NAMA : AZZUMMA ZHUHRI ARIEZA HAKIM
NPM : 2416031046
KELAS : REGULER B
Sejak era Reformasi, Indonesia telah menyelenggarakan lima pemilu, dengan Pilpres 2019 menjadi yang paling menarik perhatian karena mempertemukan kembali Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam pertarungan langsung. Kontestasi ini memicu polarisasi tajam dan pembelahan sosial, mencerminkan dinamika demokrasi yang masih dalam proses konsolidasi dan pendalaman.
Demokrasi Indonesia berkembang di tengah pengaruh budaya politik, perilaku elit, dan dinamika kekuasaan sejak Pemilu 1999. Pilkada langsung sejak 2005 dan pilpres langsung sejak 2004 menjadi langkah penting dalam memperdalam demokrasi, meski menghadirkan tantangan dalam menciptakan pemerintahan yang efektif dan pemilu yang berkualitas.
Pendalaman demokrasi mencakup pembangunan institusi yang kredibel, partisipasi publik yang kuat, dan sinergi antara negara dan masyarakat. Namun, proses ini juga menghadapi tantangan seperti dominasi elit, politisasi agama, hoaks, serta ujaran kebencian, yang semakin memanas menjelang Pilpres 2019. Kerusuhan pasca pengumuman hasil pemilu menunjukkan kerentanan stabilitas sosial.
Pemilu serentak 2019 menjadi pemilu pertama yang menggabungkan pilpres dan pileg, menuntut perbaikan dari sisi prosedur dan substansi. Selain itu, munculnya politisasi identitas dan kegagalan partai dalam kaderisasi, terlihat dari banyaknya selebritas yang dicalonkan, menjadi indikator belum matangnya konsolidasi demokrasi.
Secara keseluruhan, meski penuh tantangan, pemilu dan pilpres tetap menjadi sarana penting dalam memperkuat demokrasi Indonesia menuju sistem yang lebih sehat dan bermartabat.
NPM : 2416031046
KELAS : REGULER B
Sejak era Reformasi, Indonesia telah menyelenggarakan lima pemilu, dengan Pilpres 2019 menjadi yang paling menarik perhatian karena mempertemukan kembali Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam pertarungan langsung. Kontestasi ini memicu polarisasi tajam dan pembelahan sosial, mencerminkan dinamika demokrasi yang masih dalam proses konsolidasi dan pendalaman.
Demokrasi Indonesia berkembang di tengah pengaruh budaya politik, perilaku elit, dan dinamika kekuasaan sejak Pemilu 1999. Pilkada langsung sejak 2005 dan pilpres langsung sejak 2004 menjadi langkah penting dalam memperdalam demokrasi, meski menghadirkan tantangan dalam menciptakan pemerintahan yang efektif dan pemilu yang berkualitas.
Pendalaman demokrasi mencakup pembangunan institusi yang kredibel, partisipasi publik yang kuat, dan sinergi antara negara dan masyarakat. Namun, proses ini juga menghadapi tantangan seperti dominasi elit, politisasi agama, hoaks, serta ujaran kebencian, yang semakin memanas menjelang Pilpres 2019. Kerusuhan pasca pengumuman hasil pemilu menunjukkan kerentanan stabilitas sosial.
Pemilu serentak 2019 menjadi pemilu pertama yang menggabungkan pilpres dan pileg, menuntut perbaikan dari sisi prosedur dan substansi. Selain itu, munculnya politisasi identitas dan kegagalan partai dalam kaderisasi, terlihat dari banyaknya selebritas yang dicalonkan, menjadi indikator belum matangnya konsolidasi demokrasi.
Secara keseluruhan, meski penuh tantangan, pemilu dan pilpres tetap menjadi sarana penting dalam memperkuat demokrasi Indonesia menuju sistem yang lebih sehat dan bermartabat.