Kiriman dibuat oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Resume jurnal yang berjudul The Role Of Measurement Theory In Supporting The Objectives Of The Financial Statements karya Saratiel Musvoto, jurnal ini membahas ketidaksesuaian antara tujuan laporan keuangan dengan prinsip-prinsip teori pengukuran dalam ilmu sosial, khususnya representational theory of measurement.Dijelaskan akuntansi sering dianggap sebagai disiplin pengukuran, tetapi tidak didukung oleh teori pengukuran yang jelas yang mendefinisikan apa yang diukur, bagaimana mengukurnya, dan terhadap standar apa hasil pengukuran dibandingkan. Tanpa teori ini, tujuan laporan keuangan menjadi kabur dan tidak dapat dianggap sebagai tujuan pengukuran yang sah.

‎Jurnal ini menganalisis 12 tujuan laporan keuangan yang dirumuskan oleh Komite Trueblood dan menemukan bahwa sebagian besar tujuan tersebut tidak kompatibel dengan prinsip pengukuran ilmiah. Misalnya, laporan keuangan sering mengandalkan estimasi dan asumsi (seperti going concern) yang bergantung pada peristiwa masa depan, sehingga tidak dapat diukur secara empiris pada saat ini. Selain itu, atribut yang diukur (seperti nilai atau biaya) tidak didefinisikan dengan jelas dan tidak memiliki skala pengukuran yang konsisten.akuntansi belum memenuhi syarat sebagai disiplin pengukuran yang sebenarnya karena tidak memiliki landasan teori yang kuat. Dengan hal tersebut penulis merekomendasikan agar akuntansi perlu mengembangkan teori pengukuran sendiri atau merevisi tujuan laporan keuangan agar selaras dengan prinsip-prinsip pengukuran yang ilmiah.

TA C2025 -> DISKUSI

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Pedapat saya mengenai video Framework  Measurement - ACCA Financial Reporting (FR).
Video tersebut memberikan penjelasan mengenai konsep pengukuran (measurement) dalam akuntansi, yang merupakan fondasi utama dalam menyusun laporan keuangan yang berkualitas. Inti dari video YouTube tersebut yaitu:
‎1. Hakikat Pengukuran dalam Laporan Keuangan
‎Video tersebut menegaskan bahwa angka-angka yang tercantum dalam neraca bukanlah angka yang sembarangan.Setiap nilai aset dan kewajiban harus diukur dengan metode yang tepat untuk memastikan laporan keuangan memenuhi dua karakteristik kualitatif utama: relevan (berguna untuk pengambilan keputusan) dan menyajikan penyajian yang jujur (faithful representation). Dengan kata lain, pengukuran yang akurat menjamin keandalan informasi yang disajikan kepada investor, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya.
‎2. Ragam Perspektif dalam Menilai Nilai Ilmu utama yang didapat adalah bahwa konsep“nilai” suatu aset ternyata multidimensi dan bergantung pada sudut pandangnya. Video ini menguraikannya menjadi dua kategori besar:
‎a. Biaya Historis (Historical Cost): Merupakan harga perolehan awal saat aset tersebut dibeli. Metode ini dihargai karena keandalan dan objektivitasnya, namun kelemahannya adalah sering kali tidak mencerminkan nilai ekonomi aset tersebut pada saat ini.
‎b. Nilai Kini (Current Value): Merupakan nilai yang lebih mencerminkan kondisi mutakhir. Kategori ini kemudian dijabarkan menjadi tiga jenis pengukuran:
‎ c. Nilai Wajar (Fair Value): Adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset (exit price) dalam transaksi yang wajar antara pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai.
‎ d. Biaya Kini (Current Cost): Adalah biaya yang harus dikeluarkan hari ini untuk mengganti atau membeli aset yang sama atau setara (entry price). Metode ini sering diterapkan untuk aset khusus yang tidak memiliki pasar aktif.
‎ e. Nilai Pakai (Value in Use): Adalah nilai yang diestimasi dari manfaat ekonomi masa depan yang dihasilkan oleh suatu aset, biasanya dihitung dengan mendiskontokan arus kas masa depan yang diharapkan.
‎3. Hubungan antara Kerangka Konseptual dan Standar Akuntansi
‎Video menjelaskan bagaimana teori diterapkan dalam praktik.Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (Conceptual Framework) memberikan dasar pemikiran dan prinsip-prinsip dasar untuk memilih metode pengukuran. Sementara itu, standar akuntansi spesifik seperti IFRS 13: Fair Value Measurement memberikan guidance teknis yang detail tentang bagaimana menerapkan suatu metode, dalam hal ini nilai wajar, secara konsisten dan dapat diuji.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

Nama : Grescie Odellia Situkkir

NPM : 2413031088

Kelas : 2024C 

Tanggapan saya mengenai case study  PT Garuda Sejahtera sedang menghadapi dilema dalam memilih standar akuntansi untuk laporan keuangannya. Perusahaan ini harus memutuskan apakah akan mengikuti standar internasional (IFRS) atau standar nasional Indonesia (PSAK). 

Pertanyaan:

  1. Kritisi keputusan PT Garuda Sejahtera dalam memilih nilai wajar sebagai dasar pengukuran. Apakah keputusan tersebut dapat dibenarkan secara konseptual dalam konteks Indonesia? Jelaskan dengan mengacu pada prinsip-prinsip dalam kerangka konseptual PSAK dan IFRS.
  2. Bandingkan kerangka konseptual PSAK (Indonesia) dan IFRS dalam hal:
  • Tujuan laporan keuangan
  • Karakteristik kualitatif informasi
  • Basis pengukuran
  • Asumsi entitas dan kelangsungan usaha
Apakah Anda setuju bahwa Indonesia sebaiknya mengikuti sepenuhnya kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal? Jelaskan pendapat Anda dengan argumen kritis, mempertimbangkan faktor ekonomi, sosial, dan tingkat kematangan pasar di Indonesia.
JAWABAN :
a. Kerangka Konseptual IFRS  
Menurut Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan IFRS, tujuan utama pelaporan keuangan umum adalah menyediakan informasi yang berguna bagi pengguna dalam membuat keputusan ekonomi. Dua karakteristik kualitatif utama yang menandai informasi berguna adalah relevansi dan representasi setia (faithful representation). Relevansi menuntut informasi dapat mempengaruhi keputusan pengguna, sedangkan representasi setia menekankan keakuratan, lengkapnya, dan netralitas informasi. IFRS menekankan bahwa nilai wajar merupakan estimasi harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau dibayarkan untuk mentransfer suatu kewajiban dalam transaksi yang teratur antara pihak‑pihak yang bersedia bertransaksi pada tanggal pengukuran. Metode ini, bila diterapkan secara konsisten dan didukung oleh pasar aktif, dapat meningkatkan relevansi laporan keuangan karena mencerminkan nilai ekonomi terkini.  Namun, kerangka ini juga mengingatkan adanya pertimbangan biaya (cost‑benefit) dalam penerapan karakteristik kualitatif. Jika biaya memperoleh atau memverifikasi nilai wajar melebihi manfaat yang diberikan kepada pengguna, representasi setia dapat terancam.
b. Kerangka Konseptual PSAK  
Pernyataan Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan PSAK (yang bersifat adaptasi dari IFRS) juga menegaskan tujuan serupa: memberikan informasi yang berguna bagi pengguna dalam menilai kinerja dan posisi keuangan entitas. Karakteristik kualitatif yang ditekankan meliputi relevansi, keandalan (reliability), dapat dipahami, serta dapat dibandingkan. PSAK cenderung menitikberatkan pada keandalan melalui penggunaan nilai historis dan penurunan nilai (impairment) yang konservatif, serta menolak penggunaan nilai wajar kecuali terdapat pasar aktif yang dapat menyediakan data yang dapat diverifikasi secara independen. Sebagai contoh, PSAK 45 tentang Aset Tetap mewajibkan perusahaan untuk mengakui aset pada biaya perolehan, dikurangi akumulasi penyusutan dan penurunan nilai, kecuali jika terdapat pasar yang aktif untuk aset serupa. Hal ini mencerminkan pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap volatilitas nilai pasar domestik, dimana likuiditas dan transparansi pasar aset seperti pesawat belum sejalan dengan standar internasional.
c. Analisis Kesesuaian Penggunaan Fair Value
Penerapan nilai wajar pada armada pesawat PT Garuda Sejahtera menimbulkan dua dimensi analisis. Secara teoritis, nilai wajar meningkatkan relevansi informasi karena mencerminkan nilai pasar terkini, yang penting bagi investor internasional dalam menilai risiko dan potensi pengembalian[^8]. Di sisi lain, ketidaktersediaan pasar yang likuid untuk pesawat di Indonesia menurunkan keandalan estimasi tersebut. Tanpa data transaksi yang dapat diverifikasi, penilaian nilai wajar menjadi bergantung pada model internal yang bersifat subjektif, sehingga menurunkan tingkat representasi setia. Selain itu, biaya audit untuk memverifikasi nilai wajar pada aset non‑likuid dapat menjadi krusial. Auditor harus menilai model penilaian, asumsi diskonto, dan data komparatif yang mungkin diperoleh dari pasar luar negeri, yang menambah kompleksitas dan potensi perbedaan penafsiran antar auditor. Dari perspektif PSAK, pilihan nilai historis lebih konsisten dengan prinsip kehati-hatian (prudent) dan menurunkan volatilitas laba yang dapat menyesatkan pemangku kepentingan domestik. Namun, penggunaan nilai historis dapat mengurangi relevansi bagi investor yang menuntut transparansi nilai pasar aktual, terutama ketika perusahaan beroperasi secara lintas‑batas.  
Dengan demikian, keputusan PT Garuda Sejahtera dapat dianggap relevan namun kurang dapat diandalkan dalam konteks pasar domestik, sementara tetap memberikan nilai tambah bagi pasar modal internasional yang menghargai standar IFRS.

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan keputusan PT Garuda Sejahtera menggunakan nilai wajar untuk menilai pesawatnya. Alasannya: Dasar Pembenaran (Sisi IFRS):
  •  Nilai wajar lebih relevan bagi investor global karena menunjukkan nilai terkini aset.
  • Mencerminkan substansi ekonomi pesawat, bukan sekadar harga beli masa lalu.
Mengapa Bermasalah di Indonesia (Sisi PSAK & Realita):
  • Pasar pesawat di Indonesia tidak aktif, sehingga nilai wajar menjadi subjektif dan tidak akurat, melanggar prinsip representasi setia.
  •  Biaya menghitung nilai wajar yang rumit bisa lebih besar daripada manfaatnya.
  •  Biaya historis lebih konservatif dan sesuai dengan prinsip kehati-hatian PSAK, karena mencegah pengakuan keuntungan yang belum nyata di pasar yang tidak likuid.
Nilai wajar teoritis baik untuk daya tarik global, tetapi dalam praktiknya justru berisiko karena tidak mencerminkan realitas pasar Indonesia yang sesungguhnya.

2. Perbandingan Kerangka Konseptual PSAK dan IFRS
PSAK dan IFRS pada dasarnya memiliki prinsip-prinsip dasar yang hampir sama. Namun, perbedaan utama terletak pada penekanan dan penerapannya. PSAK lebih berfokus pada kebutuhan investor dan kreditor domestik serta sangat menekankan prinsip kehati-hatian. Pendekatan ini membuat PSAK cenderung menggunakan biaya historis sebagai basis pengukuran utama, yang dianggap lebih konservatif dan sesuai dengan kondisi pasar Indonesia yang belum sepenuhnya matang. Di sisi lain, IFRS dirancang untuk memenuhi kebutuhan investor global dan lebih mendorong penggunaan nilai wajar karena dianggap lebih relevan dan mencerminkan kondisi ekonomi terkini. IFRS juga lebih menekankan relevansi dan netralitas dalam penyajian informasi.

3. Pendapat saya tentang Indonesia mengikuti sepenuhnya kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal
Saya tidak setuju jika Indonesia mengadopsi kerangka konseptual IFRS sepenuhnya tanpa penyesuaian lokal. Karena dilihat dari segi:
a. Faktor Ekonomi:Tingkat Kematangan Pasar: IFRS dirancang untuk pasar modal yang sangat maju, likuid, dan efisien (seperti Eropa atau AS). Pasar modal dan pasar aset (seperti pesawat) di Indonesia belum sepenuhnya matang dan likuid. Memaksa nilai wajar untuk aset yang tidak memiliki pasar aktif akan menghasilkan angka yang sangat spekulatif dan tidak dapat diandalkan, berpotensi menciptakan gelembung ekonomi.
b. Faktor Sosial dan Regulasi: 
Perlindungan Investor Lokal: Investor retail di Indonesia mungkin belum sepenuhnya siap memahami kompleksitas dan kketidakstabilan laporan keuangan berbasis nilai wajar. PSAK yang sedikit lebih konservatif berfungsi sebagai pelindung untuk mencegah informasi yang terlalu rumit dan berisiko menyesatkan.
Kepatuhan terhadap Hukum Indonesia: Perusahaan di Indonesia tunduk pada hukum pajak dan hukum perusahaan Indonesia yang sering kali masih berpedoman pada konsep biaya historis. Adopsi penuh IFRS dapat menciptakan kesenjangan (gap) antara laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal, yang mempersulit pelaporan dan audit.
c. Tingkat Kematangan pasar Indonesia
IFRS adalah standar yang baik, tetapi yang lebih penting adalah standar yang tepat untuk konteks Indonesia. Tujuan utama pelaporan keuangan adalah menyajikan informasi yang jujur dan dapat diandalkan. Jika penerapan suatu standar justru membuat informasi menjadi tidak dapat diandalkan (karena ketiadaan pasar aktif), maka standar tersebut menjadi tidak berguna, bahkan berbahaya. Pemusatan, Bukan adopsi langsung: Kebijakan yang sudah tepat adalah penyatuan PSAK dengan IFRS. Artinya, Indonesia mengadopsi prinsip-prinsip inti IFRS yang berkualitas global, tetapi tetap melakukan penyesuaian dan penundaan penerapan untuk hal-hal yang kondisinya belum memungkinkan di Indonesia. Ini adalah jalan tengah yang bijak: mendapatkan manfaat standar global tanpa mengorbankan keandalan laporan keuangan di tingkat lokal.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
​​‎NPM : 2413831088
‎Kelas : 2024C
‎ ‎A.
Jawaban : Pengelolaan laba adalah tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan secara sengaja mengatur atau mempengaruhi besarnya laba yang ditampilkan dalam laporan keuangan. Hal ini biasanya dilakukan dengan memilih metode akuntansi tertentu, mengubah estimasi, atau menunda/mempercepat pencatatan transaksi agar laba terlihat sesuai target. Tujuannya bisa bermacam-macam, misalnya agar hasil sesuai harapan analis, bisa manajemen mendapatkan bonus, atau agar harga saham tetap tinggi. Masalahnya, praktik ini sering membuat kualitas laba jadi turun. Kualitas laba di sini maksudnya adalah seberapa baik laba tersebut benar-benar menggambarkan kinerja ekonomi perusahaan yang sebenarnya dan seberapa bagus kemampuan memprediksi arus kas di masa depan. Kalau laba dimanipulasi, informasi keuangan bisa jadi berputar bagi investor atau pihak lain yang memakai laporan tersebut untuk mengambil keputusan. Kontohnya, dalam pengelolaan laba berbasis akrual (manajemen laba berbasis akrual), perusahaan bisa mengubah waktu pencatatan pendapatan atau beban. Akibatnya, laba terlihat naik atau turun sesuai keinginan, padahal sebenarnya tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Hal ini membuat laba menjadi kurang konsisten dari waktu ke waktu (persistensi laba menurun) dan kurang bisa dijadikan patokan untuk memprediksi kinerja mendatang. Selain itu, ada juga pengelolaan laba berbasis real (real earnings management), misalnya dengan mengurangi biaya riset dan pengembangan (R&D) atau mempercepat penjualan agar laba naik. Cara ini memang bisa memperbaiki laba jangka pendek, tetapi bisa merugikan perusahaan dalam jangka panjang karena mengorbankan pertumbuhan masa depan. Meskipun demikian, dalam beberapa situasi, pengelolaan laba dalam jumlah yang wajar dapat memberikan manfaat. Misalnya, untuk meratakan variasi laba agar tidak terlalu turun, sehingga investor dapat melihat kinerja perusahaan dengan lebih stabil. Namun secara umum, praktik ini dianggap mengurangi keterbukaan (transparansi) laporan keuangan.

B. Jawaban : Kita perlu hati-hati saat melihat angka laba di laporan laba-rugi, karena angka tersebut tidak selalu sama dengan uang kas yang benar-benar masuk ke perusahaan atau menggambarkan kinerja perusahaan yang akan terus berlanjut di masa depan. Laba sering kali dipengaruhi oleh taksiran yang bersifat subyektif, seperti perhitungan penyusutan aset atau cadangan kerugian. Selain itu, manajemen bisa mengelola laba agar terlihat lebih bagus atau lebih jelek sesuai kepentingan mereka, dan ada juga perusahaan yang menggunakan ukuran non-GAAP yang bisa membuat hasil terlihat lebih baik daripada kenyataannya. Faktor luar seperti perubahan peraturan pemerintah atau kondisi pasar juga bisa membuat laba naik turun secara tiba-tiba, sehingga tidak bisa selalu dijadikan acuan untuk memprediksi kinerja jangka panjang. Laporan laba-rugi juga tidak selalu mencatat semua hal, misalnya kenaikan atau penurunan nilai aset yang belum direalisasi, sehingga gambaran yang diberikan bisa kurang lengkap.
‎Untuk itulah prinsip akuntansi yang berlaku umum atau GAAP (Generally Accepted Accounting Principles) dipakai. GAAP adalah seperangkat aturan dan standar yang mengatur bagaimana perusahaan mencatat, mengukur, dan melaporkan pendapatan serta biaya. Tujuannya agar laporan keuangan dibuat dengan cara yang konsisten, jelas, dan bisa dibandingkan antar perusahaan maupun dari tahun ke tahun. Dengan mengikuti GAAP, laporan keuangan akan lebih dapat dipercaya oleh investor, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya. GAAP juga membantu mengurangi risiko manipulasi yang berlebihan dan membuat manajemen lebih bertanggung jawab atas angka-angka yang mereka laporkan. ‎ ‎ ‎