Kiriman dibuat oleh Fitria Salwa Ramadani

Learning Social Science -> Tugas mandiri

oleh Fitria Salwa Ramadani -
Nama: Fitria Salwa Ramadani
Npm: 2413053133
Kelas: 3D

Masalah Sosial :
• Siswa membuang sampah sembarangan.
• Tidak adanya pembagian tugas kebersihan yang konsisten.
• Anggapan bahwa kebersihan hanya tugas petugas kebersihan sekolah.
Masalah ini umum ditemukan di banyak sekolah dasar di Indonesia.

1. Teori yang Relevan:
Teori Pembelajaran Sosial (Albert Bandura)
Teori Pembelajaran Sosial menekankan bahwa siswa belajar melalui proses mengamati dan meniru perilaku orang lain (modeling). Dalam konteks pembelajaran di sekolah, guru berperan sebagai model utama, sehingga perilaku guru akan sangat mempengaruhi bagaimana siswa bertindak. Jika guru menunjukkan perilaku yang konsisten, seperti membuang sampah pada tempatnya, merawat fasilitas kelas, dan bersikap peduli terhadap kebersihan, maka siswa akan lebih mudah meniru dan menginternalisasi perilaku tersebut. Selain itu, teori ini menekankan pentingnya reinforcement (penguatan), baik berupa pujian, pengakuan, maupun bentuk penghargaan lain yang membuat siswa merasa bahwa tindakan menjaga kebersihan adalah perilaku yang dihargai dan positif.

Solusi:
Dalam praktik pembelajaran IPS, guru tidak hanya menyampaikan materi tentang pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga mendemonstrasikan tindakan tersebut secara langsung. Guru dapat memperagakan cara memilah sampah organik dan anorganik, menunjukkan bagaimana membersihkan area meja belajar, serta secara nyata membuang sampah pada tempat yang benar. Guru juga dapat menunjuk beberapa siswa teladan sebagai role model untuk membantu memberi contoh pada teman sebayanya. Selain itu, pemberian penguatan positif perlu diterapkan, misalnya dengan memberikan pujian secara terbuka, menempelkan bintang prestasi kebersihan, atau memberikan tanggung jawab khusus bagi siswa yang menunjukkan kepedulian tinggi terhadap lingkungan kelas. Dengan demikian, siswa belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung, hingga akhirnya terbentuk kebiasaan kolektif menjaga kebersihan yang tumbuh secara sadar dan bertanggung jawab.

2. Teori yang Relevan:
Teori Konstruktivisme Sosial (Lev Vygotsky)
Teori Konstruktivisme Sosial berpendapat bahwa pengetahuan tidak datang begitu saja, melainkan dibangun melalui interaksi sosial, kerja sama, dan dialog antarindividu. Belajar terjadi ketika siswa saling berdiskusi, bernegosiasi, dan memaknai pengalaman bersama. Dalam konteks pembelajaran IPS di SD, nilai kepedulian terhadap kebersihan lingkungan tidak cukup hanya dijelaskan, tetapi perlu diciptakan situasi sosial yang memungkinkan siswa mengalami dan merasakan manfaat dari kerja sama dalam menjaga lingkungan. Peran guru adalah sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan interaksi tersebut, bukan satu-satunya sumber pengetahuan.

Solusi:
Untuk menerapkan teori ini, guru dapat membentuk kelompok kerja kebersihan yang bertanggung jawab pada area tertentu di sekolah, seperti taman, lorong kelas, dan ruang belajar. Setiap kelompok bekerja secara bergiliran sehingga setiap siswa merasakan peran dan tanggung jawab yang sama. Selanjutnya, guru mengadakan diskusi reflektif setelah kegiatan, misalnya dengan mengajukan pertanyaan: “Apa yang terjadi jika lingkungan tidak dibersihkan?” atau “Bagaimana perasaanmu setelah menjaga lingkungan bersama teman-teman?”. Kegiatan ini membantu siswa membangun pemahaman melalui dialog dan pengalaman langsung. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengetahui bahwa kebersihan itu penting, tetapi menyadari keterhubungan antara tindakan pribadi dan kualitas lingkungan sosial, sehingga tercipta kesadaran kolektif dan rasa tanggung jawab bersama.