Kiriman dibuat oleh cindy risky shaharani 2413032073

HTN C 2025 -> MOHON DIKERJAKAN

oleh cindy risky shaharani 2413032073 -
Nama : Cindy Risky Shaharani
Npm . 2413032073


Belajar Hukum Tata Negara selama 1 semester ini memberikan saya banyak pengetahuan baru,Saya juga jadi sadar bahwa praktik di lapangan itu rumit gak cuma bagi-bagi tugas antara pusat dan daerah, tapi juga harus ngurusin anggaran yang pas-pasan, kualitas SDM yang belum merata, sampai birokrasi yang jalannya kadang pelan banget kayak siput. Pokoknya, hukum itu enggak cuma di buku, tapi berjuang banget di dunia nyata.

Tugas-tugas kayak bikin makalah, PPT, dan poster itu ngebantu banget! Itu bukan sekadar tugas, tapi menurut saya melatih agar kita itu ga gaptek, apalagi di zaman sekarang, guru guru di tuntut lebih maju pemahamannya dari peserta didik, yang g cuma fokus sama materi yang monotoon aja, Dan materinya selalu nyangkutin sama kasus yang lagi viral di negara kita, khususnya di ranah hukum. Diskusi jadi hidup, dan buat saya jadi mikir kritis.

Kalau boleh kasih saran buat ke depan, saya berharap bisa turun lapangan langsung melihat gmna sih kerjanya anggota DPRD itu di kantornya, dan juga tidak melulu presentasi, tapi bisa terjun langsung ke lapangan.

PIAK24C -> MOHON DIKERJAKAN

oleh cindy risky shaharani 2413032073 -
Selama satu semester mengikuti perkuliahan ini, saya merasakan adanya kontribusi signifikan yang dapat saya aplikasikan, baik dalam aktivitas studi maupun dalam rutinitas harian. Konsep-konsep kunci seperti prinsip integritas, upaya mitigasi korupsi, manajemen konflik kepentingan, pentingnya keterbukaan (transparansi), pertanggungjawaban (akuntabilitas), serta landasan etika dalam pengambilan keputusan, telah memperluas wawasan saya mengenai esensi dari bersikap jujur, teratur, dan memiliki keberanian untuk menolak praktik yang bertentangan dengan regulasi. Menurut pandangan saya, pemahaman mendalam ini amat esensial, tidak sekadar sebagai bekal memasuki dunia profesional kelak, namun juga dalam rangka membentuk karakter sebagai individu yang produktif dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, melalui analisis berbagai studi kasus yang didiskusikan di kelas, saya memperoleh keterampilan untuk meninjau isu integritas secara lebih tajam dan berdasarkan realitas. Saya mulai menyadari bahwa masalah korupsi dan penyimpangan etika tidak terbatas pada ranah publik berskala besar, melainkan juga berpotensi muncul dalam lingkup yang lebih kecil seperti lingkungan akademis, organisasi kemahasiswaan, hingga interaksi sehari-hari. Kesadaran ini meningkatkan sensitivitas saya dalam mengevaluasi situasi dan mendorong kehati-hatian yang lebih besar saat mengambil keputusan.
Proses perkuliahan ini juga menempa saya untuk memegang teguh tanggung jawab atas pekerjaan dan tugas yang diemban. Penekanan Dosen terhadap prinsip kejujuran mutlak dalam evaluasi, penugasan, dan seluruh alur pembelajaran, secara nyata telah mengkonstruksi pola pikir saya sebagai seorang pelajar. Saya kini lebih menghargai proses pelaksanaan dibandingkan sekadar hasil akhir. Selain itu, interaksi dan diskusi di kelas memperjelas bahwa integritas melampaui sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga mencakup konsistensi yang harmonis antara nilai-nilai yang diyakini, perkataan, dan perilaku nyata.
Menurut saya, eskipun peserta didik telah diajarkan tentang Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, penting untuk membedakan antara pemahaman teoritis dan kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman yang baik akan teori belum tentu menjamin tindakan yang sejalan dengan teori tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa capaian pembelajaran tidak hanya mengukur aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik karna, Pendidikan Pancasila bertujuan tidak hanya untuk mengajarkan nilai-nilai, tetapi juga untuk membentuk sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut. Jika peserta didik tidak menghormati perbedaan budaya atau agama, ini bisa menjadi indikasi bahwa ada kekurangan dalam pembentukan karakter dan sikap toleransi. Pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mentransformasikan pengetahuan menjadi tindakan
Izin menambahkan, menurut saya , Ketika perubahan kebijakan tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur pendidikan yang memadai, hal ini dapat memperlebar kesenjangan pendidikan, semua peserta didik, termasuk mereka yang berada di daerah terpinggirkan, dapat merasakan manfaat dari perubahan kurikulum dan capaian pembelajaran. Tanpa perhatian yang cukup terhadap aspek ini, dampak dari perubahan kebijakan mungkin tidak akan signifikan karna sebuah sistem pendidikan yang efektif membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan, termasuk guru, orang tua, dan masyarakat. Tanpa adanya kolaborasi dan partisipasi aktif dalam proses perubahan, implementasi capaian pembelajaran akan menjadi tantangan yang sulit dihadapi.