Kiriman dibuat oleh Ranggita Zahwa Kusuma Wardhani

Nama : Ranggita Zahwa Kusuma Wardhani
Kelas : Reguler B
Npm : 2416031066

Menurut saya, artikel in menunjukan bahwa demokrasi di indonesia pasca reformasi, khususnya dalam konteks pilpres 2019, masih memiliki tantangan besar dalam hal pendalaman demokrasi. Pemilu yang harusnya jadi puncak partisipasi rakyat dan wujud dari pemerintangan yang demokrasi, malah memperlihatkan sisigelap politik indonesia

Satu hal yang paling menonjol menurut saya adalah kegagalan partai politik dalam menjalankan fungsinya sebagai pilar utama demokrasi. Kegagalan ini tercermin dari lemahnya kaderisasi dan kecendrungan menggunakan figura selebriti sebagai vote getter, ini menunjukan bahwa partai politik belum serius dalam membangun kualtas demokrasi secara substansional, dan masih terjebak dalam pendekatan elekoral jangka pendek.

Di sisi lain, pilitisi identitas, terutama penggunaan agama dalamkampanye, menurut saya sangat mengkhawatirkan. ini tidak hanya memperlemah nilai nilai toleransi dalam masyaraka, tapi juga berpotensi menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan. demokrasi yang harusnyamenyatukan rakyat, justru menjadi pemicu polarisasi

Saya juga sependapat dengan penulis bahwa netralitas biokrasi menjadi isu sentral yang belom terselesaikan. Biokrasi yang seharusnya netral malah terjebak dalam kepentingan politik praktis. ini sangat merusak kepercayaan publik terhadap intitusi negara dan mengganggu legitimasi hasil pemiliu.
Nama : Ranggita Zahwa Kusuma Wadhani
Npm : 2416031066
Kelas : Reguler B

Dari apa yang saya analisis tentang video dengan judul "Demokrasi Itu Gaduh, tapi Kenapa Bertahan dan Dianut Banyak Negara? " bahwa demokrasi itu berisik karena adanya kebebasan berpendapat di dalam berdemokrasi, banyak perselisihan yang terjadi karena hal ini, namun keributan dalam demokrasi itu adalah salah satu alat yang efektif karena dapat membantu mewujudkan kesetaraan, meningkatkan partisipasi publik, dan mencegah konflik berlebihan,

Tetapi sistem ini bukan berarti sistem yang sempurna, karena ketika demokrasi melahirkan pemimpin pemimpim atau politikius yang bisa di bilang anti kritik atau tidak menerima pendapat lain dari masyarakat akan membuat sistem ini kurang dapat kepercayaan dari masyarakat.
NAMA : Ranggita Zahwa Kusuma Wardhani
NPM : 2416031066
KELAS : Reguler B

1. Menurut saya hal positif yang dapat di ambil dari unjuk rasa tersebut adalah adanya keterbukaan pemerintah dan kampus dalam menyampaikan pemikiran

2. Tata Cara yang Lebih Baik dalam Menyalurkan Aspirasi di Tengah Pandemi:
Pemanfaatan Teknologi Digital: Dengan perkembangan teknologi yang pesat, aksi unjuk rasa tidak selalu harus dilakukan secara fisik. Penggunaan media sosial, webinar, dan forum-forum digital bisa menjadi alternatif untuk menyuarakan pendapat tanpa menimbulkan kerumunan yang dapat meningkatkan risiko penyebaran virus.
Demonstrasi dengan Protokol Kesehatan Ketat: Jika tetap memilih untuk turun ke jalan, penerapan protokol kesehatan yang ketat sangat penting. Penggunaan masker, menjaga jarak, dan meminimalkan kontak fisik antar peserta bisa membantu mengurangi potensi penularan.
Dialog dan Diskusi yang Konstruktif: Seperti yang disarankan oleh Kemendikbud, mahasiswa bisa berperan aktif dalam diskusi intelektual, seperti seminar atau kajian akademis. Pendapat yang disampaikan melalui forum yang terstruktur dan berbasis data lebih mungkin diakomodasi secara serius oleh pemerintah.

3.Peningkatan Perlindungan Sosial, Pengawasan terhadap implementasi UU Cipta Kerja harus dilakukan dengan ketat untuk memastikan bahwa pengusaha tidak mengeksploitasi buruh dan bahwa hak-hak pekerja tetap dihormati.

4. Penegakan Hukum yang Adil dan Merata, Pendidikan Kewarganegaraan yang Lebih Mendalam, Kesejahteraan Sosial yang Merata, Keterbukaan dan Transparansi dalam Pengambilan Keputusan.