NAMA: ZAHRA APRILIA
NPM: 2415011037
KELAS: MKU PKN SIPIL B
Jurnal ini menyoroti berbagai persoalan dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia pada Pemilu Presiden 2019. Meski pemilu telah berlangsung secara rutin sejak era reformasi, substansi demokrasi masih jauh dari ideal. Salah satu masalah utama adalah rendahnya kepercayaan publik terhadap hasil pemilu, yang tercermin dari munculnya kerusuhan, tuduhan kecurangan, dan polarisasi yang tajam antarkubu. Hal ini menunjukkan bahwa prosedur demokratis belum sepenuhnya menjamin keadilan dan rasa percaya dari rakyat.
Netralitas birokrasi juga menjadi sorotan. Banyak pejabat publik, seperti camat atau kepala daerah, terlibat dalam dukungan politik, padahal mereka seharusnya menjaga posisi netral. Keterlibatan ini justru memperkuat kesan bahwa institusi pemerintah tidak independen, dan bahkan digunakan untuk memenangkan calon tertentu.
Di sisi lain, partai politik dinilai gagal menjalankan fungsinya sebagai penyaring dan pengader calon pemimpin. Mereka lebih mengutamakan popularitas daripada kapasitas, sering kali mencalonkan figur-figur selebritas tanpa pengalaman politik yang memadai. Akibatnya, representasi rakyat menjadi lemah, karena suara publik hanya dicari saat pemilu, bukan benar-benar diwakili dalam kebijakan.
Secara keseluruhan, jurnal ini menyimpulkan bahwa demokrasi Indonesia masih stagnan. Untuk mewujudkan pemilu yang adil, kredibel, dan bermakna, dibutuhkan komitmen bersama dari semua elemen bangsa—pemerintah, partai politik, media, dan masyarakat sipil—untuk menegakkan etika, profesionalisme, dan transparansi dalam setiap proses demokrasi. Tanpa itu, pemilu hanya menjadi seremoni tanpa perubahan nyata.
NPM: 2415011037
KELAS: MKU PKN SIPIL B
Jurnal ini menyoroti berbagai persoalan dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia pada Pemilu Presiden 2019. Meski pemilu telah berlangsung secara rutin sejak era reformasi, substansi demokrasi masih jauh dari ideal. Salah satu masalah utama adalah rendahnya kepercayaan publik terhadap hasil pemilu, yang tercermin dari munculnya kerusuhan, tuduhan kecurangan, dan polarisasi yang tajam antarkubu. Hal ini menunjukkan bahwa prosedur demokratis belum sepenuhnya menjamin keadilan dan rasa percaya dari rakyat.
Netralitas birokrasi juga menjadi sorotan. Banyak pejabat publik, seperti camat atau kepala daerah, terlibat dalam dukungan politik, padahal mereka seharusnya menjaga posisi netral. Keterlibatan ini justru memperkuat kesan bahwa institusi pemerintah tidak independen, dan bahkan digunakan untuk memenangkan calon tertentu.
Di sisi lain, partai politik dinilai gagal menjalankan fungsinya sebagai penyaring dan pengader calon pemimpin. Mereka lebih mengutamakan popularitas daripada kapasitas, sering kali mencalonkan figur-figur selebritas tanpa pengalaman politik yang memadai. Akibatnya, representasi rakyat menjadi lemah, karena suara publik hanya dicari saat pemilu, bukan benar-benar diwakili dalam kebijakan.
Secara keseluruhan, jurnal ini menyimpulkan bahwa demokrasi Indonesia masih stagnan. Untuk mewujudkan pemilu yang adil, kredibel, dan bermakna, dibutuhkan komitmen bersama dari semua elemen bangsa—pemerintah, partai politik, media, dan masyarakat sipil—untuk menegakkan etika, profesionalisme, dan transparansi dalam setiap proses demokrasi. Tanpa itu, pemilu hanya menjadi seremoni tanpa perubahan nyata.