Nama : Grescie Odelia Situkkir
1. Analisis Instrumen Investasi
Bandingkan instrumen ketiga dari sisi return , risiko , likuiditas , dan kesesuaian dengan tujuan dana pensiun . Apa kelebihan dan kelemahan masing-masing?
Kalau kita membandingkan pilihan ketiga tersebut dari sisi imbal hasil, risiko, kemudahan yang dicairkan, dan cocok tidaknya untuk dana pensiun dosen, hasilnya kurang lebih seperti :Dividen saham (sektor konsumen + perbankan) memang paling menggiurkan karena rata-rata bisa kasih return 11% setahun, bahkan bisa lebih kalau ada capital gain. Tapi akan, naik-turunnya luar biasa. Kalau pasar lagi jelek atau ekonomi lagi lesu, menyebabkan nilai portofolio amblas dalam waktu singkat, apalagi dividennya juga bisa dipotong perusahaan kalau labanya lagi tipis. Namun likuiditasnya , dapat dijual kapan saja bisa langsung cair. Tapi buat dana pensiun yang butuh kepastian bayar tiap bulan, ini agak berisiko kalau porsinya terlalu besar. Kewajiban pemerintah (ORI/SBN) jauh lebih tenang. Kuponnya tetap 6,5% setahun, dijamin negara, hampir nol risiko gagal bayar. Cocok untuk membuat dana pensiun karena arus kasnya dapat diprediksi bertahun-tahun ke depan. Kekurangannya cuma dua: return-nya kalah jauh sama saham, dan kalau tiba-tiba suku bunga BI naik tinggi, harga obligasi di pasar bisa turun (tapi kalau kita tahan sampai jatuh tempo tidak akan rugi). Likuiditasnya sedang, bisa dijual kalau mendesak, tapi kadang harganya tidak berkurang. Deposito berjangka paling aman. Bunga bersih cuma 4,25% setahun, pasti dibayar, tapi kalau inflasi lagi tinggi, nilai riilnya bisa habis dimakan inflasi. Likuiditasnya paling jelek karena kalau dicairkan sebelum jatuh tempo kena penalti lumayan. Tapi kelebihannya, dana kita aman.
2.Penentuan Alokasi Portofolio
Usulan Alokasi Portofolio Rp10 miliar .Berdasarkan profil risiko dana pensiun (konservatif-moderat), susunlah alokasi investasi dari Rp10 miliar ke dalam instrumen ketiga tersebut. jelaskan alasan alokasinya!
Menurut saya, dengan profil risiko yang konservatif-moderat (tidak mau rugi besar, tapi tetap ingin dana berkembang), alokasi yang paling masuk akal adalah:
- 30% ke saham dividen (Rp3 miliar)
- 50% ke ORI/SBN (Rp5 miliar)
- 20% ke deposito berjangka (Rp2 miliar)
Karena 70% dana kita taruh di instrumen yang hampir tidak mungkin rugi (kewajiban negara + deposito), jadi pembayaran pensiun 20 tahun ke depan tetap aman. Sisanya 30% kita masukkan ke saham biar dananya bisa tumbuh lebih kencang dan bisa mengimbangi inflasi jangka panjang. Kalau 100% aman semua, 10-15 tahun lagi nilai riil dananya bisa tergerus parah sama dengan inflasi. Return rata-rata portofolio ini kira-kira sekitar 7,8% – 8% per tahun (cukup untuk mengalakan inflasi rata-rata Indonesia yang sekitar 4-5%).
3.Simulasi Dampak Ekonomi
Dalam skenario krisis ekonomi (misalnya inflasi tinggi dan IHSG turun 20%):
A. Bagaimana dampak portofolionya terhadap Anda?
B. Apa langkah mitigasi risiko yang bisa dilakukan oleh manajer investasi?
- Saham langsung kena paling parah, Rp3 miliar bisa susut jadi Rp2,4 miliar dalam waktu singkat. Kewajiban negara kuponnya tetap dibayar, tapi kalau suku bunga naik tinggi buat menahan inflasi, harga pasarnya bisa turun (tapi kalau kita hold sampai jatuh tempo pasti balik lagi ke 100%). Deposito aman, cuma nilai riilnya makin kecil karena inflasi tinggi. Secara keseluruhan, nilai portofolio bisa turun sekitar 6-8% pada awal krisis, namun arus kas bulanan tetap jalan karena mayoritas dari obligasi dan bunga deposito.
B. Yang dapat dilakukan manajer investasi:
- Jangan panik jual saham di harga bawah, malah kalau ada dana idle bisa beli tambahan saham bagus yang lagi diskon.
- Pindahin sebagian deposito yang jatuh tempo ke obligasi negara yang baru terbit (biasanya kuponnya lebih tinggi saat inflasi naik).
- Rebalancing: kalau saham sudah turun jauh, dikurangi dulu jadi 20-25%, tambah ke obligasi.
- Pastikan selalu ada likuiditas 1-2 tahun ke depan di deposito/cash agar tidak terpaksa menjual saham atau obligasi di harga jelek.
4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Menjelaskan bagaimana ketiga instrumen investasi tersebut dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan Dana Pensiun berdasarkan prinsip akuntansi keuangan. (Gunakan pendekatan PSAK yang relevan.)
Di Indonesia, dana pensiun wajib pakai PSAK (Standar Akuntansi Keuangan). Khusus dana pensiun diatur di PSAK 18, sedangkan instrumen investasinya pakai PSAK 71 (Instrumen Keuangan).
- Dividen saham: dicatat di nilai wajar (nilai wajar). Setiap akhir tahun diukur ulang pakai harga pasar BEI. Jika naik/turun, selisihnya masuk ke laba rugi periode berjalan atau ke pendapatan komprehensif lainnya (tergantung kebijakan dana pensiun). Dividen yang diterima dicatat sebagai pendapatan investasi.
- ORI/SBN: biasanya diklasifikasikan sebagai diukur pada biaya perolehan diamortisasi (biaya diamortisasi) karena tujuan dipegang sampai jatuh tempo untuk mengambil kupon. Jadi tidak perlu tiap tahun naik-turun ikut harga pasar (kecuali kalau memang dijual sebelum musim gugur). Kupon dicatat sebagai pendapatan bunga.
- Deposito: juga biaya perolehan diamortisasi. Pokok + bunga yang masih harus diterima dicatat di neraca, bunga diakui setiap periode penggunaan metode bunga efektif.
Di posisi laporan keuangan (neraca) akan tampak pos:
Tiap tahun juga wajib ada laporan aktuaria yang membandingkan aset investasi dengan kewajiban pensiun (liabilitas) supaya jelas apakah dananya cukup atau kurang.