Kiriman dibuat oleh Novita Sari Dewi Gultom 2411011003

Nama: Novita Sari Dewi Gultom
NPM: 2411011003

Selamat pagi Pak Roy dan teman-teman yang saya kasihi, ijinkanlah saya untuk memberi tanggapan mengenai video yang telah diberikan.

Materi dalam video kedua mengangkat isu strategis terkait pentingnya mempertahankan ketahanan ideologi Pancasila di era digital, sebuah tantangan yang semakin kompleks di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital. Hal ini memberikan pandangan bahwa teknologi internet, meskipun membawa banyak manfaat, juga membuka celah bagi masuknya pengaruh ideologi asing seperti liberalisme, komunisme, sosialisme, dan radikalisme. Hal ini diperparah dengan mudahnya penyebaran disinformasi dan manipulasi ideologi melalui media sosial, yang sering kali ditujukan kepada generasi muda. Generasi ini, sebagai kelompok yang paling aktif menggunakan internet, menjadi sasaran empuk untuk berbagai bentuk propaganda yang berpotensi merusak nilai-nilai Pancasila dan persatuan nasional.

Masalah lain yang diangkat adalah tantangan dalam menjaga relevansi nilai-nilai Pancasila di tengah pengaruh budaya asing yang semakin kuat. Tanpa upaya yang terstruktur dan berkelanjutan, ideologi Pancasila dapat kehilangan daya tariknya bagi generasi muda yang lebih tertarik pada nilai-nilai global yang sering kali bertentangan dengan budaya dan identitas bangsa. Di sisi lain, masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman masyarakat akan pentingnya ideologi sebagai landasan persatuan dan keutuhan bangsa. Banyak warga negara yang belum menyadari bahwa ketahanan ideologi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat.

Video ini memberikan solusi strategis, termasuk pentingnya pendekatan struktural dan kultural. Secara struktural, pemerintah melalui berbagai program seperti dialog empat pilar, kampanye nasional, dan penguatan pendidikan Pancasila di sekolah dapat membangun fondasi ideologi yang kokoh. Pendekatan kultural, seperti mempromosikan lagu nasional, tradisi lokal, dan nilai-nilai religius, juga menjadi kunci untuk menanamkan kebanggaan terhadap identitas bangsa. Selain itu, peran aktif masyarakat dalam menyebarkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari sangatlah penting, baik melalui pendidikan di keluarga, komunitas, maupun media sosial.

Secara keseluruhan, video ini menyoroti urgensi kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai Pancasila di tengah arus digitalisasi. Diperlukan langkah nyata untuk meningkatkan literasi digital dan kesadaran ideologis, khususnya bagi generasi muda, agar mereka dapat menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang berdasarkan Pancasila. Dengan begitu, nilai-nilai Pancasila tetap menjadi landasan kuat dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia di era modern.
Nama: Novita Sari Dewi Gultom
NPM: 2411011003

Selamat pagi Pak Roy dan teman-teman yang saya kasihi, ijinkanlah saya untuk memberi tanggapan mengenai video yang telah diberikan.

Materi dalam video kedua mengangkat isu strategis terkait pentingnya mempertahankan ketahanan ideologi Pancasila di era digital, sebuah tantangan yang semakin kompleks di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital. Hal ini memberikan pandangan bahwa teknologi internet, meskipun membawa banyak manfaat, juga membuka celah bagi masuknya pengaruh ideologi asing seperti liberalisme, komunisme, sosialisme, dan radikalisme. Hal ini diperparah dengan mudahnya penyebaran disinformasi dan manipulasi ideologi melalui media sosial, yang sering kali ditujukan kepada generasi muda. Generasi ini, sebagai kelompok yang paling aktif menggunakan internet, menjadi sasaran empuk untuk berbagai bentuk propaganda yang berpotensi merusak nilai-nilai Pancasila dan persatuan nasional.

Masalah lain yang diangkat adalah tantangan dalam menjaga relevansi nilai-nilai Pancasila di tengah pengaruh budaya asing yang semakin kuat. Tanpa upaya yang terstruktur dan berkelanjutan, ideologi Pancasila dapat kehilangan daya tariknya bagi generasi muda yang lebih tertarik pada nilai-nilai global yang sering kali bertentangan dengan budaya dan identitas bangsa. Di sisi lain, masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman masyarakat akan pentingnya ideologi sebagai landasan persatuan dan keutuhan bangsa. Banyak warga negara yang belum menyadari bahwa ketahanan ideologi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat.

Video ini memberikan solusi strategis, termasuk pentingnya pendekatan struktural dan kultural. Secara struktural, pemerintah melalui berbagai program seperti dialog empat pilar, kampanye nasional, dan penguatan pendidikan Pancasila di sekolah dapat membangun fondasi ideologi yang kokoh. Pendekatan kultural, seperti mempromosikan lagu nasional, tradisi lokal, dan nilai-nilai religius, juga menjadi kunci untuk menanamkan kebanggaan terhadap identitas bangsa. Selain itu, peran aktif masyarakat dalam menyebarkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari sangatlah penting, baik melalui pendidikan di keluarga, komunitas, maupun media sosial.

Secara keseluruhan, video ini menyoroti urgensi kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai Pancasila di tengah arus digitalisasi. Diperlukan langkah nyata untuk meningkatkan literasi digital dan kesadaran ideologis, khususnya bagi generasi muda, agar mereka dapat menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang berdasarkan Pancasila. Dengan begitu, nilai-nilai Pancasila tetap menjadi landasan kuat dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia di era modern.
Nama: Novita Sari Dewi Gultom
NPM: 2411011003

Selamat pagi Pak Roy dan teman-teman yang saya kasihi, ijinkanlah saya untuk memberi tanggapan mengenai video yang telah diberikan.

Materi yang disampaikan dalam video tersebut menyoroti pentingnya penggunaan media sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Masalah utama yang diangkat adalah penyalahgunaan media sosial, seperti memamerkan atau menggunakan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi, yang dapat memicu perdebatan etis di masyarakat. Hal ini mencerminkan kurangnya kesadaran akan tanggung jawab moral dalam memanfaatkan teknologi, terutama ketika terkait dengan aset publik yang dibiayai oleh uang rakyat.

Konten dalam media sosial seharusnya mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila, seperti keadilan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak publik. Dalam kasus yang dijelaskan, tindakan memamerkan kendaraan dinas di media sosial bertentangan dengan prinsip keadilan sosial dan tanggung jawab. Sebagai individu yang memanfaatkan fasilitas negara, seharusnya ada rasa tanggung jawab untuk menggunakan fasilitas tersebut sesuai tujuan dan kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan, bukan untuk kepentingan pribadi atau pamer di ruang publik.

Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial juga membawa tantangan baru dalam menjaga etika digital. Pengguna media sosial harus lebih bijak dalam menyaring informasi yang dibagikan dan memahami konsekuensi dari unggahan mereka terhadap persepsi masyarakat. Konten yang tidak sesuai atau berpotensi menimbulkan polemik dapat merusak citra individu, lembaga, atau bahkan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan. Oleh karena itu, setiap pengguna, terutama yang memiliki akses ke fasilitas publik, harus memiliki integritas yang tinggi dan mematuhi nilai-nilai Pancasila dalam setiap aktivitas di media sosial.

Kesimpulannya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kesadaran etis dan moral dalam penggunaannya. Media sosial seharusnya menjadi alat untuk memperkuat semangat persatuan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama, bukan untuk menyebarkan perilaku yang bertentangan dengan nilai Pancasila. Dengan demikian, kita dapat menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat, beradab, dan mencerminkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.