Kiriman dibuat oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

‎Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088

‎Kelas : 2024C

‎JAWABAN CASE STUDY 

‎1. Analisis Kritis

  • ‎ Apa tantangan yang muncul dalam penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan sistem otomatis dan blockchain?  ‎Jawab : Teori akuntansi tradisional yang bergantung pada penilaian manusia yang fleksibel menghadapi tantangan serius ketika perusahaan seperti PT Delta Finansial mengadopsi otomatisasi dan blockchain untuk pencatatan transaksi. Aturan lama seperti prinsip akrual atau pengakuan pendapatan dirancang untuk proses manual, di mana akuntan dapat menyesuaikan estimasi berdasarkan konteks spesifik, seperti email suku bunga global yang mempengaruhi likuiditas. Namun, otomatisasi membuat semuanya berjalan real-time tanpa jeda untuk koreksi, dan blockchain yang immutable artinya data sekali tercatat tidak bisa diubah bisa menyulitkan penyesuaian yang wajar, misalnya saat ada kesalahan input akibat ketegangan geopolitik yang tidak terantisipasi. Hal ini menciptakan ketegangan karena konsistensi teori tradisional dan konsistensi, namun sistem digital justru bisa menghasilkan data yang terlalu kaku. Akuntan harus menjembatani kesenjangan antara aturan lama dan keluaran mesin, yang sering kali menambah kerumitan audit dan biaya operasional. Pada akhirnya, tantangan ini bukan hanya teknis, tetapi juga filosofis, di mana keanehan manusia hilang, dan perusahaan harus beradaptasi agar laporan keuangan tetap relevan di tengah volatilitas nilai tukar.

  • ‎ Bagaimana digitalisasi dapat menciptakan peluang sekaligus manipulasi risiko informasi akuntansi?  ‎Jawab : Digitalisasi membawa peluang besar bagi akuntansi dengan mempercepat proses dan meningkatkan akurasi, namun sekaligus membuka pintu lebar untuk risiko manipulasi informasi yang halus dan sulit dideteksi. Di satu sisi, teknologi seperti AI di PT Delta memungkinkan analisis data besar untuk verifikasi transaksi yang lebih cepat, mengurangi kesalahan manusia dan membangun kepercayaan melalui penyimpanan blockchain yang aman, sehingga perusahaan bisa lebih lincah dalam mencegah pencegahan internasional. Ini seperti memiliki asisten super yang memprediksi beban keuangan berdasarkan tren global, membantu menjaga laba bersih stabil di tengah tekanan likuiditas. Namun, risikonya muncul ketika algoritma yang mengendalikan estimasi dapat diprogram untuk mencegah hilangnya pengakuan, menciptakan gambaran stabilitas palsu yang mencurigakan oleh analis eksternal seperti tertundanya beban yang membuat laporan terlihat lebih menarik. Blockchain memang mencegah perubahan pasca-pencatatan, namun tidak melindungi dari input awal yang bias atau dimanipulasi, apalagi di era globalisasi di mana data dari berbagai mimpi bisa tercampur. Akibatnya, digitalisasi ini dapat memperbesar dampak manipulasi, karena informasi palsu menyebar secara instan ke investor, namun dengan kesadaran yang tepat, peluang efisiensinya dapat dimaksimalkan sambil meminimalkan jebakan tersebut.

2. Etika dan transparansi

  • ‎Apa risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan penilaian keuangan digantikan oleh algoritma AI?  Jawab: Melihat risiko etika yang menghadap akuntan ketika estimasi dan penilaian keuangan digantikan oleh algoritma AI sangatlah nyata, karena peran manusia sebagai penjaga nilai moral mulai memudar di balik efisiensi mesin. Dulu, akuntan seperti di PT Delta bertanggung jawab penuh atas keputusan subjektif, seperti menilai cadangan kerugian dengan mempertimbangkan etika dan dampak sosial, memastikan laporan adil dan tidak bias. Namun AI menghasilkan angka berdasarkan data dan model matematis semata, tanpa nuansa etis misalnya, algoritma yang dibor pada data historis mungkin mengabaikan ketegangan geopolitik yang mempengaruhi wilayah tertentu, sehingga estimasi jadi tidak adil atau diskriminatif. Risikonya, akuntan bisa kehilangan akuntabilitas jika output AI ternyata salah karena bias tersembunyi, berpotensi memuat kode etik profesional seperti yang diatur IFAC, dan di Indonesia, standar serupa dari Ikatan Akuntan Indonesia. Ini bukan hanya soal salah satu keputusan, tapi erosi kepercayaan secara keseluruhan, di mana akuntan merasa terjebak antara validasi buta terhadap AI dan tuntutan transparansi, terutama saat kualitas transmisi estimasi muncul dari laporan stabil yang terlalu sempurna.

  • ‎Bagaimana akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor? Jawab : Melalui akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan agar menarik bagi investor dengan sikap tegas yang mewajibkan pada integritas, bukan kompromi sementara. Di tengah dorongan manajemen untuk memoles angka demi citra positif, seperti menunda pengakuan beban di PT Delta, akuntan sebaiknya memprioritaskan dokumentasi lengkap setiap langkah, termasuk bukti dari algoritma AI, agar proses transparan dan bisa diaudit. Ini berarti berkomunikasi secara jujur ​​​​dengan pemangku kepentingan tentang keterbatasan, seperti bagaimana mengirimkan suku bunga dapat mempengaruhi perkiraan, daripada menyembunyikannya untuk kesan sementara. Secara praktis, saya sarankan bergabunglah dengan komunitas profesional untuk dukungan, dan selalu mematuhi peraturan seperti PSAK atau IFRS, yang menekankan kejujuran di atas segalanya. Sikap ini tidak hanya melindungi karir pribadi dari sanksi etika, tetapi juga membangun kepercayaan jangka panjang dengan investor yang menghargai kenyataan daripada ilusi, membantu perusahaan seperti PT Delta bertahan di pasar global yang penuh gejolak.

3. Respon Strategis

  • ‎Berikan rekomendasi bagaimana perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dalam menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi.‎ Jawab: Menurut pendapat saya, perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit serta pengawasan dengan strategi yang menggabungkan teknologi dan pengawasan manusia untuk menangani sistem akuntansi berbasis tinggi seperti di PT Delta. Bagi perusahaan, memulai dengan kerangka internal yang rutin memvalidasi algoritma AI melalui stress test terhadap skenario volatilitas nilai tukar atau ketegangan geopolitik, sambil memanfaatkan blockchain untuk audit trail yang tak tergoyahkanini memastikan data akurat tanpa bergantung pada vendor. Saya juga menyarankan latih tim akuntansi dalam keterampilan ilmu data agar bisa menginterpretasikan output digital secara mandiri. Sementara itu, akuntan publik perlu mengadopsi alat forensik untuk mendeteksi pola manipulasi, seperti analisis transaksi di ledger blockchain, dan berkolaborasi dengan spesialis IT untuk meninjau kode algoritma secara berkala. Tambahkan kebijakan whistleblower internal untuk mendorong pelaporan tertundanya kualitas beban, dan gunakan sampling audit berbasis AI untuk efisiensi, namun tetap dengan pengawasan manusia untuk menjaga penilaian yang etis. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko likuiditas, tetapi juga memperkuat pengawasan secara keseluruhan, membuat proses lebih adaptif terhadap kompleksitas fintech global.
  • ‎Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi? menjelaskan pandangan Anda.  Jawab: Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi, meskipun ada upaya perbaikan yang patut diapresiasi. Standar seperti IFRS 9 yang membahas instrumen keuangan atau PSAK di Indonesia sudah menyentuh estimasi berbasis model, namun masih kurang detail dalam mengatur AI dan blockchain misalnya, tidak ada ketentuan khusus untuk mengungkapkan bias algoritma atau dampak regulasi internasional yang berbeda antar negara. Di PT Delta, ini terlihat dari ancaman eksploitasi yang sulit dilakukan karena tidak adanya panduan untuk data digital global, di mana blockchain dapat diaktifkan dengan aturan privasi seperti GDPR di Eropa. Pandangan saya, standar ini perlu mempercepat evolusinya melalui inisiatif dari IASB atau DSAK Indonesia, seperti mandat pengungkapan wajib untuk teknologi, agar bisa menangkap nuansa volatilitas suku bunga dan mencakup geopolitik. Jika tidak, kita akan melihat lebih banyak ketidakpercayaan pasar, namun ini juga merupakan kesempatan bagi profesi akuntansi untuk memimpin reformasi, memastikan standar tetap relevan dan mendukung inovasi tanpa mengorbankan transparansi.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Penelitian ini menguji dampak adopsi Extensible Business Reporting Language (XBRL) pada biaya ekuitas (Cost of Equity/COE) perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (IDX). Adopsi XBRL di Indonesia dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan pelaporan tradisional, yaitu standarisasi data yang rendah, kesulitan ekstraksi informasi, dan keterbatasan komparabilitas antar perusahaan, yang semuanya berpotensi meningkatkan biaya pemrosesan informasi bagi investor.
‎Menggunakan data 59 perusahaan selama empat tahun dua tahun sebelum (2014-2015) dan dua tahun sesudah (2016-2017) implementasi XBRL studi ini menemukan bukti kuat bahwa adopsi XBRL berhasil menurunkan biaya ekuitas (COE) secara signifikan. ‎Ditemukan juga bahwa perusahaan berukuran besar lebih diuntungkan, karena mengalami penurunan COE yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil. Hasil ini memperkuat teori bahwa peningkatan transparansi, kualitas, dan keterbandingan informasi melalui XBRL dapat mengurangi risiko dan ketidakpastian bagi investor, yang kemudian diterjemahkan menjadi penurunan biaya modal bagi perusahaan.

‎Pendapat saya sstudi ini memberikan konfirmasi penting bahwa digitalisasi pelaporan keuangan bukan hanya sekadar kepatuhan regulasi, tetapi juga memiliki manfaat ekonomi yang nyata, yaitu menurunkan COE. Penurunan biaya modal ini sangat berdampak karena dapat meningkatkan daya saing perusahaan dan menarik investasi ke pasar modal Indonesia.
‎Namun, temuan bahwa manfaat ini lebih dominan pada perusahaan besar memerlukan perhatian lebih. Adopsi teknologi dan penyesuaian operasional seringkali lebih menantang bagi perusahaan kecil. Regulator dan Bursa Efek Indonesia (IDX) perlu memastikan bahwa infrastruktur XBRL dapat diakses dan diimplementasikan secara mudah, serta menyediakan pelatihan dan dukungan teknis yang memadai agar perusahaan kecil dan menengah juga dapat menikmati pengurangan biaya ekuitas, sehingga ekosistem pasar modal yang adil dan efisien dapat tercipta.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Berdasarkan jurnal dan penjelasan dari video YouTube, Manajemen Laba (Earnings Management atau EM) pada intinya adalah aksi sengaja dari pihak manajemen untuk mengolah-olah angka laba dalam laporan keuangan. Caranya seringkali dengan mengatur waktu transaksi agar laba yang dilaporkan sesuai dengan keinginan mereka. Praktik ini memanfaatkan celah dalam kebijakan akuntansi yang legal, jadi belum tentu bisa disebut sebagai kecurangan. Namun, dampaknya bisa menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan saat mengambil keputusan.

‎Dua Sudut Pandang yang Berbeda.
‎Dalam dunia akuntansi, motivasi di balik Manajemen Laba umumnya dilihat dari dua kacamata yang bertolak belakang:
‎1. Sudut Pandang Oportunistik (Cari Untung Sendiri): Di sini, manajer dilihat sebagai pihak yang memanfaatkan keunggulan informasi mereka untuk kepentingan pribadi. Misalnya, mereka menggelembungkan laba agar bisa dapat bonus lebih besar atau agar perusahaan tidak melanggar perjanjian utang.
‎2. Sudut Pandang Pensinyalan (Memberi Sinyal ke Pasar): Pandangan ini lebih positif. Alasannya, manajer mengelola laba untuk menyampaikan "sinyal" mengenai kondisi internal perusahaan yang sebenarnya kepada investor di luar. Laba yang terlihat stabil dan terus tumbuh dari waktu ke waktu bisa menjadi sinyal positif bahwa perusahaan punya prospek bagus, yang akhirnya bisa menekan biaya modal.

‎Cara dan Temuan Penelitian
‎Dalam praktiknya, Manajemen Laba bisa dilakukan dengan dua cara: menaikkan laba (upward EM) atau justru menurunkannya (downward EM). Menurunkan laba seringkali bertujuan untuk menyimpan tabungan rahasia (cookie jar reserves) yang bisa dicairkan di masa sulit nanti. Ini sejalan dengan tujuan smoothing atau meratakan laba dalam sudut pandang pensinyalan.
‎Secara metode penelitian, Manajemen Laba diukur dengan dua pendekatan:
‎a. Melalui Akrual: Yaitu dengan memanipulasi akrual diskresioner.
‎b.Melalui Aktivitas Riil: Yaitu dengan mengatur transaksi operasional nyata perusahaan, seperti mengubah pola pengeluaran atau produksi.

‎Dari jurnal maupun video yang saya tonton sama-sama menunjukkan bahwa Manajemen Laba itu memiliki dua sifat. Video itu memberi contoh nyata: sebuah perusahaan sengaja menjual tanah untuk merekayasa laba tahunannya yang anjlok. Di permukaan, ini adalah aksi oportunis. Tapi, kalau dilihat lebih dalam, motivasi mereka sebenarnya adalah menjaga tren kenaikan laba, yang justru sesuai dengan logika pensinyalan untuk menunjukkan stabilitas perusahaan di mata pasar.
‎Menurut saya, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan praktik Manajemen Laba sepenuhnya. Dalam batas wajar, ini bisa menjadi alat komunikasi yang efektif bagi manajemen untuk memberi gambaran yang lebih jernih tentang nilai perusahaan kepada investor, yang mungkin tidak tertangkap dari angka-angka laporan keuangan mentah. Jadi, tantangan sesungguhnya bukanlah menghapus Manajemen Laba, tapi bagaimana kita mengembangkan cara yang lebih cerdas untuk membedakan mana yang dilakukan untuk memberi sinyal yang bermanfaat, dan mana yang murni untuk mengeruk keuntungan pribadi. Memadukan pemahaman tentang kedua motif inilah yang akan menjadi kunci bagi riset dan regulasi akuntansi ke depan.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

 Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088


1. Analisis praktik manajemen laba dalam konteks kasus PT Karya Sentosa. Jelaskan indikator-indikator yang mendukung dugaan tersebut. 

Berdasarkan pengamatan terhadap laporan keuangan PT Karya Sentosa, ada beberapa indikator yang menunjukkan kemungkinan adanya praktik manajemen laba. Pertama, peningkatan signifikan pada akun kredit usaha yang tidak sejalan dengan pertumbuhan arus kas menunjukkan bahwa perusahaan mungkin mengakui pendapatan secara agresif, yaitu merekam pendapatan sebelum uang benar-benar diterima. Hal ini sering dilakukan untuk memperbaiki penampilan laba di laporan keuangan. Selain itu, penurunan cadangan kerugian secara tidak wajar juga menjadi indikator yang mencurigakan. Cadangan kerugian biasanya digunakan untuk menutupi kemungkinan kerugian di masa depan, tetapi jika jumlahnya berkurang secara berlebihan, bisa jadi perusahaan mencoba menyembunyikan kerugian nyata agar laporan keuangan terlihat lebih baik. Selanjutnya, adanya ketidaksesuaian antara peningkatan pendapatan dan arus kas dari aktivitas operasi juga menjadi tanda bahwa laba yang dilaporkan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya. Pendapatan bisa diakui secara akrual, tetapi uang kas yang masuk belum tentu mengikuti, sehingga ini meningkatkan kemungkinan praktik manajemen laba berbasis akrual.Dari indikator-indikator tersebut, besar kemungkinan bahwa PT Karya Sentosa sedang melakukan praktik manajemen laba untuk memperbaiki citra keuangannya di mata pasar dan pemangku kepentingan.

2.  Bandingkan dua jurnal ilmiah terkini (5 tahun terakhir) yang membahas topik earnings management. Soroti perbedaan pendekatan, metodologi, dan temuan utama dari kedua studi tersebut.

Saya membandingkan dua studi ilmiah terbaru yang membahas topik manajemen laba. Studi pertama menggunakan pendekatan kuantitatif, dimana mereka menganalisis data keuangan dari berbagai perusahaan selama lima tahun terakhir. Mereka menggunakan metode statistik untuk mengukur adanya discretionary accruals, yaitu akrual yang dapat diatur oleh manajemen. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa perusahaan cenderung melakukan manajemen laba saat menghadapi tekanan dari pasar atau saat kinerja mereka sebenarnya menurun. Tujuannya adalah agar perusahaan tampak lebih stabil dan menarik bagi investor. 
Studi kedua menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu wawancara dan studi kasus langsung ke beberapa perusahaan yang diduga melakukan praktik ini. Mereka mencoba memahami motivasi di balik praktik tersebut dan menemukan bahwa tidak semua praktik manajemen laba itu bersifat negatif. Beberapa perusahaan melakukan ini untuk menghindari PHK, menjaga keberlangsungan usaha, atau memenuhi target yang dianggap penting oleh manajemen. Jadi, praktik ini tidak selalu merugikan, melainkan tergantung pada niat dan konteksnya. Perbedaan utama dari kedua studi ini adalah pendekatan yang digunakan: satu kuantitatif berbasis data dan statistik, sementara yang lain kualitatif berbasis wawancara dan studi kasus. Temuan utama dari kedua studi ini menunjukkan bahwa praktik manajemen laba bisa dilakukan untuk tujuan yang berbeda, dan tidak selalu bersifatjahat.

3.  Evaluasi secara kritis: apakah praktik earnings management selalu bersifat negatif? Berikan argumentasi dengan dukungan teori dan bukti empiris dari literatur.

Menurut literatur dan teori yang ada, praktik manajemen laba tidak selalu bersifat negatif. Ada beberapa motif yang melatarbelakangi praktik ini, seperti untuk menjaga kestabilan keuangan perusahaan, menghindari panik pasar, atau memenuhi target tertentu. Dalam beberapa kasus, manajemen laba bisa dilakukan untuk menghindari kerugian besar yang bisa merusak reputasi perusahaan atau bahkan kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri. Namun, tentu saja, jika praktik ini dilakukan dengan niat untuk menipu dan merugikan pihak lain, maka akan berdampak negatif dan menurunkan kepercayaan pasar. Banyak penelitian menunjukkan bahwa praktik manajemen laba yang dilakukan secara berlebihan dan tidak etis bisa merusak reputasi perusahaan dan mengurangi kepercayaan investor. Jadi, secara umum, praktik manajemen laba tidak selalu buruk. Kalau dilakukan dengan niat yang baik dan dalam batas yang wajar, bisa saja membantu perusahaan mempertahankan kestabilan dan kelangsungan usaha. Tetapi, jika dilakukan secara berlebihan dan bertujuan menipu, tentu ini sangat merugikan dan harus dihindari.

4. Buatlah kesimpulan dan rekomendasi yang bisa diberikan kepada stakeholder perusahaan dalam menyikapi indikasi earnings management.

Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan PT Karya Sentosa menunjukkan indikasi adanya praktik manajemen laba berbasis akrual. Hal ini perlu diwaspadai dan diperiksa lebih dalam agar tidak menimbulkan kerugian di kemudian hari. Praktik ini tidak selalu bersifat negatif, tetapi sangat bergantung pada niat dan cara pelaksanaannya. Sebagai rekomendasi, perusahaan harus meningkatkan pengawasan internal dan melakukan audit keuangan secara berkala agar laporan keuangan lebih transparan dan dapat dipercaya. Manajemen juga harus menjaga etika dan integritas dalam pengelolaan keuangan, serta menghindari praktik manipulasi yang merugikan kepercayaan pasar dan pemegang saham. Dengan demikian, perusahaan bisa tumbuh secara sehat dan berkelanjutan, serta menjaga kepercayaan dari seluruh pemangku kepentingan.