Posts made by Salsabila Fiorenza

PO R20B Ganjil 2025 -> responsi 7 -> RESPONSI -> Re: RESPONSI

by Salsabila Fiorenza -
Nama: Salsabila Fiorenza
NPM: 2411011103

Assalamualaikum Bu Nova, selamat siang. izin memberikan tanggapan responsi di atas.

1. Analisis pertumbuhan popularitas tim dalam organisasi!
Popularitas tim dalam organisasi tumbuh karena semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi dunia kerja. Dulu, pekerjaan lebih banyak diselesaikan secara individual karena dianggap lebih cepat dan jelas tanggung jawabnya. Namun, seiring meningkatnya tuntutan inovasi, kebutuhan lintas keahlian, dan persaingan global, tim menjadi solusi yang lebih relevan. Organisasi juga menyadari bahwa karyawan lebih termotivasi ketika merasa menjadi bagian dari sebuah tim. Walau begitu, tim bukan berarti tanpa masalah—koordinasi yang rumit dan potensi konflik sering kali menjadi tantangan tersendiri.

2. Bandingkan kelompok dengan tim!
Kelompok adalah sekumpulan individu yang kebetulan berkumpul atau bekerja bersama, tetapi tujuan utamanya tetap bersifat pribadi. Sementara itu, tim terbentuk untuk mencapai tujuan bersama, dengan tanggung jawab kolektif. Jadi, kelompok lebih bersifat akumulasi kontribusi individu, sedangkan tim menekankan sinergi—hasil akhirnya sering kali lebih besar daripada sekadar penjumlahan kontribusi anggotanya.

3. Bandingkan 5 tipe tim!
• Tim Fungsional → terdiri dari orang-orang dengan keahlian serupa dalam satu departemen. Efisien, tetapi kurang bervariasi ide.
• Tim Lintas Fungsi → anggotanya berasal dari berbagai bagian organisasi. Kaya perspektif, tetapi lebih rawan konflik kepentingan.
• Tim Proyek → bersifat sementara dengan fokus pada tujuan tertentu. Efektif untuk hasil spesifik, tapi bubar setelah proyek selesai.
• Tim Virtual → bekerja jarak jauh dengan teknologi komunikasi. Fleksibel dan modern, tetapi sangat bergantung pada kualitas komunikasi digital.
• Tim Swakelola (Self-managed) → tanpa pengawasan langsung, anggota mengatur pekerjaan sendiri. Memberikan otonomi tinggi, namun hanya berhasil jika anggota memiliki kedewasaan profesional.

4. Identifikasi karakteristik dari tim yang efektif!
Tujuan jelas dan dipahami semua anggota.
Peran masing-masing terdefinisi namun tetap fleksibel.
Komunikasi terbuka dan dua arah.
Adanya rasa saling percaya dan saling menghargai.
Kepemimpinan yang mendorong kolaborasi, bukan kontrol berlebihan.
Evaluasi rutin untuk mengukur kinerja dan mencari perbaikan.

5. Bagaimana organisasi dapat menciptakan para pemain tim?
Organisasi tidak cukup hanya membentuk struktur tim di atas kertas. Mereka perlu membangun budaya kerja yang menekankan kolaborasi. Misalnya, memberi pelatihan yang mengasah keterampilan kerja sama, menciptakan sistem penghargaan yang menilai kinerja tim (bukan hanya individu), serta mendorong kepemimpinan yang inklusif. Lingkungan yang transparan dan penuh kepercayaan akan membuat anggota lebih nyaman untuk berkontribusi, sehingga muncul pemain tim yang sesungguhnya.

6. Jelaskan kapan menggunakan individu dan bukannya tim!
Tidak semua pekerjaan efektif jika dikerjakan oleh tim. Untuk tugas-tugas rutin, sederhana, dan membutuhkan kecepatan, individu lebih cocok. Contohnya, menginput data atau melaksanakan prosedur standar. Menggunakan tim untuk hal-hal seperti ini justru akan menambah biaya koordinasi dan memperlambat proses. Sebaliknya, tim lebih tepat digunakan ketika pekerjaan bersifat kompleks, membutuhkan kreativitas, serta menggabungkan berbagai keahlian.

PO R20B Ganjil 2025 -> RESPONSI PERTEMUAN 4 -> responsi 4 -> Re: responsi 4

by Salsabila Fiorenza -
Assalamualaikum ibu, izin menjawab pertanyaan di atas.
Nama: Salsabila Fiorenza
NPM: 2411011103

1. Persepsi dan Faktor yang Memengaruhinya
Persepsi adalah proses individu mengorganisasi dan menafsirkan kesan inderawi untuk memberi makna pada lingkungannya.
Faktor dalam diri: sikap, motif, minat, pengalaman, harapan.
Faktor objek: novelty, gerakan, suara, ukuran, latar belakang.
Faktor situasi: waktu, konteks sosial, lingkungan kerja atau non-kerja.

2. Teori Atribusi dan Tiga Penentunya
Teori atribusi menjelaskan apakah perilaku seseorang disebabkan faktor internal (disposisi) atau eksternal (situasi).
Kekhususan (distinctiveness): apakah perilaku berbeda di situasi lain?
Konsensus (consensus): apakah orang lain melakukan hal sama?
Konsistensi (consistency): apakah perilaku muncul berulang pada situasi serupa?

3. Jalan Pintas dalam Penilaian Orang Lain
Stereotyping.
Halo effect.
Selective perception.
Contrast effect.

4. Hubungan Persepsi dan Pengambilan Keputusan
Keputusan sangat dipengaruhi persepsi; kesalahan persepsi bisa menimbulkan bias, sementara persepsi yang tepat mendukung keputusan rasional dan adil.

5. Perbandingan Model Keputusan
Rasional: informasi lengkap, alternatif jelas, pilih terbaik.
Rasionalitas terbatas: keterbatasan informasi → cukup baik (satisficing).
Intuisi: cepat, berbasis pengalaman & bawah sadar.

6. Bias atau Kesalahan Umum
Overconfidence bias.
Anchoring bias.
Confirmation bias.
Availability bias.
Escalation of commitment.
Randomness error, hindsight bias.

7. Perbedaan Individu & Batasan Organisasi
Individu: kepribadian, nilai, gender, pengalaman, gaya berpikir.
Organisasi: aturan, kebijakan, budaya, keterbatasan waktu/biaya, struktur hierarki.

8. Tiga Kriteria Keputusan Etis
Utilitarianism: manfaat terbesar bagi banyak orang.
Rights: menghormati hak dasar individu.
Justice: distribusi adil dan merata.

9. Kreativitas dan Tiga Tahapnya
Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan ide baru yang bermanfaat.
Penyusunan informasi (problem formulation).
Inkubasi (incubation).
Insight & verifikasi (idea generation & verification).
Nama: Salsabila Fiorenza
NPM: 2411011103
Kelas: Manajemen

Analisis Jurnal
Demokrasi sebagai Wujud Nilai-Nilai Sila Keempat Pancasila dalam Pemilihan Umum Daerah di Indonesia

Jurnal ini membahas bagaimana pemilihan umum daerah di Indonesia seharusnya menjadi wujud nyata dari nilai-nilai sila keempat Pancasila, yakni kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan. Namun, kenyataannya pemilu masih menghadapi banyak masalah seperti kecurangan, konflik, dan lemahnya partisipasi rakyat yang mencerminkan kurangnya implementasi nilai demokrasi sejati.

Dominasi partai politik dalam menentukan calon kepala daerah tanpa proses yang demokratis, serta sulitnya calon independen untuk maju karena syarat yang berat, menunjukkan bahwa sistem politik belum sepenuhnya terbuka dan adil. Hal ini melemahkan peran rakyat dalam menentukan pemimpin secara langsung, sebagaimana diamanatkan oleh prinsip demokrasi Pancasila.

Penelitian ini menekankan perlunya perbaikan sistem pemilu agar lebih mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Partai politik perlu menjalankan fungsi secara demokratis, dan regulasi pemilu harus diperkuat agar mampu menghindari konflik dan mendorong keterlibatan rakyat secara aktif dan adil dalam proses demokrasi.
Nama: Salsabila Fiorenza
NPM: 2411011103
Kelas: Manajemen

Analisis Video Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Demokrasi di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan sejak kemerdekaan. Pada awalnya diterapkan sistem parlementer, namun karena tidak stabil, Soekarno menggantinya dengan Demokrasi Terpimpin yang memusatkan kekuasaan pada presiden. Masa ini ditandai dengan pembatasan kebebasan politik dan pengaruh besar militer serta partai tertentu.

Setelah kejatuhan Soekarno, Soeharto memimpin dengan Demokrasi Pancasila dalam era Orde Baru yang stabil secara politik dan ekonomi, tetapi bersifat otoriter. Reformasi 1998 membuka jalan bagi demokrasi yang lebih terbuka dengan pemilu langsung dan kebebasan berpendapat, meskipun tantangan seperti korupsi dan politik identitas masih tetap ada.