkapan asumsi secara jelas.

3. Jika saya menjadi anggota DSAK IAI, saya akan merekomendasikan penggunaan nilai wajar untuk aset tetap sektor properti dengan pendekatan selektif dan terkontrol. Nilai wajar sebaiknya diperkenankan karena sifat bisnis properti memang sangat terkait dengan nilai pasar. Namun, kebijakan tersebut harus disertai persyaratan ketat terkait independensi penilai, konsistensi metode penilaian, serta pengungkapan asumsi dan sensitivitas nilai. Selain itu, surplus revaluasi sebaiknya tidak langsung memengaruhi laba rugi agar tidak menimbulkan ilusi kinerja. Dengan pendekatan ini, prinsip relevansi dapat tercapai tanpa mengabaikan faithful representation dan kehati-hatian dalam pelaporan keuangan.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Jurnal Historical Costs versus Fair Value Measurement in Financial Accounting membahas perdebatan mendasar mengenai penggunaan biaya historis dan nilai wajar sebagai basis pengukuran dalam akuntansi keuangan. Penulis menegaskan bahwa pengukuran merupakan isu inti karena secara langsung memengaruhi kualitas informasi laporan keuangan, terutama pada saat pengakuan awal dan pada tanggal laporan posisi keuangan. Jurnal ini menjelaskan bahwa biaya historis menekankan pengukuran berbasis entitas dan hanya disesuaikan ketika terjadi penurunan nilai.

Pendekatan ini dinilai lebih andal dan mudah diverifikasi, tetapi memiliki keterbatasan dalam mencerminkan kondisi ekonomi terkini. Sebaliknya, nilai wajar berupaya merefleksikan kondisi pasar saat ini dan dianggap lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan, khususnya investor dan kreditor. Namun, nilai wajar juga mengandung risiko tinggi, terutama ketika tidak terdapat pasar aktif sehingga pengukuran bergantung pada estimasi dan asumsi manajemen.

Penulis juga menyoroti kecenderungan IFRS yang semakin mendorong penggunaan nilai wajar, baik pada pengukuran selanjutnya maupun pada pengakuan awal, serta mengkritisi potensi masalahnya, khususnya untuk aset nonkeuangan. Dalam kondisi krisis keuangan, penerapan nilai wajar dinilai semakin problematis karena ketidakstabilan pasar dan rendahnya reliabilitas harga pasar. Jurnal ini menyimpulkan bahwa tidak ada satu basis pengukuran yang paling tepat untuk semua situasi. Oleh karena itu, penggunaan biaya historis dan nilai wajar sebaiknya dikombinasikan secara hati hati agar laporan keuangan tetap relevan, andal, dan tidak menyesatkan pengguna.

TA C2025 -> DISKUSI

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Setelah menyimak video tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa perdebatan antara biaya historis dan nilai wajar menunjukkan dilema klasik dalam akuntansi, yaitu memilih antara keandalan dan relevansi informasi. Video ini dengan baik menggambarkan bagaimana biaya historis memberikan kepastian karena didasarkan pada transaksi nyata di masa lalu, sehingga mudah diverifikasi dan konsisten. Namun, pendekatan ini sering kali membuat laporan posisi keuangan kurang mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya, terutama ketika nilai aset berubah secara signifikan akibat perkembangan pasar.

Di sisi lain, penggunaan nilai wajar menawarkan informasi yang lebih relevan karena mencerminkan nilai pasar terkini dari aset atau liabilitas. Contoh properti yang dibeli dengan harga relatif rendah di masa lalu tetapi kini bernilai jauh lebih tinggi menunjukkan bahwa nilai wajar dapat memberikan gambaran yang lebih realistis tentang kekayaan perusahaan. Meski demikian, video juga menekankan bahwa nilai wajar bukan tanpa kelemahan. Proses penilaiannya kompleks, sering bergantung pada estimasi dan penilaian ahli, serta berpotensi menimbulkan subjektivitas jika pasar aktif tidak tersedia.

Menurut saya, pesan dari video ini adalah bahwa tidak ada metode yang sepenuhnya unggul dalam semua situasi. Konsistensi penerapan dan kesesuaian dengan jenis aset menjadi hal yang krusial. Pilihan metode pengukuran seharusnya disesuaikan dengan tujuan pelaporan keuangan dan kebutuhan pengguna laporan, bukan semata mata untuk menampilkan angka yang terlihat lebih tinggi atau lebih menarik. Dengan demikian, akuntansi tidak hanya soal angka, tetapi juga soal pertimbangan profesional dan tanggung jawab dalam menyajikan informasi yang wajar dan dapat dipercaya.

TA C2025 -> CASE STUDY

Shafa Djiana Wardani གིས-
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Dua basis pengukuran yang relevan dalam kasus ini adalah biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis mengukur mesin berdasarkan harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan. Kelebihan pendekatan ini adalah objektivitas dan kemudahan verifikasi karena didasarkan pada transaksi nyata, sehingga relatif andal dan konsisten. Namun, kelemahannya adalah kurang mencerminkan kondisi ekonomi terkini, terutama ketika terjadi perubahan teknologi yang signifikan seperti dalam kasus PT Surya Terang. Sebaliknya, nilai wajar mengukur aset berdasarkan harga pasar saat ini atau estimasi nilai yang mencerminkan kondisi ekonomi terkini. Kelebihannya terletak pada relevansi yang lebih tinggi bagi pengguna laporan keuangan karena mencerminkan nilai aktual aset. Kekurangannya adalah tingkat subjektivitas yang lebih besar, terutama jika pasar aktif terbatas, sehingga keandalannya bisa dipertanyakan.

2. Jika PT Surya Terang memilih model revaluasi sesuai PSAK, maka mesin akan disajikan sebesar nilai wajarnya, yaitu Rp400.000.000. Selisih antara nilai tercatat sebelumnya Rp600.000.000 dan nilai wajar Rp400.000.000 sebesar Rp200.000.000 akan diakui sebagai penurunan nilai. Dampaknya terhadap laporan posisi keuangan adalah penurunan nilai aset tetap dan ekuitas. Jika penurunan nilai tersebut merupakan revaluasi turun, maka selisihnya dibebankan ke laba rugi, kecuali sebelumnya terdapat surplus revaluasi atas aset yang sama. Pada laporan laba rugi, pengakuan penurunan nilai ini akan menurunkan laba periode berjalan, sehingga berpotensi memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.

3. Dalam konteks ini, nilai wajar lebih memenuhi karakteristik relevansi karena mencerminkan dampak nyata dari perubahan teknologi terhadap manfaat ekonomi mesin. Informasi ini lebih berguna bagi pengguna laporan keuangan dalam menilai posisi dan kinerja perusahaan. Namun, dari sisi keandalan, biaya historis masih memiliki keunggulan karena lebih mudah diverifikasi dan tidak terlalu bergantung pada estimasi. Oleh karena itu, nilai wajar unggul dari sisi relevansi, sedangkan biaya historis lebih kuat dari sisi keandalan. Pilihan terbaik bergantung pada tujuan pelaporan dan sejauh mana nilai wajar dapat diukur secara andal dalam kondisi pasar yang ada.