Kiriman dibuat oleh Octavia Ramadhani

Learning Social Science -> Tugas Mandiri

oleh Octavia Ramadhani -
Nama : Octavia Ramadhani
Nom : 2413053138
Kelas : 3D


1.Metode yang digunakan
Bu Betty menggunakan metode ceramah interaktif yang digabung dengan diskusi kelompok. Di awal, beliau menyampaikan materi secara langsung agar siswa paham konsep dasarnya. Setelah itu, siswa di arahkan bekerja dalam kelompok, saling berdiskusi, dan menyelesaikan tugas bersama. Metode campuran seperti ini cukup efektif untuk kelas SD karena anak-anak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga beraktifitas dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Kelebihan: siswa lebih aktif, pembelajaran tidak monoton, dan guru bisa mengamati perkembangan tiap kelompok.
Kekurangan: beberapa siswa terlihat kurang fokus ketika bekerja dalam kelompok karena suasana kelas lebih ramai.
2.Media yang digunakan
Media yang digunakan terdiri dari PPT, video pembelajaran, serta proyektor digunakan dengan cukup baik. Penggunaan kertas warna dan tulisan yang besar membantu menarik perhatian siswa dan memudahkan pemahaman.
Kelebihan: media visual membantu siswa lebih mudah memahami isi pelajaran, kelas terlihat lebih hidup.
Kekurangan: belum ada variasi media digital lain selama proses pembelajaran inti. Ruang kelas terlalu terang sehingga layar proyektor kurang jelas.
3.Penguasaan materi oleh guru
Bu Bety menunjukkan penguasaan materi yang baik. Ia menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, runtut, dan mudah dipahami oleh siswa SD. Cara beliau memberi instruksi juga jelas dan tidak terburu-buru, sehingga anak-anak bisa mengikuti tahap demi tahap.
Kelebihan: penjelasan mudah diikuti, suara jelas, dan guru terlihat percaya diri.
Kekurangan: penguasaan materi sudah baik, namun penekanan pada poin-poin penting masih perlu ditingkatkan. Selain itu, guru belum banyak melakukan evaluasi pemahaman siswa melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana.
4.Pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas cukup baik. Bu Bety memberi arahan yang jelas, memposisikan siswa dalam kelompok, dan berkeliling untuk memantau. Suasana kelas terlihat kondusif meskipun ada bagian tertentu yang sedikit ramai karena aktivitas diskusi kelompok.
Kelebihan: guru aktif bergerak, memperhatikan setiap kelompok, dan memberikan bimbingan langsung.
Kekurangan: beberapa siswa terlihat kurang fokus saat diskusi, sehingga penguatan aturan kelas bisa lebih ditingkatkan.
5.Skor untuk Bu Betty (1-100)
Berdasarkan observasi keseluruhan, Bu Bety layak mendapatkan skor 88/100. Ia sudah menunjukkan pengajaran yang terstruktur, media yang menarik, interaksi yang baik, serta manajemen kelas yang cukup efektif.

Learning Social Science -> Tugas mandiri

oleh Octavia Ramadhani -
Nama : Octavia Ramadhani
Kelas : 3D
Npm : 2413053238

Masalah Sosial di Sekolah Dasar Beserta Solusinya
1. Bullying (Perundungan)
Bullying adalah tindakan intimidasi fisik atau psikologis yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok siswa terhadap siswa lainnya, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan tekanan mental. Bullying bisa berupa ejekan, pukulan, pengucilan, atau penyebaran rumor buruk yang menyakiti korban secara emosionalBullying adalah tindakan intimidasi fisik atau psikologis yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok siswa terhadap siswa lainnya, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan tekanan mental. Bullying bisa berupa ejekan, pukulan, pengucilan, atau penyebaran rumor buruk yang menyakiti korban secara emosional.
Solusi:

- Membangun karakter siswa dengan nilai toleransi, empati, dan kasih sayang melalui pendidikan karakter yang dijalankan secara berkelanjutan.
- Melibatkan guru BK, orang tua, dan pihak sekolah dalam bimbingan konseling dan pengawasan.
- Menerapkan aturan tegas terhadap pelaku bullying disertai program rehabilitasi agar perilaku diperbaiki.
- Pendekatan Teori Pembelajaran Sosial oleh Bandura yang memandang perilaku dapat dipelajari melalui observasi dan modeling perilaku baik.

2. Kebiasaan Menyontek
Siswa mencontek saat ujian atau tugas karena kurang percaya diri, malas belajar, atau ingin cepat selesai. Ini menyalahi nilai kejujuran dan merusak karakter integritas.
Solusi:
- Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan penanaman nilai jujur.
- Memberikan motivasi dan bimbingan belajar agar siswa siap menghadapi ujian tanpa menyontek.
- Guru dan orang tua harus bekerjasama memberikan pengertian tentang pentingnya kejujuran.

3. Pelanggaran Tata Tertib Sekolah
Contohnya terlambat masuk kelas, tidak memakai seragam sesuai aturan, membolos, merusak fasilitas.
Solusi:

- Menerapkan Teori Sistem Sosial untuk mengelola interaksi dan norma di lingkungan sekolah agar siswa memahami dan menghormati aturan.
- Model Contextual Teaching and Learning (CTL) yang menghubungkan materi pelajaran dengan perilaku positif dan disiplin sehari-hari.
- Penegakan aturan disertai sanksi edukatif yang mendidik bukan hanya hukuman saja.

4. Tawuran Antar Pelajar
Tawuran merupakan konflik fisik antar siswa yang disebabkan oleh emosi labil, pengaruh lingkungan, dan masalah keluarga.
Solusi:

- Penerapan pendidikan karakter yang menanamkan nilai toleransi, pengendalian diri, dan penyelesaian konflik secara damai.
- Melibatkan seluruh pihak seperti guru, orang tua, dan kepolisian untuk koordinasi mencegah dan menanggulangi tawuran secara efektif.
- Program konseling intensif untuk pelaku tawuran dan edukasi bahaya tawuran bagi semua siswa.

5. Bolos Pelajaran
Alasan siswa bolos termasuk tidak menyukai mata pelajaran atau guru.
Solusi:
- Bimbingan konseling personal untuk mengetahui penyebab dan memberikan solusi yang sesuai.
- Jika diperlukan, pemberian hukuman yang edukatif agar siswa sadar akan dampak bolos.
- Melibatkan orang tua dalam pengawasan dan memberi dukungan untuk kesuksesan anak di sekolah.

6. dan Tanggung Jawab
Siswa yang tidak melaksanakan kewajiban akan menimbulkan ketidakdisiplinan dan melemahkan karakter bertanggung jawab.
Solusi:

- Konseling dan penegakan aturan oleh guru BK dengan pendekatan edukatif untuk menyadarkan siswa tentang tanggung jawabnya.
- Melibatkan siswa dalam kegiatan sosial agar kesadaran kolektif terbentuk dan mereka termotivasi melaksanakan kewajiban.

Teori Pendukung
1. Teori Sistem Sosial
Sekolah dilihat sebagai sistem sosial dengan komponen dan norma yang saling berinteraksi. Pengelolaan norma dan disiplin melalui penguatan sistem sosial penting untuk menciptakan lingkungan kondusif.

2. Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran yang menghubungkan materi dengan dunia nyata dan perilaku positif sehari-hari agar siswa dapat memahami manfaat aturan dan nilai disiplin dalam konteks hidupnya.

3. Problem-Based Learning (PBL)
Model yang mendorong siswa memecahkan masalah nyata secara kolaboratif, membangun kemampuan berpikir kritis dan karakter integritas.

4. Teori Pembelajaran Sosial Bandura
Menekankan bahwa siswa belajar dari observasi contoh perilaku orang dewasa dan teman sebaya, sehingga penting bagi sekolah menciptakan lingkungan dengan contoh perilaku positif.

Refrensi 

Amaruddin, H. (2023). Ilmu Pengetahuan Sosial: Problematika dan Solusinya. PRIMER: Journal of Primary Education Research, 1(1), 24–33.

Rabini Sayyidati. (2017). Pemecahan Permasalahan Sosial Melalui Pembelajaran Pendidikan IPS yang Terintegrasi dan Holistik. Politeknik Negeri Tanah Laut.

Afinatussakinah, S. (2024). Permasalahan Pembelajaran IPS yang Terdapat di SD (Studi). Pendagogia.