Kiriman dibuat oleh Asnia Sundari

AKM B2025 -> Diskusi

oleh Asnia Sundari -
Izin menjawab, Bu.
Nama: Asnia Sundari 
NPM: 2413031040 

Menurut saya, selama periode harga meningkat (inflasi), metode LIFO (Last In, First Out) akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan metode FIFO (First In, First Out). Hal ini terjadi karena dalam metode LIFO, barang terakhir yang dibeli (dengan harga yang lebih tinggi) dianggap terjual terlebih dahulu. Akibatnya, harga pokok penjualan (HPP) menjadi lebih tinggi, sehingga laba bersih berkurang.Sebaliknya, pada metode FIFO, barang yang lebih dulu dibeli (dengan harga yang lebih rendah) dianggap terjual lebih dahulu, sehingga HPP lebih rendah dan laba bersih lebih tinggi. Namun, saat harga menurun (deflasi), pengaruhnya menjadi kebalikan. Dalam kondisi ini, metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi, karena barang terakhir yang dibeli memiliki harga yang lebih rendah (HPP lebih kecil), sedangkan metode FIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena HPP-nya lebih besar.
Jadi, saat harga naik metode FIFO menghasilkan laba lebih tinggi, sedangkan LIFO menghasilkan laba lebih rendah. Saat harga turun metode FIFO menghasilkan laba lebih rendah, sedangkan LIFO menghasilkan laba lebih tinggi.
Sekian, terima kasih.

AKM B2025 -> Diskusi

oleh Asnia Sundari -
Assalamu’alaikum, Bu.
Nama: Asnia Sundari
NPM: 2413031040
Izin menjawab pertanyaan tersebut.

1. Pengertian dan Jenis Instrumen Keuangan
Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang menimbulkan aset keuangan bagi satu entitas dan liabilitas keuangan atau instrumen ekuitas bagi entitas lainnya.
Menurut PSAK 71 (berbasis IFRS 9), instrumen keuangan dibagi menjadi tiga kelompok utama:
a) Aset Keuangan, seperti kas, piutang usaha, investasi obligasi, atau saham pihak lain.
b) Liabilitas Keuangan, seperti utang usaha, pinjaman bank, atau obligasi yang diterbitkan.
c) Instrumen Ekuitas, yaitu instrumen yang menunjukkan kepemilikan atas suatu entitas, misalnya saham biasa.

2. Kas dan Pengendalian Internal terhadap Kas
Kas adalah aset paling likuid yang meliputi uang tunai dan saldo rekening bank yang dapat digunakan segera untuk membayar kewajiban.
Agar aman, kas perlu diawasi dengan sistem pengendalian internal, seperti:
a) Pemisahan tugas antara bagian penerimaan dan pencatatan kas.
b) Penggunaan bukti transaksi (nota, kwitansi) untuk setiap penerimaan/pengeluaran.
c) Rekonsiliasi bank secara berkala untuk memastikan saldo sesuai antara catatan perusahaan dan bank.
d) Pembatasan akses ke kas hanya bagi pegawai tertentu.

3. Penyajian dan Pengungkapan Kas dalam Laporan Keuangan
Dalam laporan posisi keuangan (neraca), kas disajikan pada kelompok aset lancar dengan nama “Kas dan Setara Kas”.
Dalam laporan arus kas, kas ditampilkan berdasarkan tiga aktivitas:
a) Aktivitas operasi
b) Aktivitas investasi
c) Aktivitas pendanaan
Pengungkapan biasanya mencakup rincian jenis kas, rekening bank, serta batasan penggunaan kas (misalnya kas yang dibatasi penggunaannya).

4. Pengertian dan Pengakuan Piutang
Piutang adalah hak perusahaan untuk menagih sejumlah uang dari pihak lain akibat penjualan barang atau jasa secara kredit.
Menurut PSAK 71, pengakuan piutang dilakukan ketika perusahaan telah menyerahkan barang atau jasa kepada pelanggan dan timbul hak kontraktual untuk menerima kas, meskipun pembayaran belum diterima.

5. Penilaian, Penurunan Nilai, Penyajian, dan Pengungkapan Piutang
a) Penilaian: Piutang dicatat sebesar nilai realisasi bersih (net realizable value), yaitu jumlah yang diharapkan dapat diterima.
b) Penurunan Nilai: Jika terdapat indikasi bahwa sebagian piutang tidak tertagih, perusahaan harus mengakui cadangan kerugian penurunan nilai (allowance for impairment).
Berdasarkan PSAK 71, digunakan model expected credit loss (ECL) untuk memperkirakan kerugian yang mungkin terjadi di masa depan.
c) Penyajian: Piutang disajikan dalam aset lancar, dikurangi dengan cadangan kerugian piutang.
d) Pengungkapan: Perusahaan perlu menjelaskan kebijakan kredit, metode penilaian kerugian piutang, serta rincian umur piutang (aging schedule).

6. Analisis Kas dan Piutang
Analisis ini bertujuan menilai likuiditas dan efisiensi pengelolaan piutang.
a) Analisis Kas dilakukan dengan melihat rasio likuiditas seperti current ratio, quick ratio, serta tren arus kas dari aktivitas operasi.
b) Analisis Piutang dilakukan dengan menghitung:
Perputaran piutang (receivable turnover) = Penjualan kredit / Rata-rata piutang
Rata-rata umur piutang (days sales outstanding) = 365 / Perputaran piutang. Hasil analisis membantu perusahaan mengevaluasi kemampuan menagih piutang dan mengelola kas secara efisien.

Sekian, terima kasih Bu.