Nama : Melia Agustriani
NPM : 2411011059
Izin menjawab pertanyaan dari Radit.
Penerapan prinsip etika dalam persuasi di perusahaan dapat terlihat dari cara perusahaan melatih dan mengarahkan para penjualnya agar tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga menjaga kejujuran, kepercayaan, dan kepuasan pelanggan.
Contohnya, perusahaan seperti Toyota menerapkan prinsip etika dengan melatih tenaga penjual untuk memberikan informasi yang jujur dan transparan tentang produk, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Mereka tidak diperbolehkan menipu pelanggan dengan janji berlebihan hanya demi menutup penjualan. Pendekatan ini menunjukkan penerapan ethos — yaitu kejujuran dan integritas sebagai dasar dalam membangun kepercayaan jangka panjang.
Contoh lain bisa dilihat pada perusahaan seperti Wardah, yang selalu menekankan nilai kejujuran dan tanggung jawab sosial dalam kegiatan promosi dan penjualan. Penjual Wardah tidak hanya meyakinkan pelanggan dengan kata-kata manis, tetapi juga memberikan edukasi tentang produk yang halal, aman, dan sesuai kebutuhan konsumen. Dengan begitu, pesan persuasif mereka tidak memanipulasi, tetapi justru membangun hubungan kepercayaan antara penjual dan pelanggan.
Jadi, penerapan etika dalam persuasi berarti menjaga keseimbangan antara tujuan bisnis dan nilai moral, di mana penjual tidak hanya “membujuk untuk membeli,” tetapi juga memastikan pelanggan merasa dihargai, dihormati, dan mendapatkan manfaat nyata dari produk yang ditawarkan.
NPM : 2411011059
Izin menjawab pertanyaan dari Radit.
Penerapan prinsip etika dalam persuasi di perusahaan dapat terlihat dari cara perusahaan melatih dan mengarahkan para penjualnya agar tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga menjaga kejujuran, kepercayaan, dan kepuasan pelanggan.
Contohnya, perusahaan seperti Toyota menerapkan prinsip etika dengan melatih tenaga penjual untuk memberikan informasi yang jujur dan transparan tentang produk, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Mereka tidak diperbolehkan menipu pelanggan dengan janji berlebihan hanya demi menutup penjualan. Pendekatan ini menunjukkan penerapan ethos — yaitu kejujuran dan integritas sebagai dasar dalam membangun kepercayaan jangka panjang.
Contoh lain bisa dilihat pada perusahaan seperti Wardah, yang selalu menekankan nilai kejujuran dan tanggung jawab sosial dalam kegiatan promosi dan penjualan. Penjual Wardah tidak hanya meyakinkan pelanggan dengan kata-kata manis, tetapi juga memberikan edukasi tentang produk yang halal, aman, dan sesuai kebutuhan konsumen. Dengan begitu, pesan persuasif mereka tidak memanipulasi, tetapi justru membangun hubungan kepercayaan antara penjual dan pelanggan.
Jadi, penerapan etika dalam persuasi berarti menjaga keseimbangan antara tujuan bisnis dan nilai moral, di mana penjual tidak hanya “membujuk untuk membeli,” tetapi juga memastikan pelanggan merasa dihargai, dihormati, dan mendapatkan manfaat nyata dari produk yang ditawarkan.