Kiriman dibuat oleh Arifin Ilham

PO R20B Ganjil 2025 -> responsi 7 -> RESPONSI -> Re: RESPONSI

oleh Arifin Ilham -
Nama: Arifin Ilham
NPM: 2411011088

Assalamualaikum Bu Nova, selamat siang.
izin memberikan tanggapan responsi di atas.

1. Analisis pertumbuhan popularitas tim dalam organisasi.
Jawaban:
Tim akan menjadi semakin populer karena tuntutan lingkungan organisasi yang makin kompleks dan kompetitif. Organisasi menyadari bahwa tugas-tugas besar dan dinamis tidak bisa ditangani sendiri-mereka butuh integrasi kompetensi, kreativitas, dan kerja sama dari banyak orang. Selain itu, tim memungkinkan pembagian beban kerja, saling menguatkan, dan kolaborasi lintas fungsi, yang membuat organisasi lebih responsif dan inovatif. Karena itu, organisasi mulai meninggalkan struktur yang terlalu terfragmentasi dan lebih banyak menerapkan model tim di berbagai proyek.

2. Bandingkan kelompok dengan tim.
Jawaban:
kelompok adalah sekumpulan orang yang berkumpul tetapi belum tentu memiliki tujuan bersama yang jelas. Biasanya mereka lebih fokus pada kepentingan pribadi masing-masing. Sedangkan tim, meskipun juga terdiri dari sekelompok orang, tetapi mereka memiliki tujuan kolektif, tanggung jawab bersama, serta sinergi yang kuat. Contoh di dalam kelompok perkuliahan, kelompok diskusi hanya sebatas berbagi pendapat, namun ketika berubah menjadi tim proyek, ada pembagian peran, kerja sama yang lebih terarah, dan komitmen untuk mencapai hasil akhir bersama.

3. Bandingkan 5 tipe tim.
Jawaban:
-Tim Fungsional (Functional Team): tim yang anggotanya berasal dari satu fungsi atau departemen yang sama, misalnya tim pemasaran.

-Tim Lintas Fungsional (Cross-functional Team): terdiri dari anggota dari berbagai departemen atau fungsi, untuk mengatasi masalah yang memerlukan perspektif berbeda.

-Tim Mandiri (Self-managed Team/Self-directed Team): tim yang diberikan otonomi besar untuk mengelola tugasnya sendiri, termasuk membuat keputusan internal.

-Tim Virtual (Virtual Team): anggotanya tersebar secara geografis atau waktu, berkolaborasi lewat media daring (video conference, chat, platform kolaborasi).

-Tim Pemecahan Masalah (Problem-solving / Task Force Team): dibentuk sementara untuk menyelesaikan masalah spesifik atau proyek tertentu.

4. Identifikasi karakteristik dari tim yang efektif.
Jawaban:
-Tujuan tim yang jelas dan dipahami bersama
-Komitmen anggota tim terhadap tujuan bersama
-Komunikasi terbuka dan jujur antar anggota
-Kepercayaan antar anggota
-Kerjasama dan saling mendukung
-Pembagian peran, tanggung jawab, dan tugas yang jelas
-Kepemimpinan yang memfasilitasi (bukan memaksakan)
-Pengelolaan konflik yang sehat
-Evaluasi dan umpan balik berkelanjutan
-Sinergi - hasil tim lebih besar dari jumlah kontribusi individual

5. Bagaimana organisasi dapat menciptakan para pemain Tim.
Jawaban:
Organisasi tidak cukup hanya membentuk tim di atas kertas, tetapi juga perlu membangun individu-individu yang mampu menjadi pemain tim sejati. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, organisasi harus memberikan pelatihan yang mengasah kemampuan bekerja sama, seperti keterampilan komunikasi, empati, dan manajemen konflik. Kedua, organisasi perlu menanamkan budaya bahwa keberhasilan bersama lebih penting daripada prestasi pribadi. Dengan begitu, anggota akan terbiasa untuk mengutamakan kepentingan tim, bukan hanya kepentingan diri sendiri.

Selain itu, pengalaman langsung juga sangat penting. Organisasi bisa memberi kesempatan bagi anggotanya untuk terlibat dalam proyek lintas divisi sehingga mereka belajar bagaimana bekerja dengan orang yang berbeda latar belakang. Tak kalah penting, organisasi juga harus membangun rasa kebersamaan melalui kegiatan bonding atau team building, karena dari sanalah tumbuh kepercayaan dan solidaritas. Di sisi lain, pemberian reward yang berbasis tim juga bisa mendorong setiap anggota untuk berkontribusi maksimal, bukan sekadar mencari pengakuan individu.

6. Jelaskan Kapan menggunakan para individual dan bukannya tim
Jawaban:
Terdapat situasi tertentu ketika organisasi lebih baik menggunakan individu dibanding tim. Misalnya, jika tugasnya membutuhkan keahlian khusus, lebih cepat dikerjakan oleh satu orang ahli daripada harus berdebat dalam tim. Selain itu, pekerjaan yang sifatnya sederhana, rutin, atau membutuhkan kerahasiaan tinggi lebih cocok dikerjakan individu. Contoh nyata, pembuatan desain poster seringkali lebih efisien jika diserahkan kepada satu orang desainer, bukan dibahas bersama-sama dalam tim.

PO R20B Ganjil 2025 -> RESPONSI PERTEMUAN 4 -> responsi 4 -> Re: responsi 4

oleh Arifin Ilham -
Nama: Arifin Ilham
NPM: 2411011088
Izin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas bu

1. Definisikan persepsi dan jelaskan faktor-faktor yang memengaruhinya.

Persepsi adalah proses di mana kita mengorganisasikan, dan menafsirkan kesan sensorik untuk memberi makna pada lingkungan kita.

Faktor-faktor yang Memengaruhi:

Faktor dalam Pengamat: Sikap, motif, minat, pengalaman, harapan.

Faktor dalam Sasaran: Hal baru, gerakan, suara, ukuran, latar belakang, kedekatan, kesamaan.

Faktor dalam Konteks: Waktu, pengaturan kerja, lingkungan sosial.

2. Jelaskan teori atribusi, dan tiga penentu atribusi.


Teori atribusi mencoba menjelaskan cara kita menilai orang secara berbeda tergantung pada makna yang kita berikan pada perilaku mereka.

Tiga Penentu Atribusi:

1. Kekhasan: Mengacu pada apakah seorang individu menunjukkan perilaku yang berbeda dalam situasi yang berbeda.

2. Konsensus: Setiap orang yang menghadapi situasi serupa merespons dengan cara yang sama.

3. Konsistensi: Merespons dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.


3. Identifikasi jalan pintas yang individu gunakan dalam membuat penilaian mengenai orang lain.

-Persepsi Selektif: Melihat informasi dari lingkungan berdasarkan latar belakang, motivasi, dan karakteristik.

-Efek Halo dan Tanduk: Memberikan kesan tentang seseorang berdasarkan satu karakteristik.

-Stereotip: Anggapan umum tentang seseorang berdasarkan kelompok mereka, seperti usia atau jenis kelamin.

-Efek Kontras: Kecenderungan menilai sesuatu berdasarkan perbedaan yang mencolok.

4. Jelaskan hubungan antara persepsi dan pengambilan keputusan.

-Perilaku dan keputusan orang didasarkan pada persepsi mereka tentang realitas, bukan pada realitas itu sendiri.

-Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi terhadap suatu masalah (kesenjangan antara keadaan yang ada dan yang diinginkan).

-Setiap keputusan mengharuskan kita untuk menafsirkan dan mengevaluasi informasi. Persepsi kitalah yang membantu menentukan data mana yang relevan dan mana yang tidak, yang pada akhirnya memengaruhi keputusan yang kita ambil

5. Bandingkan model rasional pengambilan keputusan dengan rasionalitas terbatas dan intuisi.

-Model Rasional: Suatu gaya pengambilan keputusan yang ditandai dengan membuat pilihan yang konsisten dan memaksimalkan nilai dalam batasan yang ditentukan.

-Model Rasional Terbatas: Proses pengambilan keputusan yang disederhanakan dengan memahami dan menafsirkan fitur penting suatu masalah tanpa menangkap kompleksitasnya secara penuh.

-Model Intuitif: Proses pengambilan keputusan bawah sadar yang tercipta dari pengalaman yang disaring. Disebutkan sebagai cara yang paling tidak rasional dalam mengambil keputusan.

6. Jelaskan bias atau kesalahan keputusan yang umum.

Dalam pengambilan keputusan,

manusia sering kali tidak rasional dan terjebak oleh berbagai bias kognitif, sembilan bias atau kesalahan yang umum terjadi:

1. Bias Terlalu Percaya Diri
(Overconfidence Bias): Kecenderungan untuk terlalu yakin pada kemampuan dan ketepatan penilaian diri sendiri.

2. Bias Penjangkaran (Anchoring Bias): Kecenderungan untuk terlalu bergantung pada (terjangkarkan oleh) informasi pertama yang diterima.

3. Bias Konfirmasi (Confirmation Bias): Kecenderungan untuk mencari, menginterpretasikan, dan mengingat informasi yang mendukung keyakinan atau praduga yang sudah ada.

4. Bias Ketersediaan (Availability Bias): Kecenderungan untuk menilai kemungkinan suatu peristiwa berdasarkan betapa mudahnya contoh atau ingatan tentang peristiwa serupa muncul dalam pikiran.

5. Meningkatkan Komitmen (Escalation of Commitment): Kecenderungan untuk terus berinvestasi atau mempertahankan keputusan yang gagal karena sudah terlanjur menginvestasikan banyak sumber daya.

6. Kesalahan Keacakan (Randomness Error): Kecenderungan untuk percaya bahwa kita dapat memprediksi hasil dari peristiwa acak, atau mencari pola dalam kejadian yang sebenarnya acak.

7. Penghindaran Risiko (Risk Aversion): Kecenderungan untuk lebih memilih hasil yang pasti dan menghindari risiko, bahkan jika risiko tersebut berpotensi memberikan imbalan yang lebih besar.

8. Bias Tinjauan ke Belakang (Hindsight Bias): Kecenderungan untuk, setelah suatu peristiwa terjadi, percaya bahwa kita "sudah tahu dari dulu" atau da memprediksi hasilnya dengan mudah.

9. Bias Hasil (Outcome Bias):

Kecenderungan untuk menilai kualitas suatu keputusan semata-mata berdasarkan hasil akhirnya, bukan berdasarkan kualitas proses pengambilan keputusan itu sendiri pada saat itu.

7. Jelaskan bagaimana perbedaan-perbedaan individu dan batasan-batasan organisasi memengaruhi pengambilan keputusan.

Kepribadian: Ciri-ciri seperti kepercayaan pada intuisi, harga diri tinggi, dan narsisme dapat menyebabkan bias.

Identitas Gender: Tidak selalu memengaruhi secara signifikan.

Kemampuan Intelektual: Kemampuan mental tinggi tidak menjamin bebas dari kesalahan.

Perbedaan Budaya: Latar belakang budaya pengambil keputusan dapat memengaruhi pilihannya secara signifikan.

Sistem Evaluasi Kerja: Dipengaruhi oleh kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi.

Sistem Penghargaan: Memengaruhi pilihan yang diambil berdasarkan mana yang lebih bermanfaat untuk diri sendiri.

Peraturan Formal: Pengambilan keputusan terikat oleh aturan dan standar perusahaan.

Batasan Waktu: Adanya tenggat waktu yang ditetapkan organisasi.

Preseden Historis: Keputusan atau peristiwa masa lalu menjadi acuan untuk tindakan di masa depan.

8. Bandingkan tiga kriteria keputusan etis.

Utilitarianisme: Keputusan dibuat untuk memberikan kebaikan terbesar bagi semua orang berdasarkan hasil. Konsisten dengan tujuan seperti efisiensi dan laba.

Hak: Keputusan yang konsisten dengan prinsip kebebasan dan hak istimewa individu (seperti privasi, kebebasan berbicara). Menekankan penghormatan pada hak-hak dasar.

Deonansi: Keputusan etis dibuat karena kewajiban untuk konsisten dengan norma, prinsip, aturan, atau hukum moral. Tujuannya adalah menegakkan keadilan dan distribusi yang adil.


9. Definisikan kreativitas dan jelaskan model tiga tahap dari kreativitas.

Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan sebuah ide baru yang berguna dan berbeda dari sebelumnya.

1. Perumusan Masalah: Mengidentifikasi masalah atau peluang.

2. Pembuatan Ide: Proses
mengembangkan kemungkinan solusi dari informasi dan pengetahuan yang relevan.

3. Evaluasi Ide: Proses mengevaluasi solusi potensial untuk mengidentifikasi yang terbaik.
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh

Nama : Arifin Ilham
NPM : 2411011088

Pada Materi yang disampaikan hari ini sangatlah relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang di mana, seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering kali terfokus pada kebutuhan global daripada mendasar pada nilai-nilai budaya bangsa. Pancasila memiliki andil sebagai dasar dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia karena, nilai-nilainya yang bersifat mendunia namun tetap mempertahankan jati diri bangsa. Nilai-nilai di dalam Pancasila, memberikan pedoman moral dan etika yang kokoh untuk pengembangan IPTEK.
Alasan Pancasila Penting dalam Ilmu Pengetahuan:

1. Landasan Filosofis dan Ideologis:
Pancasila sebagai dasar negara memberikan arah dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Nilai-nilainya membantu memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang untuk kemajuan teknologi, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

2. Penjaga Moral dan Etika:
Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat memerlukan landasan moral agar tidak disalahgunakan. Nilai-nilai Pancasila, seperti kemanusiaan yang adil dan beradab, menjadi pedoman dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kebaikan bersama.

3. Mendukung Kesatuan dan Kerukunan:
Ilmu pengetahuan yang berbasis Pancasila memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa, serta mendorong keberagaman ilmu untuk melayani masyarakat Indonesia yang majemuk.

4. Mendorong Keadilan Sosial:
Nilai keadilan sosial dalam Pancasila memastikan bahwa hasil dari ilmu pengetahuan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa adanya diskriminasi.

Kesimpulan:
Pancasila berperan penting dalam ilmu pengetahuan karena menjadi landasan moral, etika, dan arah pengembangan. Dengan berpegang pada nilai-nilai Pancasila, ilmu pengetahuan tidak hanya maju secara teknis tetapi juga memberikan manfaat besar untuk kemanusiaan, memupuk persatuan, dan mendukung keadilan sosial. Hal ini menjadikan ilmu pengetahuan relevan dan bermakna dalam membangun bangsa.

Sekian dari saya, mohon maaf apabila ada kesalahan kata, Terimakasih.