གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Tisya Azzahra Tisya

Learning Social Science -> Tugas Mandiri

Tisya Azzahra Tisya གིས-
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, izin mengumpulkan tugas analisis video Bapak. Terima kasih.
Nama: Tisya Azzahra Ramadhani
Kelas: 3C
NPM: 2413053076

A. Kelebihan Pembelajaran
1. Kegiatan Terstruktur
Alur kegiatan awal–inti–penutup jelas.
Guru mengikuti langkah pembelajaran secara runtut.
2. Membangun Kesiapan Belajar
Salam, tanya kabar, doa bersama.
Mengecek kehadiran dan kebersihan kelas.
3. Menciptakan Suasana Belajar Menyenangkan
Icebreaking dilakukan untuk meningkatkan semangat.
Menyanyikan Indonesia Raya menumbuhkan nasionalisme.
4. Pembentukan Karakter dan Motivasi
Guru memberi motivasi dan pembiasaan diri sebelum belajar.
5. Pembelajaran Aktif dan Kolaboratif
Diskusi kelompok.
Presentasi hasil kerja.
Penggunaan LKPD sebagai pendamping belajar.
6. Refleksi dan Umpan Balik
Jurnal refleksi siswa.
Umpan balik positif dari guru.

B. Kekurangan Pembelajaran
1. Aktivitas Terlalu Padat
Jumlah kegiatan banyak dalam satu pertemuan.
2. Icebreaking Berulang
Potensi mengurangi waktu kegiatan inti.
3. Pemahaman Individu Kurang Terpantau
Fokus besar pada kelompok, belum tampak asesmen individu selain evaluasi akhir.
4. Potensi Kebisingan
Diskusi dan icebreaking dapat membuat kelas kurang kondusif jika tidak terkendali.
5. Instruksi Proyek Kurang Jelas
Arahan tugas rumah belum ditampilkan detail.

C. Metode Pembelajaran yang Digunakan
1. Diskusi Kelompok
Siswa menganalisis dan menyimpulkan kenampakan alam bersama teman.
2. Observasi
Mengamati video, gambar, dan PPT materi.
3. Ceramah Interaktif
Penjelasan tujuan, pemantik, dan arahan kegiatan.
4. Cooperative Learning
Pengaturan kelompok, presentasi, dan kolaborasi antar siswa.
5. Reflektif
Pengisian jurnal refleksi sebagai bagian dari pembelajaran.

D. Media Pembelajaran
1. Audio-Visual
Video kenampakan alam.
2. Visual
PPT dan gambar pendukung
3. Lembar Kerja
LKPD kelompok.
4. Media Lagu
Lagu icebreaking dan lagu permukaan bumi.
5. Proyek Rumah
Tugas lanjutan sebagai media pembelajaran kontekstual.


E. Penguasaan Guru terhadap Materi
1. Pemahaman Konsep
Guru memahami topik kenampakan alam.
2. Kemampuan Menjelaskan
Menyampaikan tujuan, pemantik, dan penjelasan dengan jelas.
3. Bimbingan Kelompok
Guru aktif mendampingi siswa selama diskusi.

F. Pengelolaan Kelas
1. Manajemen Awal Pembelajaran
Pembiasaan dan kedisiplinan diterapkan sejak awal.
2. Pengaturan Aktivitas
Kelas hidup tetapi tetap terarah.
3. Bimbingan Merata
Guru mengunjungi tiap kelompok.
4. Manajemen Waktu
Baik, namun perlu lebih efisien karena aktivitas padat.

G. Skor Mengajar Guru
Guru menunjukkan kualitas pembelajaran yang sangat baik. Perencanaan pembelajaran disusun secara runtut sehingga alur kegiatan belajar berlangsung jelas dan sistematis. Penguasaan guru terhadap materi terlihat kuat, tercermin dari kemampuan menjelaskan konsep secara tepat dan mendalam. Metode pembelajaran yang digunakan cukup variatif, meskipun masih terkesan sedikit padat dan dapat disederhanakan agar lebih optimal. Penggunaan media pembelajaran sangat mendukung karena disiapkan dengan lengkap dan menarik. Siswa tampak sangat aktif mengikuti kegiatan pembelajaran, menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan mampu mendorong partisipasi dengan baik. Pengelolaan kelas sudah baik, walaupun kontrol terhadap dinamika kelas masih dapat ditingkatkan untuk menjaga suasana tetap kondusif. Komunikasi guru berlangsung jelas dan mampu memberikan motivasi kepada siswa. Selain itu, proses penilaian dan refleksi dilakukan dengan baik sehingga membantu mengevaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran. Secara keseluruhan, proses pembelajaran tergolong sangat baik. Jika di persentasekan setara dengan 94% yaitu sangat baik.

Learning Social Science -> Tugas mandiri

Tisya Azzahra Tisya གིས-
Tisya Azzahra Ramadhani
2413053076

1. Contoh Masalah Sosial Kontekstual: Kenakalan Remaja Akibat Pengaruh Media Sosial. Banyak remaja saat ini mudah terpengaruh oleh konten negatif di media sosial, seperti gaya hidup konsumtif, pergaulan bebas, hingga tindakan bullying online. Akibatnya, nilai moral dan karakter mereka bisa menurun, misalnya menjadi kurang sopan, malas belajar, dan tidak menghargai orang lain.

2. Solusi:
Pendidikan karakter di sekolah dan keluarga harus diperkuat. Guru dan orang tua perlu menanamkan nilai tanggung jawab, sopan santun, serta kemampuan berpikir kritis agar remaja bisa memilah mana konten yang baik dan buruk. Peningkatan literasi digital. Remaja diajarkan cara menggunakan media sosial dengan bijak, seperti tidak menyebar hoaks, tidak membully, dan menghargai privasi orang lain. Menyediakan kegiatan positif seperti ekstrakurikuler, kegiatan sosial, atau komunitas hobi agar remaja memiliki wadah untuk mengekspresikan diri secara sehat.

3. Teori yang Relevan:
a. Teori Sosialisasi (George Herbert Mead) Menurut Mead, kepribadian seseorang dibentuk melalui interaksi sosial. Jadi, jika remaja sering berinteraksi dengan lingkungan atau media yang negatif, perilakunya akan ikut terbentuk negatif. Maka, perlu lingkungan sosial yang positif agar perilaku mereka juga positif.
b.Teori Belajar Sosial (Albert Bandura) Bandura menyatakan bahwa seseorang belajar melalui pengamatan dan meniru perilaku orang lain (modeling). Remaja yang sering melihat influencer atau tokoh publik berperilaku buruk di media sosial bisa menirunya. Oleh karena itu, penting memberi contoh teladan baik. Baik dari guru, orang tua, maupun figur publik.

4. Kesimpulan:
Jadi, masalah kenakalan remaja di era digital dapat diatasi dengan pendekatan pendidikan karakter dan literasi digital yang berlandaskan teori sosialisasi dan belajar sosial. Kunci utamanya adalah pembentukan lingkungan dan teladan positif bagi remaja.