གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ G Mebat Elsaday Parhusip

MKU Pancasila TI A -> Forum Diskusi 2

G Mebat Elsaday Parhusip གིས-
Nama : G Mebat Elsaday Parhusip
NPM : 2415061028
Tanggapan saya tantangan Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia di era globalisasi sangatlah kompleks. Pemahaman nilai-nilai Pancasila masih belum merata, terutama di kalangan generasi muda, sehingga penerapannya cenderung simbolis. Selain itu, pengaruh globalisasi membawa ideologi asing seperti individualisme dan materialisme yang bertentangan dengan Pancasila, serta kemerosotan moral dalam masyarakat yang terlihat dari maraknya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Pendidikan karakter yang berbasis Pancasila juga masih kurang optimal, lebih banyak fokus pada aspek kognitif daripada pembentukan moral. Untuk mengatasi sikap tidak peduli terhadap Pancasila, perlu dilakukan penguatan pendidikan karakter yang relevan, keteladanan dari para pemimpin, kampanye digital yang menarik, serta peran keluarga dan komunitas dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjaga relevansi Pancasila sebagai dasar negara dan panduan hidup bangsa.

MKU Pancasila TI A -> Forum Diskusi Artikel 1

G Mebat Elsaday Parhusip གིས-
Nama : G Mebat Elsaday Parhusip
NPM : 2415061028
Kelas : PSTI B
Saya kira artikel ini menegaskan bahwa pendidikan Pancasila masih sangat penting di era globalisasi.Agar lebih efektif diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan memanfaatkan teknologi secara bijak.Dengan demikian diharapkan generasi muda mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menjaga jati diri bangsa, dan berhasil menjawab tantangan global.

Meski memungkinkan akses informasi yang cepat dan luas, teknologi juga sering memunculkan disinformasi yang bertentangan dengan nilai Pancasila.Dalam artikel ini disajikan beberapa solusi untuk mengatasi masalah ini.Pertama Penguatan Pendidikan Pancasila melalui Kolaborasi karena Pendidikan Pancasila harus melibatkan kerjasama antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Dengan keterlibatan semua pihak, nilai-nilai Pancasila dapat diajarkan lebih holistik dan efektif, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat.Lalu peningkatan kualitas pengajaran melalui pelatihan guru hal ini penting karena dapat meningkatkan kemampuan mengajarkan Pancasila dengan cara yang lebih menarik dan relevan, sehingga siswa lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut.Selanjutnya pemanfaatan teknologi dalam Pendidikan Pancasila karena,teknologi dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk mengajarkan Pancasila dengan menarik, melalui media digital, aplikasi interaktif, dan platform edukatif. Namun, penting adanya kontrol agar teknologi digunakan secara bijak dan tidak menyebarkan informasi yang salah.Yang keempat relevansi dan Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Pendidikan Pancasila perlu terus disesuaikan dengan tantangan globalisasi, dengan menjadikannya sebagai panduan etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Ini meliputi penerapan sikap toleransi, keadilan, dan persatuan di tengah keragaman.Yang terakhir literasi digital di kalangan generasi muda harus ditingkatkan agar mereka lebih kritis dalam menyaring informasi, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh konten yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

MKU Pancasila TI A -> Forum Diskusi

G Mebat Elsaday Parhusip གིས-
Nama : G Mebat Elsaday Parhusip
NPM : 2415061028
Kelas : PSTI B
1.Dinamika dan Tantangan Pancasila sebagai Ideologi Nasional di Indonesia
Dinamika Pancasila sebagai ideologi nasional menunjukkan kemampuannya untuk tetap relevan dalam menghadapi perubahan sosial, politik, dan budaya.Pancasila dapat disesuaikan dengan perkembangan saat ini karena nilai-nilainya bersifat universal dan relevan.Salah satu dinamika positifnya adalah kemampuannya mempersatukan berbagai elemen bangsa dalam keberagaman yang ada dan menjadi pedoman moral dalam pengambilan kebijakan.Tantangan terhadap Pancasila sebagai ideologi nasional datang dari berbagai arah, baik internal maupun eksternal.Tantangan dalam negeri antara lain fenomena seperti perbedaan pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila, korupsi, intoleransi, dan kemerosotan sosial.Contoh nyata dari tantangan ini adalah tumbuhnya intoleransi beragama, yang bertentangan dengan prinsip pertama yang harus menjaga keberagaman: Ketuhanan Yang Maha Esa.Bahkan dari luar, pengaruh globalisasi dan intrusi ideologi asing mengancam eksistensi Pancasila.Contoh permasalahan lainnya adalah munculnya kelompok radikal yang berupaya mengganti Pancasila dengan ideologi lain, misalnya khilafah.Penjelasan Teori: Teori Konsensus Talcott Parsons menjelaskan bagaimana hilangnya nilai-nilai bersama seperti Pancasila dapat mengakibatkan konflik dan keruntuhan sosial.Selain itu, teori konflik sosial Karl Marx dapat digunakan untuk memahami bagaimana konflik ideologi muncul dalam masyarakat akibat ketidakpuasan terhadap sistem yang ada.

2.Konsep dan Urgensi Pancasila sebagai Sistem Filsafat
Konsep Pancasila sebagai sistem filosofis memuat kerangka pemikiran yang menjadi dasar tindakan dan tindakan negara.Lima sila Pancasila tidak hanya menjadi norma tetapi juga menjadi pedoman hidup yang memberikan pedoman moral dan etika bagi individu dan masyarakat.Pancasila berfungsi sebagai landasan filosofis yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara serta menciptakan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhannya, sesama manusia, dan lingkungan hidup.Urgensi Pancasila sebagai suatu sistem filsafat sangatlah penting karena memberikan landasan moral yang harus diikuti dalam segala tindakan dan kebijakan pemerintah.Contoh permasalahan yang muncul adalah ketidakadilan dalam penegakan hukum, dimana seringkali hukum tidak diterapkan secara adil.Hal ini bertentangan dengan sila kedua “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.Dalam konteks ini, lemahnya implementasi nilai-nilai keadilan sosial menjadi persoalan yang sangat relevan.Penjelasan Teori: Teori keadilan distributif John Rawls menyatakan bahwa keadilan melibatkan distribusi yang adil sehingga semua pihak merasakan kesejahteraan.Dalam konteks Pancasila, teori ini menekankan pentingnya penerapan prinsip keadilan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk kebijakan ekonomi dan sosial.

MKU Pancasila TI A -> Forum Diskusi

G Mebat Elsaday Parhusip གིས-
Nama : G Mebat Elsaday Parhhusip
NPM : 24150601028
Kelas : PSTI B
Menurut saya Pancasila bukan sekadar simbol atau ideologi politik, tetapi juga pandangan hidup masyarakat Indonesia.Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Pancasila yang mencerminkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang dirumuskan untuk memberikan pedoman dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya.Dijelaskan pula bahwa Pancasila sebagai suatu sistem filsafat bersifat holistik dan unik karena kelima perintah tersebut saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.Pendekatan deduktif dan induktif dalam memahami Pancasila menunjukkan fleksibilitas dan relevansinya dalam berbagai situasi kehidupan.Pancasila juga bukan hanya sebagai landasan negara tetapi juga merupakan konsep filosofis yang berlaku universal.Perbedaan Pancasila dengan sistem filsafat lain seperti materialisme dan komunisme menunjukkan bahwa Pancasila mempunyai ciri khas yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia.

Rangkuman :
Pengertian Filsafat
Filsafat berasal dari kata Yunani "philosophia," yang secara harfiah berarti cinta terhadap kebijaksanaan atau pengetahuan. Istilah ini diperkenalkan oleh Pythagoras untuk merujuk pada seseorang yang mencintai pengetahuan. Filsafat memiliki dua pengertian: sebagai proses (metode) dan produk (pandangan hidup), serta bisa bersifat teoritis dan praktis.
Pancasila sebagai Filsafat
Pancasila dapat dikategorikan sebagai filsafat produk dan pandangan hidup praktis. Sebagai dasar negara dan refleksi budaya bangsa, Pancasila mengandung nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Filsafat Pancasila merupakan hasil perenungan mendalam oleh para pendiri bangsa dan memberikan pengetahuan ilmiah tentang hakikat Pancasila.
Pancasila sebagai Sistem Filsafat
Pancasila dipahami sebagai sistem filsafat karena sila-silanya saling berkaitan dan membentuk kesatuan yang utuh. Ada dua pendekatan untuk memahaminya:
Deduktif: Menganalisis hakikat Pancasila dan menyusunnya secara sistematis.
Induktif: Mengamati gejala sosial budaya dan merefleksikan makna dari gejala tersebut.
Ciri Sistem Filsafat Pancasila
Sila-sila Pancasila saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Sila-sila tersebut membentuk kesatuan yang bulat dan utuh.
Pancasila berbeda dari sistem filsafat lain seperti materialisme, idealisme, dan komunisme.
Inti Sila-sila Pancasila
Tuhan: Sebagai kausa prima.
Manusia: Sebagai makhluk individu dan sosial.
Kesatuan: Mewakili identitas yang memiliki kepribadian.
Rakyat: Sebagai unsur negara yang harus bekerja sama.
Keadilan: Prinsip untuk memberikan hak secara adil kepada semua.
Wawasan filsafat meliputi bidang atau aspek penyelidikan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga bidang tersebut dapat dianggap mencakup kesemestaan.