གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ shofi nusaibah

Learning Social Science -> Tugas Mandiri

shofi nusaibah གིས-
Nama : Shofi Nusaibah
Kelas : 3D
NPM : 2413053142
1. metode: PjBL
Kelebihan:
Metode PjBL diterapkan dengan alur yang jelas, mulai dari tahap mengamati video, berdiskusi, hingga mempresentasikan hasil.
Siswa diberi kesempatan untuk eksplorasi dan terlibat dalam proses menemukan informasi sendiri.
Kegiatan proyek sederhana membantu siswa memahami materi penampakan alam secara lebih nyata.
Kekurangan:
Beberapa kelompok belum sepenuhnya aktif; aktivitas proyek masih didominasi oleh satu atau dua siswa.
Perlu arahan lebih tegas agar semua anggota kelompok berperan sesuai tugasnya dalam kegiatan PjBL.

2. media: media interaktif berupa video youtube, PPT, dan gambar.
Kelebihan:
Media interaktif membantu menarik perhatian siswa dan membuat materi lebih mudah dipahami.
Penggunaan gambar dan video membuat siswa memiliki gambaran visual yang jelas tentang penampakan alam.
PPT yang digunakan terstruktur sehingga membantu jalannya penjelasan.
Kekurangan:
Saat menonton video, sebagian siswa terlihat pasif sehingga perlu diselingi pertanyaan pemicu agar mereka tetap fokus.
Media gambar bisa lebih dimaksimalkan untuk memperkuat aktivitas mengidentifikasi jenis penampakan alam.

3. penguasaan materi: baik
Selama proses pembelajaran, Ibu Bety terlihat sangat memahami alur materi. Penjelasan yang diberikan terstruktur, tidak bertele-tele, dan selalu dikaitkan dengan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Ketika siswa bertanya, jawaban yang diberikan jelas dan menunjukkan penguasaan konsep. Penggunaan video juga cukup membantu siswa membayangkan penampakan alam yang sedang dipelajari.
Kelebihan:
Penjelasan Ibu Bety sangat runtut dan mudah dipahami siswa.
Guru mampu mengaitkan materi dengan contoh nyata di sekitar siswa sehingga konsep lebih konkret.
Jawaban terhadap pertanyaan siswa tepat dan menunjukkan pemahaman konsep yang baik.
Kekurangan:
Sesekali perlu memberikan penguatan konsep inti agar semua siswa benar-benar memahami, bukan hanya yang aktif bertanya.
Beberapa istilah geografi bisa diberi tambahan penjelasan sederhana supaya tidak membingungkan siswa.

4. pengelolaan kelas : Secara umum kelas berjalan kondusif. Ibu Bety mampu mengarahkan siswa dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya dengan cukup lancar. Saat diskusi, beberapa kelompok memang terlihat perlu sedikit dorongan untuk fokus, tetapi guru dapat segera menanganinya. Alur kegiatan mulai dari menonton video, mengamati, berdiskusi, hingga mempresentasikan terlihat jelas dan teratur.
Kelebihan:
Suasana kelas secara umum kondusif dan terkendali.
Guru mampu memindahkan siswa dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya dengan cukup lancar.
Guru responsif ketika melihat kelompok yang mulai kehilangan fokus.
Kekurangan:
Masih ada kelompok yang perlu dikendalikan ulang karena kurang fokus saat diskusi.
Presentasi kelompok belum merata; beberapa siswa hanya berdiri tanpa ikut berbicara.

5. skor 90/100

Learning Social Science -> Tugas mandiri

shofi nusaibah གིས-
Nama : Shofi Nusaibah
NPM : 2413053142
Kelas : 3D

Masalah Sosial: Perundungan (Bullying) di Kalangan Pelajar
Perundungan atau bullying merupakan salah satu masalah sosial yang marak terjadi di kalangan pelajar di Indonesia. Tindakan ini dapat berupa kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis yang dilakukan secara berulang terhadap seseorang yang dianggap lemah. Dalam konteks saat ini, bentuk perundungan juga meluas ke dunia maya (cyberbullying), seperti penyebaran pesan atau komentar yang merendahkan di media sosial. Fenomena ini menimbulkan dampak negatif yang serius bagi korban, seperti menurunnya rasa percaya diri, kecemasan, depresi, bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup.

Solusi
Untuk mengatasi masalah perundungan, diperlukan upaya kolaboratif antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter dan pembelajaran berbasis empati agar siswa memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Guru dapat menanamkan nilai toleransi dan menghargai perbedaan melalui kegiatan belajar maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Selain itu, konseling dan pengawasan perilaku siswa perlu ditingkatkan agar potensi perundungan bisa dicegah sejak dini. Orang tua juga diharapkan memperhatikan pola komunikasi dan perilaku anak di rumah, sementara pihak pemerintah dapat menetapkan kebijakan dan sanksi tegas terhadap pelaku perundungan di lingkungan pendidikan.

Landasan Teori
Menurut Luh Putu Shanti Kusumaningsih (2021) dalam jurnal berjudul “Perilaku Perundungan (Bullying) Ditinjau dari Teori Pembelajaran Sosial” (Jurnal SENRIABDI, Universitas Sahid Surakarta), perilaku perundungan dapat dijelaskan melalui teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory) yang dikemukakan oleh Albert Bandura.
Teori ini menjelaskan bahwa perilaku manusia terbentuk melalui proses observasi dan peniruan terhadap model atau figur yang ada di lingkungan sekitar. Dengan kata lain, siswa yang sering menyaksikan kekerasan atau perilaku agresif—baik di rumah, lingkungan sosial, maupun media—berpotensi meniru perilaku tersebut dan mengulanginya dalam kehidupan sehari-hari.
Kusumaningsih menegaskan bahwa perilaku bullying bukan semata-mata muncul secara spontan, melainkan merupakan hasil dari proses belajar sosial di mana individu meniru perilaku yang dianggap memberi keuntungan atau kekuasaan.

Kesimpulan
Berdasarkan teori pembelajaran sosial dari Bandura yang dijelaskan oleh Kusumaningsih, dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan perilaku yang dipelajari melalui pengamatan terhadap lingkungan sosial. Oleh karena itu, solusi yang tepat untuk menanggulangi perundungan adalah menciptakan lingkungan yang memberikan contoh perilaku positif, memperkuat pendidikan karakter, serta meningkatkan kesadaran empati di kalangan pelajar.