Kiriman dibuat oleh Irma Putri Wulandari

Learning Social Science -> Tugas Mandiri

oleh Irma Putri Wulandari -
NAMA  : IRMA PUTRI WULANDARI
NPM    :  2413053131
KELAS :  3D

1. Metode yang Digunakan
Kelebihan
  • Menggunakan metode ceramah interaktif: guru bertanya–jawab, mengajak siswa berpikir, dan mengajak mereka menyebutkan contoh langsung.
  • Ada metode diskusi kelompok melalui LKPD, sehingga siswa aktif, kolaboratif, dan belajar mengelompokkan informasi.
  • Guru juga memakai metode demonstrasi melalui tayangan video dan diorama.
  • Ada apersepsi dan kegiatan awal yang jelas (doa, ice breaking, lagu).
  • Pembelajaran berpusat pada siswa (student centered) cukup terlihat pada bagian diskusi dan presentasi.
Kekurangan
  • Ceramah masih dominan di awal sehingga waktu terkesan lama sebelum masuk kegiatan inti.
  • Pertanyaan guru banyak yang jawabannya serentak sehingga belum maksimal menggali pemahaman individu.
  • Transisi kegiatan cukup panjang sehingga efisiensi waktu kurang optimal.
2. Media yang Digunakan
Kelebihan
Media cukup beragam:
  • Video pembelajaran
  • Gambar kenampakan alam
  • LKPD gunting-tempel
  • Diorama / poster pembagian litosfer–hidrosfer–atmosfer
  • Lagu edukatif
Media sesuai dengan karakteristik siswa SD: konkret, visual, menarik.
Video membantu menjelaskan konsep yang sulit.

Kekurangan
  • Video terkesan cukup panjang dan banyak teks, sehingga siswa mungkin cepat bosan.
  • Media visual seperti poster/diorama kurang ditunjukkan lebih dekat kepada siswa (perlu lebih eksplisit diarahkan).
  • Suara video mungkin perlu lebih jelas (tergantung kualitas).
3. Penguasaan Materi oleh Guru
Kelebihan
  • Guru mampu menjelaskan konsep litosfer, hidrosfer, atmosfer, beserta contoh-contohnya.
  • Guru percaya diri dan terlihat paham urutan materi.
  • Memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan siswa (sungai dekat sekolah, rawa, danau Ranau, Danau Toba).
  • Menjelaskan kembali isi video dengan ringkas sehingga memperkuat pemahaman.
Kekurangan
  • Ada beberapa pengucapan istilah ilmiah yang kurang tepat atau kurang jelas (misalnya “litmosfer”, “metosfer”, “danosfer”—harusnya mesosfer dan ionosfer).
  • Penjelasan tentang fungsi atmosfer/litosfer bisa lebih diperdalam sedikit untuk memperkaya pemahaman siswa.
  • Beberapa jawaban siswa kurang diperbaiki atau kurang dielaborasi.
4. Pengelolaan Kelas
Kelebihan
  • Guru mampu menciptakan suasana kelas yang hangat, nyaman, dan disiplin.
  • Kegiatan awal sangat lengkap: doa, absensi, kebersihan, motivasi, lagu.
  • Mampu menjaga perhatian siswa melalui tepuk-tepuk, lagu, dan interaksi.
  • Pembagian kelompok jelas, LKPD terstruktur, waktu kerja diberikan.
  • Guru ikut berkeliling membimbing kelompok.
  • Presentasi kelompok berjalan tertib, siswa terlihat percaya diri.
Kekurangan
  • Waktu pembelajaran cukup lama sebelum masuk kegiatan inti.
  • Beberapa anak menjawab bersamaan sehingga guru perlu lebih memandu siapa yang menjawab agar semua terlibat merata.
  • Saat diskusi, bimbingan guru bisa lebih fokus pada kelompok yang terlihat kesulitan.
5. Skor Guru Bu Beti (Rentang 1–100)
Berdasarkan kinerja mengajar, variasi metode, penggunaan media, penguasaan kelas, dan penguasaan materi, nilai realistis dan objektif:

Skor: 88 / 100

Alasan:
Performa sangat baik, pembelajaran menarik, interaktif, media lengkap.
Penguasaan materi sangat baik meski ada beberapa istilah yang perlu diperjelas.
Pengelolaan kelas aktif dan positif.
Ada sedikit kekurangan pada efisiensi waktu dan pelafalan istilah.

Learning Social Science -> Tugas mandiri

oleh Irma Putri Wulandari -
Nama : Irma Putri Wulandari
NPM   : 2413053131
Kelas  : 3D

Masalah Sosial

Ketimpangan Ekonomi dan Lapangan Kerja

Di satu sisi, kota besar seperti Jakarta atau Surabaya bersinar seperti pusat galaksi, penuh gedung kaca dan peluang. Tapi di sisi lain, masih banyak daerah di mana anak-anak berangkat sekolah sambil harap-harap cemas apakah nasi di piring besok masih ada. Masih banyak masyarakat kelas pekerja, terutama anak muda, yang kesulitan mendapatkan pekerjaan layak meski berpendidikan.


Solusi Sesuai Teori

Untuk mencari solusi yang tepat, perlu didasari pada teori-teori ekonomi dan sosial yang menjelaskan akar dan mekanismenya. Berikut beberapa landasan teori yang relevan dan dapat digunakan sebagai dasar solusi:

1. Teori Modal Manusia (Human Capital Theory) – Gary S. Becker (1964)

Inti teori: Pendidikan dan pelatihan meningkatkan produktivitas individu, yang kemudian meningkatkan peluang kerja dan pendapatan.

Implikasi solusi:

a.      Fokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri.

b.      Mendorong link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

c.       Pengembangan lifelong learning agar tenaga kerja tidak tertinggal oleh perubahan teknologi.

 

2. Teori Ketimpangan Struktural (Structural Inequality Theory) – Blau & Duncan (1967)

Inti teori: Ketimpangan ekonomi muncul karena struktur sosial yang tidak merata dalam akses terhadap sumber daya, pendidikan, dan peluang.

Implikasi solusi:

a.      Pemerintah perlu melakukan reformasi struktural, seperti pemerataan pembangunan antarwilayah.

b.      Subsidi dan insentif ekonomi bagi daerah tertinggal dan UMKM.

c.       Redistribusi sumber daya (misal: infrastruktur, akses internet, dan modal usaha).

 

3. Teori Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Theory) – Amartya Sen (1999)

Inti teori: Pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tapi dari perluasan kapabilitas manusia (kemampuan memilih kehidupan yang mereka nilai berharga).

Implikasi solusi:

a.      Membangun ekonomi berbasis kapabilitas: pendidikan, kesehatan, dan kesempatan berusaha.

b.      Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan daerah.

c.       Mendorong pembangunan inklusif dan ramah lingkungan agar berkelanjutan.

 

4. Teori Pasar Tenaga Kerja Dualistik (Dual Labor Market Theory) – Doeringer & Piore (1971)

Inti teori: Pasar tenaga kerja terbagi menjadi sektor “primer” (gaji tinggi, stabil) dan “sekunder” (upah rendah, tidak pasti).

Implikasi solusi:

a.      Program peningkatan keterampilan agar tenaga kerja bisa berpindah dari sektor sekunder ke primer.

b.      Kebijakan upah layak dan jaminan sosial untuk sektor informal.

c.       Penguatan kewirausahaan sosial dan ekonomi kreatif.

 

5. Teori Ketergantungan (Dependency Theory) – Andre Gunder Frank (1966)

Inti teori: Ketimpangan ekonomi antara pusat (kota besar) dan pinggiran (daerah) muncul karena ketergantungan ekonomi dan arus modal yang timpang.

Implikasi solusi:

a.      Desentralisasi ekonomi dan pemberdayaan ekonomi lokal.

b.      Penguatan industri daerah dan rantai pasok lokal.

c.       Kebijakan fiskal yang mendorong pemerataan investasi.

 

6. Teori Pembangunan Inklusif (Inclusive Growth Theory) – World Bank (2009)

Inti teori: Pertumbuhan ekonomi harus mencakup seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok miskin dan muda.

Implikasi solusi:

a.      Investasi dalam UMKM dan kewirausahaan muda.

b.      Akses luas terhadap kredit mikro dan teknologi digital.

c.       Pendidikan kewirausahaan dan literasi finansial.

 

KESIMPULAN

Ketimpangan ekonomi dan sulitnya lapangan kerja terjadi bukan hanya karena kurangnya pekerjaan, tetapi karena akses pendidikan, sumber daya, dan kesempatan belum merata. Teori-teori di atas menekankan bahwa solusi harus menyentuh akar masalah: meningkatkan kualitas manusia lewat pendidikan dan pelatihan, memperbaiki struktur ekonomi agar peluang tidak hanya terkumpul di kota besar, serta mendorong pembangunan yang inklusif dan berpihak pada kelompok rentan. Singkatnya, jalan keluar bukan hanya “lebih banyak pekerjaan,” tetapi membangun sistem yang memberi setiap orang kemampuan, peluang, dan dukungan untuk berkembang. Dengan pendekatan itu, pertumbuhan ekonomi tidak lagi hanya dinikmati segelintir, melainkan menjadi kekuatan bersama menuju kesejahteraan yang adil.