Nama: Salsabila Fiorenza
NPM: 2411011103
Assalamualaikum Bu Nova, selamat siang. izin memberikan tanggapan responsi di atas.
1. Analisis pertumbuhan popularitas tim dalam organisasi!
Popularitas tim dalam organisasi tumbuh karena semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi dunia kerja. Dulu, pekerjaan lebih banyak diselesaikan secara individual karena dianggap lebih cepat dan jelas tanggung jawabnya. Namun, seiring meningkatnya tuntutan inovasi, kebutuhan lintas keahlian, dan persaingan global, tim menjadi solusi yang lebih relevan. Organisasi juga menyadari bahwa karyawan lebih termotivasi ketika merasa menjadi bagian dari sebuah tim. Walau begitu, tim bukan berarti tanpa masalah—koordinasi yang rumit dan potensi konflik sering kali menjadi tantangan tersendiri.
2. Bandingkan kelompok dengan tim!
Kelompok adalah sekumpulan individu yang kebetulan berkumpul atau bekerja bersama, tetapi tujuan utamanya tetap bersifat pribadi. Sementara itu, tim terbentuk untuk mencapai tujuan bersama, dengan tanggung jawab kolektif. Jadi, kelompok lebih bersifat akumulasi kontribusi individu, sedangkan tim menekankan sinergi—hasil akhirnya sering kali lebih besar daripada sekadar penjumlahan kontribusi anggotanya.
3. Bandingkan 5 tipe tim!
• Tim Fungsional → terdiri dari orang-orang dengan keahlian serupa dalam satu departemen. Efisien, tetapi kurang bervariasi ide.
• Tim Lintas Fungsi → anggotanya berasal dari berbagai bagian organisasi. Kaya perspektif, tetapi lebih rawan konflik kepentingan.
• Tim Proyek → bersifat sementara dengan fokus pada tujuan tertentu. Efektif untuk hasil spesifik, tapi bubar setelah proyek selesai.
• Tim Virtual → bekerja jarak jauh dengan teknologi komunikasi. Fleksibel dan modern, tetapi sangat bergantung pada kualitas komunikasi digital.
• Tim Swakelola (Self-managed) → tanpa pengawasan langsung, anggota mengatur pekerjaan sendiri. Memberikan otonomi tinggi, namun hanya berhasil jika anggota memiliki kedewasaan profesional.
4. Identifikasi karakteristik dari tim yang efektif!
Tujuan jelas dan dipahami semua anggota.
Peran masing-masing terdefinisi namun tetap fleksibel.
Komunikasi terbuka dan dua arah.
Adanya rasa saling percaya dan saling menghargai.
Kepemimpinan yang mendorong kolaborasi, bukan kontrol berlebihan.
Evaluasi rutin untuk mengukur kinerja dan mencari perbaikan.
5. Bagaimana organisasi dapat menciptakan para pemain tim?
Organisasi tidak cukup hanya membentuk struktur tim di atas kertas. Mereka perlu membangun budaya kerja yang menekankan kolaborasi. Misalnya, memberi pelatihan yang mengasah keterampilan kerja sama, menciptakan sistem penghargaan yang menilai kinerja tim (bukan hanya individu), serta mendorong kepemimpinan yang inklusif. Lingkungan yang transparan dan penuh kepercayaan akan membuat anggota lebih nyaman untuk berkontribusi, sehingga muncul pemain tim yang sesungguhnya.
6. Jelaskan kapan menggunakan individu dan bukannya tim!
Tidak semua pekerjaan efektif jika dikerjakan oleh tim. Untuk tugas-tugas rutin, sederhana, dan membutuhkan kecepatan, individu lebih cocok. Contohnya, menginput data atau melaksanakan prosedur standar. Menggunakan tim untuk hal-hal seperti ini justru akan menambah biaya koordinasi dan memperlambat proses. Sebaliknya, tim lebih tepat digunakan ketika pekerjaan bersifat kompleks, membutuhkan kreativitas, serta menggabungkan berbagai keahlian.
NPM: 2411011103
Assalamualaikum Bu Nova, selamat siang. izin memberikan tanggapan responsi di atas.
1. Analisis pertumbuhan popularitas tim dalam organisasi!
Popularitas tim dalam organisasi tumbuh karena semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi dunia kerja. Dulu, pekerjaan lebih banyak diselesaikan secara individual karena dianggap lebih cepat dan jelas tanggung jawabnya. Namun, seiring meningkatnya tuntutan inovasi, kebutuhan lintas keahlian, dan persaingan global, tim menjadi solusi yang lebih relevan. Organisasi juga menyadari bahwa karyawan lebih termotivasi ketika merasa menjadi bagian dari sebuah tim. Walau begitu, tim bukan berarti tanpa masalah—koordinasi yang rumit dan potensi konflik sering kali menjadi tantangan tersendiri.
2. Bandingkan kelompok dengan tim!
Kelompok adalah sekumpulan individu yang kebetulan berkumpul atau bekerja bersama, tetapi tujuan utamanya tetap bersifat pribadi. Sementara itu, tim terbentuk untuk mencapai tujuan bersama, dengan tanggung jawab kolektif. Jadi, kelompok lebih bersifat akumulasi kontribusi individu, sedangkan tim menekankan sinergi—hasil akhirnya sering kali lebih besar daripada sekadar penjumlahan kontribusi anggotanya.
3. Bandingkan 5 tipe tim!
• Tim Fungsional → terdiri dari orang-orang dengan keahlian serupa dalam satu departemen. Efisien, tetapi kurang bervariasi ide.
• Tim Lintas Fungsi → anggotanya berasal dari berbagai bagian organisasi. Kaya perspektif, tetapi lebih rawan konflik kepentingan.
• Tim Proyek → bersifat sementara dengan fokus pada tujuan tertentu. Efektif untuk hasil spesifik, tapi bubar setelah proyek selesai.
• Tim Virtual → bekerja jarak jauh dengan teknologi komunikasi. Fleksibel dan modern, tetapi sangat bergantung pada kualitas komunikasi digital.
• Tim Swakelola (Self-managed) → tanpa pengawasan langsung, anggota mengatur pekerjaan sendiri. Memberikan otonomi tinggi, namun hanya berhasil jika anggota memiliki kedewasaan profesional.
4. Identifikasi karakteristik dari tim yang efektif!
Tujuan jelas dan dipahami semua anggota.
Peran masing-masing terdefinisi namun tetap fleksibel.
Komunikasi terbuka dan dua arah.
Adanya rasa saling percaya dan saling menghargai.
Kepemimpinan yang mendorong kolaborasi, bukan kontrol berlebihan.
Evaluasi rutin untuk mengukur kinerja dan mencari perbaikan.
5. Bagaimana organisasi dapat menciptakan para pemain tim?
Organisasi tidak cukup hanya membentuk struktur tim di atas kertas. Mereka perlu membangun budaya kerja yang menekankan kolaborasi. Misalnya, memberi pelatihan yang mengasah keterampilan kerja sama, menciptakan sistem penghargaan yang menilai kinerja tim (bukan hanya individu), serta mendorong kepemimpinan yang inklusif. Lingkungan yang transparan dan penuh kepercayaan akan membuat anggota lebih nyaman untuk berkontribusi, sehingga muncul pemain tim yang sesungguhnya.
6. Jelaskan kapan menggunakan individu dan bukannya tim!
Tidak semua pekerjaan efektif jika dikerjakan oleh tim. Untuk tugas-tugas rutin, sederhana, dan membutuhkan kecepatan, individu lebih cocok. Contohnya, menginput data atau melaksanakan prosedur standar. Menggunakan tim untuk hal-hal seperti ini justru akan menambah biaya koordinasi dan memperlambat proses. Sebaliknya, tim lebih tepat digunakan ketika pekerjaan bersifat kompleks, membutuhkan kreativitas, serta menggabungkan berbagai keahlian.