Posts made by Nadiya Alifa Firdaus

TA B 2025 -> DISKUSI

by Nadiya Alifa Firdaus -
Nadiya Alifa Firdaus
2413031066

Respons saya terhadap pembahasan video “Reporting on SDGs” adalah bahwa materi tersebut berhasil menyoroti isu yang sangat relevan dalam dunia bisnis dan pembangunan berkelanjutan saat ini. Video tersebut menggambarkan bagaimana pelaporan SDGs mencerminkan perubahan orientasi bisnis dari sekadar mengejar keuntungan menuju model yang mengintegrasikan tanggung jawab lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). SDGs ditampilkan sebagai kerangka global yang membantu perusahaan menyelaraskan strategi inti mereka dengan agenda pembangunan berkelanjutan, bukan hanya aktivitas filantropi, tetapi bagian dari strategi bisnis untuk mendorong inovasi dan meningkatkan daya saing.

Selain itu, penekanan pada proses pelaporan menunjukkan pentingnya transparansi dan akuntabilitas bagi seluruh pemangku kepentingan, sejalan dengan Target SDG 12.6 yang mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi keberlanjutan dalam laporan mereka. Pelaporan yang kuat dan jujur menjadi alat penting untuk membangun kepercayaan investor, konsumen, dan karyawan yang semakin menaruh perhatian pada isu keberlanjutan.

Video tersebut juga menekankan bahwa pelaporan SDGs membantu perusahaan memahami dampak mereka secara lebih mendalam, sekaligus mengidentifikasi risiko dan peluang yang berkaitan dengan keberlanjutan—hal yang sangat penting di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan kerentanan rantai pasok. Secara tidak langsung, praktik pelaporan ini juga membuka akses bagi perusahaan terhadap pembiayaan berkelanjutan, mengingat investor institusional kini semakin mengandalkan metrik ESG dan kontribusi terhadap SDGs dalam menilai investasi.

Secara keseluruhan, video ini menyampaikan pesan bahwa pelaporan SDGs bukan hanya persoalan kepatuhan regulasi, tetapi merupakan strategi bisnis penting yang memperkuat legitimasi, daya saing, dan ketahanan jangka panjang perusahaan di pasar global.

TA B 2025 -> DISKUSI

by Nadiya Alifa Firdaus -
Nadiya Alifa Firdaus
2413031066

Berdasarkan temuan dari dua jurnal Sri Trisnaningsih & Gempita Asmaul Husna (2022) serta Muhammad Daham Sabbar dkk. (2024) terlihat bahwa aspek perilaku memiliki peranan sentral dalam akuntansi. Hal ini karena akuntansi bukan sekadar persoalan angka atau sistem, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia yang menghasilkan, mengolah, dan menggunakan informasi keuangan.

1. Aspek Perilaku dalam Akuntansi

Kedua penelitian menegaskan bahwa akuntansi keperilakuan merupakan titik temu antara psikologi, sosiologi, dan akuntansi dalam menjelaskan bagaimana individu memahami data keuangan dan mengambil keputusan.
Trisnaningsih menyoroti bahwa motivasi, persepsi, sikap, kepribadian, dan nilai personal berperan dalam cara seseorang menafsirkan laporan akuntansi.
Sementara itu, Sabbar menunjukkan bahwa bias kognitif (misalnya overconfidence dan confirmation bias), tingkat kepercayaan, budaya organisasi, dan beban kognitif dapat memengaruhi kualitas keputusan serta efektivitas sistem akuntansi.

2. Pentingnya Akuntansi Keperilakuan

Urgensi mempelajari aspek perilaku muncul karena:

(a) Banyak kegagalan dalam keputusan keuangan bukan disebabkan kesalahan teknis, tetapi karena bias dan perilaku tidak etis — seperti yang terjadi pada kasus Enron (Trisnaningsih).

(b) Di era sistem akuntansi modern yang semakin kompleks (ERP, Big Data), persepsi dan kapasitas kognitif pengguna menjadi faktor yang menentukan keberhasilan implementasi sistem (Sabbar).

(c) Pemahaman perilaku membantu organisasi meminimalkan misjudgment, meningkatkan keterbukaan informasi, serta memperkuat nilai etika dan kepercayaan dalam proses akuntansi.


3. Standard-Setting dan Konteks Ekonomi Politik

Proses penetapan standar akuntansi tidak terlepas dari dinamika perilaku dan lingkungan ekonomi-politik.
Pendekatan ekonomi politik menjelaskan bahwa penyusunan standar (seperti IFRS atau PSAK) dipengaruhi oleh kepentingan sosial, politik, dan ekonomi berbagai kelompok yang ingin membentuk aturan pelaporan sesuai preferensinya.

Dalam perspektif perilaku:

Penentuan standar tidak hanya berlandaskan aspek teknis, tetapi juga dipengaruhi persepsi, nilai, dan kepentingan pihak yang terlibat, mulai dari regulator hingga investor.

Sabbar menekankan bahwa keberhasilan penerapan standar baru sangat bergantung pada kepercayaan institusional dan norma sosial, sehingga konteks budaya memegang peranan penting.

Trisnaningsih menambahkan bahwa tanpa pemahaman perilaku manusia dan penguatan etika, proses standardisasi berisiko menjadi formalitas semata dan kehilangan substansi moralnya.