Kiriman dibuat oleh Dian Isti Eka Putri 2413053126

Learning Social Science -> Tugas Mandiri

oleh Dian Isti Eka Putri 2413053126 -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang, Bapak.

Sebelumnya izin memperkenalkan diri.
Nama: Dian Isti Eka Putri
NPM: 2413053126
Kelas: 3D

Izin mengumpulkan tugas hasil analisis dari video pembelajaran Ibu Beti, Bapak.

1. Metode yang Digunakan oleh Bu Beti

Metode yang digunakan oleh Bu Betty meliputi beberapa metode di antaranya metode ceramah, metode diskusi kelompok, dan metode tanya jawab.

Kelebihan:
Metode pembelajaran yang diterapkan Bu Beti bersifat aktif dan berpusat pada peserta didik. Hal ini terlihat dari rangkaian kegiatan seperti menonton video, diskusi kelompok, identifikasi melalui gambar, pengerjaan LKPD, presentasi kelompok, refleksi, dan evaluasi. Urutan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Bu Beti memberikan kesempatan luas kepada peserta didik untuk mengamati, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat sehingga proses pembelajaran berlangsung interaktif.

Kekurangan:
Metode pembelajaran yang diterapkan cukup banyak dalam satu pertemuan berpotensi membuat pengelolaan waktu menjadi kurang efektif. Diskusi kelompok yang diikuti presentasi juga dapat menyebabkan peserta didik terburu-buru mengerjakan tugas jika waktu tidak mencukupi. Selain itu, belum terlihat adanya variasi strategi pembelajaran untuk peserta didik yang kurang aktif atau kesulitan memahami materi.

2. Media yang Digunakan oleh Bu Beti

Media yang digunakan meliputi video pembelajaran, PPP, gambar pendukung, dan LKPD.

Kelebihan
Media pembelajaran yang digunakan sudah bervariasi, meliputi video, PPT, gambar, dan LKPD. Penggunaan video sangat membantu peserta didik melakukan pengamatan awal terhadap materi kenampakan alam. PPT dan gambar mendukung proses identifikasi visual sehingga peserta didik lebih mudah memahami perbedaan antarjenis kenampakan alam. LKPD juga membantu mengarahkan kegiatan peserta didik selama diskusi.

Kekurangan:
Dari gambaran kegiatan, tidak terlihat bagaimana kualitas tampilan video maupun PPT, sehingga ada kemungkinan beberapa peserta didik mengalami kesulitan melihat detail gambar apabila pencahayaan ruangan kurang optimal atau tampilan tidak cukup jelas. Media yang digunakan juga terbatas pada video dan gambar, sementara materi kenampakan alam akan lebih jelas apabila dilengkapi dengan media konkret seperti peta atau globe.

3. Penguasaan Materi oleh Bu Beti

Pada video, Bu Betty terlihat menguasai materi kenampakan alam serta mampu menjelaskannya pada peserta didik.

Kelebihan:
Bu Beti menunjukkan penguasaan materi yang baik, ditunjukkan melalui kemampuannya menjelaskan jenis-jenis kenampakan alam serta membimbing peserta didik dalam mengidentifikasi karakteristik dari video dan gambar yang ditampilkan. Beliau mampu memandu peserta didik mengerjakan LKPD serta menutup pembelajaran dengan memberikan kesimpulan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Kekurangan:
Beberapa bagian pembelajaran masih berpotensi untuk lebih dimaksimalkan, khususnya dalam penguatan konsep setelah presentasi kelompok. Selain itu, penyajian contoh tambahan dari lingkungan sekitar dapat membantu memperkaya penjelasan.

4. Pengelolaan Kelas oleh Bu Beti

Pengelolaan kelas tampak terstruktur karena kegiatan berjalan dari awal hingga akhir secara runtut.

Kelebihan:
Bu Betty mampu mengatur alur kegiatan pembelajaran dengan jelas sehingga peserta didik mengetahui tahapan yang harus dilakukan. Diskusi, presentasi, refleksi, dan evaluasi menunjukkan bahwa kelas dikelola secara aktif namun tetap berfokus pada tujuan pembelajaran.

Kekurangan:
Karena banyaknya tahapan pembelajaran, transisi antar kegiatan membutuhkan manajemen waktu yang lebih cermat agar seluruh kegiatan dapat berjalan optimal. Dalam kegiatan kelompok, tidak terlihat strategi yang digunakan Bu Beti untuk menjaga kondisi kelas tetap kondusif, terutama ketika peserta didik mulai bergerak atau berpindah fokus.

5. Skor Penilaian untuk Bu Beti (Rentang 1–100)

Skor yang diberikan: 88

Alasan:
Pembelajaran telah memenuhi prinsip pembelajaran aktif dan berpusat pada peserta didik. Media pembelajaran cukup bervariasi, penguasaan materi baik, dan pengelolaan kelas dilakukan secara terarah. Kekurangan yang muncul lebih bersifat teknis, terutama terkait efektivitas waktu, kedalaman penguatan konsep, serta pengelolaan dinamika kelompok yang memerlukan perhatian lebih.

Sekian dari saya, terima kasih.
Selamat siang, Bapak.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Learning Social Science -> Tugas mandiri

oleh Dian Isti Eka Putri 2413053126 -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang, Bapak.

Izin memperkenalkan diri
Nama: Dian Isti Eka Putri
NPM: 2413053126
Kelas: 3D

1. Masalah Sosial
Penyebaran berita hoaks di lingkungan sekolah menjadi salah satu masalah sosial yang semakin sering terjadi di era digital. Siswa dengan mudah memperoleh dan menyebarkan informasi melalui media sosial tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.
Misalnya, tersebarnya kabar palsu tentang adanya siswa yang dikeluarkan karena pelanggaran tertentu, atau informasi menyesatkan terkait kegiatan sekolah.

Fenomena ini dapat menimbulkan kesalahpahaman, menurunkan kepercayaan antar warga sekolah, dan menciptakan konflik sosial. Selain itu, penyebaran hoaks menunjukkan rendahnya kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan tanggung jawab moral peserta didik dalam menggunakan informasi.

2. Solusi Beserta Landasan Teori yang Relevan
Upaya mengatasi penyebaran berita hoaks di sekolah perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan pendidikan yang berlandaskan teori perkembangan kognitif, teori belajar sosial, dan teori sistem ekologis.

Pertama, meningkatkan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis peserta didik sesuai dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget (1952). Piaget menjelaskan bahwa kemampuan berpikir logis dan analitis berkembang seiring dengan pengalaman belajar individu. Oleh karena itu, guru dapat memberikan pengalaman belajar konkret yang melatih siswa untuk memverifikasi informasi, membedakan fakta dan opini, serta menilai kebenaran suatu berita.
Kegiatan pembelajaran dapat dikemas melalui proyek seperti pembuatan poster edukasi anti-hoaks atau lomba “Cek Fakta Sekolahku” agar siswa belajar menalar secara rasional dalam konteks nyata.

Kedua, menerapkan keteladanan guru dan pembiasaan komunikasi etis sejalan dengan teori belajar sosial Albert Bandura (1977). Bandura menegaskan bahwa individu belajar melalui observasi dan peniruan (modeling). Dengan demikian, guru dan tenaga pendidik harus menjadi teladan dalam berperilaku jujur, bertanggung jawab, dan berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Sikap positif guru akan ditiru oleh peserta didik dan memperkuat pembentukan karakter bermedia yang etis. Selain itu, pemberian penguatan positif kepada siswa yang menunjukkan perilaku jujur dapat memperkuat nilai moral dan sosial yang diharapkan.

Ketiga, membangun kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sesuai dengan teori sistem ekologis Urie Bronfenbrenner (1979). Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh interaksi berbagai sistem lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Oleh karena itu, pencegahan penyebaran hoaks harus melibatkan seluruh ekosistem pendidikan. Sekolah dapat mengadakan sosialisasi tentang bahaya hoaks bagi orang tua, sementara keluarga berperan dalam mengawasi dan membimbing anak agar bijak dalam bermedia. Sinergi ini akan menciptakan budaya informasi yang sehat dan tanggung jawab sosial yang kuat di lingkungan sekolah.

3. Kesimpulan
Penyebaran berita hoaks di lingkungan sekolah merupakan masalah sosial yang berkaitan dengan rendahnya literasi digital dan nilai tanggung jawab moral peserta didik. Upaya penanganannya harus dilakukan secara holistik melalui pendidikan literasi digital berbasis teori Piaget, keteladanan guru menurut Bandura, serta dukungan lingkungan sosial sebagaimana dijelaskan Bronfenbrenner. Dengan penerapan yang konsisten, sekolah dapat menjadi lingkungan yang informatif, aman, dan bebas dari penyebaran berita palsu.

Terima kasih, Bapak.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.