Posts made by Olivia Rahma Dani

TA B 2025 -> e-journal

by Olivia Rahma Dani -
Nama : Olivia Rahma Dani
Npm : 2413031039

Jurnal “Accounting Theory: Concept and Importance membahas Berbagai teori digunakan untuk memahami praktik keberlanjutan korporasi, antara lain teori pemangku kepentingan, teori sinyal, teori legitimasi, dan teori kelembagaan. Teori-teori tersebut menjelaskan bagaimana perusahaan berinteraksi dengan pemangku kepentingan, mengurangi asimetri informasi melalui pelaporan keberlanjutan, memperoleh legitimasi sosial, serta meniru praktik umum industri dalam upaya mempertahankan citra positif. Namun, penelitian menunjukkan bahwa banyak laporan keberlanjutan masih belum seimbang karena perusahaan cenderung menonjolkan kontribusi positif terhadap SDGs dan mengabaikan kelemahan mereka. Oleh karena itu, diperlukan standar, regulasi, dan verifikasi pihak ketiga agar pelaporan keberlanjutan menjadi lebih transparan dan akurat. Dalam konteks SDGs, PBB menetapkan 17 tujuan global yang menuntut peran aktif sektor swasta melalui inovasi, kemitraan, dan tanggung jawab sosial. Meskipun banyak perusahaan mengaku berkomitmen terhadap SDGs, hanya sebagian kecil yang memiliki target terukur dan melaporkan kemajuan secara konsisten. Untuk membantu perusahaan, lembaga seperti GRI dan IIRC menyediakan panduan seperti SDG Compass dan SDG Disclosures agar perusahaan dapat mengintegrasikan SDGs ke dalam strategi bisnis serta pelaporan keberlanjutan secara lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan investor.

TA B 2025 -> DISKUSI

by Olivia Rahma Dani -
Nama : Olivia Rahma Dani
Npm : 2413031039

Video diatas menekankan pentingnya pelaporan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagai bagian strategis dari praktik bisnis modern. Isinya menunjukkan pergeseran fokus perusahaan dari sekadar mengejar keuntungan menuju integrasi tanggung jawab lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam strategi bisnis. Pelaporan SDGs dianggap penting untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta membangun kepercayaan pemangku kepentingan. Selain itu, pelaporan ini membantu perusahaan memahami dampak dan peluang keberlanjutan, memperkuat daya saing, serta menarik investasi berkelanjutan. Intinya, pelaporan SDGs bukan hanya kewajiban kepatuhan, melainkan langkah strategis untuk mendukung inovasi, legitimasi, dan ketahanan bisnis jangka panjang.

AKM B2025 -> Diskusi

by Olivia Rahma Dani -
Nama : Olivia Rahma Dani
NPM : 2413031039

Aset tidak berwujud adalah jenis aset yang tidak berupa uang dan dapat dikenali tetapi tidak memiliki bentuk fisik, seperti hak paten, merek, perangkat lunak, serta hak cipta. Aset ini akan dicatat dalam laporan keuangan jika dapat diidentifikasi, dimiliki oleh entitas, dan memiliki biaya perolehan yang bisa diukur dengan akurat. Pencatatannya dilakukan berdasarkan biaya perolehan, baik yang didapat melalui pembelian, pengembangan internal yang memenuhi syarat, atau hasil dari kombinasi perusahaan. Setelah diakui, aset tidak berwujud dinilai dengan menggunakan model biaya atau model revaluasi, di mana model biaya adalah yang paling sering digunakan. Aset yang memiliki masa manfaat terbatas akan diamortisasi sepanjang periode tersebut, sedangkan yang memiliki masa manfaat tidak terbatas akan diuji untuk penurunan nilai setiap tahun. Dalam laporan keuangan, aset tidak berwujud ditampilkan dalam kategori aset tidak lancar dengan nilai tercatat setelah dikurangi dengan amortisasi dan penurunan nilai. Beban amortisasi dan kerugian penurunan nilai dicatat dalam laporan laba rugi, sementara informasi mengenai jenis, metode amortisasi, dan perubahan nilai aset diungkapkan dalam catatan laporan keuangan.