Posts made by Novita Sari Dewi Gultom 2411011003

Nama : Novita Sari Dewi Gultom
Npm : 2411011003

1. Pertumbuhan popularitas tim dalam organisasi dipengaruhi oleh kebutuhan dunia kerja modern yang semakin kompleks dan dinamis. Banyak perusahaan menyadari bahwa keputusan dan solusi lebih efektif ketika melibatkan kolaborasi berbagai individu dengan latar belakang keahlian berbeda. Selain itu, perubahan lingkungan bisnis yang cepat menuntut organisasi untuk lebih fleksibel, inovatif, dan responsif, sehingga kerja tim menjadi strategi utama untuk mencapai tujuan.

Di sisi lain, budaya organisasi yang mendorong partisipasi, komunikasi terbuka, dan kepemimpinan yang mendukung kerja kolektif juga mempercepat peningkatan popularitas tim. Tim dipandang bukan hanya alat penyelesaian masalah, tetapi juga sarana untuk meningkatkan keterlibatan karyawan, loyalitas, dan kepuasan kerja.

2. Kelompok adalah sekumpulan orang yang berkumpul untuk tujuan tertentu, namun interaksi mereka cenderung lebih longgar dan hasilnya lebih terfokus pada individu. Anggota kelompok mungkin saling berhubungan, tetapi mereka tidak selalu memiliki tanggung jawab bersama atas hasil kolektif.

Sementara itu, tim memiliki struktur yang lebih kuat, dengan tujuan yang sama, komitmen kolektif, serta tanggung jawab bersama atas hasil. Anggota tim saling bergantung satu sama lain, memiliki peran yang jelas, serta bekerja sama untuk mencapai hasil yang tidak bisa dicapai secara individu. Dengan kata lain, setiap tim adalah kelompok, tetapi tidak semua kelompok dapat disebut tim.

3. Lima tipe tim yang umum dalam organisasi adalah: tim fungsional, tim lintas fungsi, tim swakelola, tim virtual, dan tim proyek. Tim fungsional dibentuk berdasarkan departemen atau divisi tertentu, misalnya tim pemasaran atau keuangan. Tim lintas fungsi menggabungkan anggota dari berbagai bagian untuk menyelesaikan masalah kompleks.

Tim swakelola memiliki otonomi tinggi, di mana anggota mengatur sendiri jadwal dan tanggung jawab. Tim virtual bekerja secara online tanpa keterbatasan lokasi geografis, sedangkan tim proyek dibentuk sementara untuk menangani tugas tertentu hingga tujuan tercapai. Perbedaan utama terletak pada struktur, fleksibilitas, dan tingkat koordinasi yang dibutuhkan.

4. Tim yang efektif memiliki tujuan yang jelas dan dipahami bersama oleh semua anggotanya. Setiap anggota tim memiliki peran dan tanggung jawab yang terdefinisi dengan baik, sehingga mengurangi konflik peran. Selain itu, komunikasi terbuka, rasa saling percaya, dan saling menghargai menjadi fondasi penting dalam menjaga kerja sama tim.

Karakteristik lainnya termasuk adanya kepemimpinan yang mendukung, keterlibatan aktif seluruh anggota, kemampuan memecahkan masalah secara kolektif, serta komitmen terhadap hasil bersama. Tim yang efektif juga mampu menyeimbangkan fokus pada hasil (performance) dengan kesejahteraan anggota tim.

5. Organisasi dapat menciptakan para pemain tim dengan memberikan pelatihan tentang keterampilan komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan konflik. Budaya organisasi juga harus mendorong kerja sama melalui sistem penghargaan yang tidak hanya menilai pencapaian individu, tetapi juga keberhasilan tim secara keseluruhan.

Selain itu, pemimpin organisasi dapat memberikan kesempatan bagi karyawan untuk bekerja dalam proyek lintas fungsi, sehingga mereka terbiasa berbagi ide, menghargai perbedaan, dan membangun rasa kebersamaan. Dengan kombinasi pelatihan, pengalaman, dan budaya kerja yang mendukung, organisasi dapat mencetak individu yang berorientasi pada kerja tim.

6. Penggunaan individu lebih tepat ketika tugas yang diberikan sederhana, tidak membutuhkan kolaborasi, atau lebih efisien jika diselesaikan oleh satu orang. Misalnya, pekerjaan administratif rutin, analisis pribadi, atau tugas yang membutuhkan spesialisasi tinggi di satu bidang tertentu.

Selain itu, ketika keputusan harus diambil dengan cepat dan informasi terbatas, bekerja secara individu lebih efektif karena mengurangi waktu koordinasi. Sebaliknya, tim lebih cocok digunakan ketika masalah bersifat kompleks, membutuhkan kreativitas, serta memerlukan keterlibatan berbagai perspektif untuk menghasilkan solusi terbaik.
Nama : Novita Sari Dewi Gultom
NPM : 2411011003
Kelas : Perilaku Organisasi B

Izin menjawab pertanyaan dari Bu. Nova :

1. Persepsi adalah proses ketika seseorang memilih, mengorganisasi, dan menafsirkan informasi dari lingkungannya sehingga terbentuk suatu pemahaman. Faktor yang memengaruhinya berasal dari tiga sisi, yaitu faktor dalam diri individu (seperti sikap, pengalaman, dan harapan), faktor dalam objek atau target (misalnya keunikan, gerakan, atau ukuran), serta faktor situasional (misalnya waktu, tempat, dan kondisi lingkungan sosial).

2. Teori atribusi menjelaskan bagaimana individu menafsirkan penyebab perilaku orang lain, apakah disebabkan oleh faktor internal atau faktor eksternal. Tiga penentu atribusi menurut Harold Kelley yaitu kekhususan, yang melihat apakah perilaku berbeda dalam situasi lain; konsensus, yang melihat apakah orang lain dalam situasi serupa menunjukkan perilaku yang sama; dan konsistensi, yang menilai apakah perilaku itu muncul berulang kali dari waktu ke waktu.

3. Individu sering menggunakan jalan pintas dalam menilai orang lain untuk memudahkan penilaian. Jalan pintas tersebut antara lain seleksi persepsi, yaitu hanya fokus pada informasi tertentu; efek halo, yaitu menilai keseluruhan pribadi hanya dari satu sifat positif atau negatif; stereotip, yaitu mengelompokkan orang berdasarkan kategori tertentu; serta proyeksi, yaitu menganggap orang lain memiliki pikiran atau perasaan yang sama dengan dirinya.

4. Persepsi memiliki hubungan erat dengan pengambilan keputusan, karena cara seseorang menafsirkan suatu informasi sangat memengaruhi pilihan yang dibuat. Dengan kata lain, keputusan tidak hanya didasarkan pada data objektif, melainkan juga pada bagaimana individu memersepsikan data tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa dua orang dapat membuat keputusan yang berbeda meskipun menghadapi situasi yang sama.

5. Model pengambilan keputusan rasional menggambarkan proses yang logis dan sistematis, mulai dari mengidentifikasi masalah, mencari alternatif, mengevaluasi, hingga memilih solusi terbaik. Model rasionalitas terbatas mengakui adanya keterbatasan waktu, informasi, dan kemampuan manusia, sehingga keputusan yang diambil biasanya cukup baik (satisficing) dan bukan yang paling optimal. Sedangkan pengambilan keputusan berbasis intuisi lebih mengandalkan pengalaman, perasaan, dan firasat tanpa melalui analisis yang panjang.

6. Bias atau kesalahan dalam pengambilan keputusan sering muncul dalam praktiknya. Bias umum tersebut antara lain bias konfirmasi, yaitu kecenderungan mencari informasi yang mendukung pendapat sendiri; escalation of commitment, yaitu tetap melanjutkan keputusan yang keliru karena sudah banyak investasi yang dilakukan; overconfidence bias, yaitu terlalu percaya diri terhadap kemampuan; anchoring bias, yaitu terlalu terpaku pada informasi awal; serta availability bias, yaitu menilai sesuatu berdasarkan informasi yang paling mudah diingat.

7. Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh perbedaan individu dan batasan organisasi. Perbedaan individu meliputi kepribadian, nilai, pengalaman, gaya berpikir, serta toleransi terhadap risiko. Sementara itu, batasan organisasi meliputi kebijakan, struktur, regulasi, budaya organisasi, serta keterbatasan sumber daya. Kombinasi dari kedua faktor ini membuat keputusan yang dihasilkan sering kali merupakan kompromi antara kondisi individu dan aturan organisasi.

8. Keputusan etis dapat dinilai melalui tiga kriteria. Pertama, utilitarian, yaitu keputusan yang memberikan manfaat terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Kedua, hak individu, yaitu keputusan harus menghormati dan melindungi hak-hak dasar manusia. Ketiga, keadilan, yaitu keputusan harus membagi manfaat dan beban secara adil dan merata di antara individu atau kelompok.

9. Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan ide-ide baru yang orisinal, bermanfaat, dan dapat diterapkan dalam pemecahan masalah. Proses kreativitas dapat dijelaskan melalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan ketika individu mengumpulkan informasi dan memahami masalah, tahap inkubasi serta wawasan ketika ide-ide baru muncul secara bawah sadar hingga memunculkan momen pencerahan, serta tahap verifikasi dan implementasi ketika ide yang dihasilkan diuji, dievaluasi, dan diterapkan agar memberikan manfaat nyata.