Posts made by Hanum Aulia Kaltsum Hanum

Learning Social Science -> Tugas Mandiri

by Hanum Aulia Kaltsum Hanum -
Nama: Hanum Aulia Kaltsum
NPM: 2413053089
Kelas: 3 C

1. Metode yang Digunakan

Kelebihan
-Menggunakan metode audiovisual (menonton video pembelajaran)
Ini sangat cocok untuk materi kenampakan alam karena siswa dapat melihat langsung contoh visual.
-Menggabungkan metode lain, diskusi kelompok, tanya jawab, presentasi hasil kelompok
Kombinasi ini membuat siswa aktif meskipun inti materi berasal dari video.
-Metode terstruktur: menonton → mengidentifikasi → diskusi → presentasi → refleksi
Alurnya mendukung pembelajaran bertahap.

Kekurangan
-Guru tidak menjelaskan ulang materi secara langsung
-Materi hanya bersumber dari video sehingga pemahaman siswa sangat tergantung pada kualitas video, bukan pada kemampuan menjelaskan guru.
-Penekanan konsep belum diperdalam
-Karena guru tidak banyak menjelaskan, beberapa konsep mungkin kurang tuntas.
-Transisi antar metode belum halus
-Ada bagian instruksi yang berulang, sehingga kurang efisien.

2. Media yang Digunakan

Kelebihan
-Menggunakan media audio visual (video)
-Siswa SD sangat terbantu dengan visualisasi untuk memahami litosfer, hidrosfer, dan atmosfer.
-Ada media tambahan
-Gambar/slide untuk identifikasi kenampakan alam
-LCD/proyektor
-Ini mendukung pembelajaran multimodal.
-Media relevan dengan tujuan pembelajaran
-Video menjelaskan topik “Ada apa saja di bumi?” secara langsung.

Kekurangan
-Guru tidak memberikan panduan sebelum menonton video, sehingga siswa mungkin kurang fokus pada bagian penting yang harus diamati.
-Media hanya mengandalkan tayangan video, tanpa adanya penguatan melalui alat peraga atau media konkret yang dapat disentuh langsung oleh siswa.
-Tidak ada jeda atau penjelasan ulang setelah video, sehingga potensi miskonsepsi dari video tidak dikoreksi oleh guru.

3. Penguasaan Materi oleh Guru

Karena penjelasan inti berasal dari video, maka analisis fokus pada:
Kelebihan
-Guru memahami dasar materi dan mampu mengarahkan siswa ke tugas yang benar
Contoh: pembagian kelompok berdasarkan jenis kenampakan alam.
-Guru mampu menanggapi jawaban siswa
Terlihat dari tanya jawab setelah kegiatan.
-Guru mengerti indikator pembelajaran
Buktinya ia menyusun LKPD yang berisi identifikasi kenampakan alam.

Kekurangan
-Guru tidak memberikan penjelasan konsep inti langsung dari dirinya sendiri
Karena hanya memutar video, tidak terlihat kemampuan guru menjelaskan definisi litosfer, hidrosfer, atmosfer secara lisan.
-Beberapa pertanyaan guru bersifat mengulang tanpa memperdalam konsep
Fokus masih pada recall.

4. Pengelolaan Kelas

Kelebihan
-Suasana kelas hidup dan aktif
Guru mengajak menyanyi, memberi semangat, memberi kesempatan bertanya.
Pembagian kelompok berjalan baik
-Guru memberi instruksi LKPD, memandu presentasi, dan memberikan waktu kerja yang jelas.
-Guru memberi penguatan positif
(tepuk tangan, pujian) → ini baik untuk motivasi.
Guru tampak dekat dan komunikatif dengan siswa.

Kekurangan
-Instruksi yang diberikan guru beberapa kali berulang dan kurang terstruktur
Terkesan guru ragu dalam memberi arahan.
-Pengendalian waktu dalam aktivitas belajar kurang optimal
-Kegiatan banyak tetapi beberapa tampak terburu-buru.
-Pemantauan kelompok selama diskusi tidak terlalu terlihat


5. Skor untuk Bu Beti (1–100)
Skor : 82/100

Alasan:
Secara keseluruhan, media yang digunakan Bu Beti sudah membantu proses belajar karena tampilannya jelas dan mendukung penjelasan materi. Namun, penggunaan medianya masih bisa ditingkatkan agar lebih bervariasi dan menarik bagi semua siswa. Beberapa media belum digunakan secara maksimal, dan belum ada pendampingan tambahan yang membantu siswa memahami isi tampilan dengan lebih mendalam. Jika media dibuat lebih beragam dan diarahkan dengan lebih teratur, hasil belajar siswa akan jauh lebih optimal.

Learning Social Science -> Tugas mandiri

by Hanum Aulia Kaltsum Hanum -
Nama: Hanum Aulia Kaltsum
NPM: 2413053089

Masalah Sosial:
Cyberbullying di Kalangan Siswa Sekolah Dasar dan Menengah di Indonesia

Dengan pesatnya penggunaan media sosial dan aplikasi pesan instan di kalangan anak-anak dan remaja, kasus cyberbullying semakin sering muncul. Bentuknya bisa berupa hinaan melalui chat, penyebaran foto/video pribadi tanpa izin, body shaming, video remaja sedang “dipermalukan” dan disebarkan secara viral. Dampaknya nyata: korban bisa mengalami stres, penurunan kepercayaan diri, hingga menolak ke sekolah. Data dari sekolah dan lembaga perlindungan anak menunjukkan peningkatan laporan cyberbullying di lima tahun terakhir.

Solusi Berdasarkan Teori:

1. Teori Kontrol Sosial (Travis Hirschi)
Teori ini menyebut bahwa tingkah laku menyimpang dapat dicegah jika individu memiliki ikatan kuat dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Solusi:
• Sekolah melakukan penguatan program “ikatan sosial” seperti siswa-mentor siswa, kegiatan ekstrakurikuler yang menghubungkan siswa dengan guru dan teman.
• Orang tua secara rutin mengecek aktivitas media sosial anak dan menciptakan komunikasi terbuka agar anak merasa didukung.
• Guru dan pihak sekolah membentuk komunitas kelas yang saling mengingatkan tentang etika digital sehingga siswa merasa bagian dari sistem sosial positif.
(Contoh penerapan teori dari jurnal: Mely Sisca Mely & Abdurrakhman, 2022)

2. Teori Belajar Sosial (Albert Bandura)
Teori ini menyatakan bahwa manusia belajar dari meniru lingkungan, terutama tokoh yang mereka lihat sebagai panutan.
Solusi:
• Sekolah memperkenalkan program role model digital: guru atau kakak kelas yang menunjukkan penggunaan media sosial yang sehat dan bertanggung-jawab.
• Mengadakan workshop literasi digital yang mempraktikkan “apa yang boleh dan tidak boleh” di internet, dan mengajak siswa membuat konten positif.
• Memanfaatkan media sosial sekolah untuk kampanye anti-cyberbullying dengan siswa sebagai pembuat pesan agar mereka meniru perilaku yang baik.
(Jurnal terkait: Luh Putu Shanti Kusumaningsih, 2022)

Kesimpulan
Cyberbullying merupakan masalah sosial yang nyata pada era digital dan sangat memengaruhi kesejahteraan anak dan remaja di Indonesia. Untuk mengatasinya, perlu strategi yang tidak hanya bersifat teknis (monitoring + filtering) tetapi juga bersifat sosial-kultural, yakni memperkuat ikatan sosial dan menyediakan contoh perilaku positif di lingkungan siswa. Dengan menggunakan teori Kontrol Sosial maupun Belajar Sosial, solusi-yang-diberikan menjadi lebih terarah dan berlandaskan penelitian Indonesia sehingga relevan untuk konteks sekolah dasar/menengah di Indonesia.