NAMA : KADEK DWI OCTO LESA CANDIGO
NPM : 2415061072
KELAS : PSTI - D
ANALISIS JURNAL
Jurnal ini membahas tantangan yang dihadapi Indonesia dalam memperkuat praktik demokrasi. Walaupun pemilu adalah salah satu sarana utama dalam sistem demokrasi untuk memilih pemimpin dan mengevaluasi jalannya pemerintahan, hasil kajian dalam jurnal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Pilpres 2019 masih belum ideal. Penulis menggarisbawahi bahwa berbagai pilar penting demokrasi, seperti partai politik, media, masyarakat sipil, dan birokrasi, belum berfungsi secara optimal. Akibatnya, demokrasi Indonesia cenderung berjalan sekadar mengikuti aturan, namun belum mencapai/memenuhi nilai dan tujuan demokrasi itu sendiri.
Salah satu fokus penting jurnal ini adalah demokrasi yang belum optimal. Pemilu 2019 masih memperlihatkan lemahnya pilar-pilar demokrasi, seperti rendahnya kepercayaan publik, politisasi birokrasi, hingga merebaknya ujaran kebencian dan politisasi identitas yang memperburuk polarisasi masyarakat. Selain itu, partai politik dinilai gagal melakukan kaderisasi yang memadai dan lebih mengandalkan selebriti sebagai vote getter. Situasi ini memperlihatkan bahwa demokrasi Indonesia masih cenderung prosedural, bukan substantif.
NPM : 2415061072
KELAS : PSTI - D
ANALISIS JURNAL
Jurnal ini membahas tantangan yang dihadapi Indonesia dalam memperkuat praktik demokrasi. Walaupun pemilu adalah salah satu sarana utama dalam sistem demokrasi untuk memilih pemimpin dan mengevaluasi jalannya pemerintahan, hasil kajian dalam jurnal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Pilpres 2019 masih belum ideal. Penulis menggarisbawahi bahwa berbagai pilar penting demokrasi, seperti partai politik, media, masyarakat sipil, dan birokrasi, belum berfungsi secara optimal. Akibatnya, demokrasi Indonesia cenderung berjalan sekadar mengikuti aturan, namun belum mencapai/memenuhi nilai dan tujuan demokrasi itu sendiri.
Salah satu fokus penting jurnal ini adalah demokrasi yang belum optimal. Pemilu 2019 masih memperlihatkan lemahnya pilar-pilar demokrasi, seperti rendahnya kepercayaan publik, politisasi birokrasi, hingga merebaknya ujaran kebencian dan politisasi identitas yang memperburuk polarisasi masyarakat. Selain itu, partai politik dinilai gagal melakukan kaderisasi yang memadai dan lebih mengandalkan selebriti sebagai vote getter. Situasi ini memperlihatkan bahwa demokrasi Indonesia masih cenderung prosedural, bukan substantif.