Kiriman dibuat oleh Lola Egidiya

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Lola Egidiya -
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 24C

Ketika harga barang mengalami kenaikan atau inflasi, metode FIFO (First In, First Out) cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode LIFO (Last In, First Out). Hal ini karena FIFO mengasumsikan bahwa barang yang pertama kali dibeli dengan harga lebih rendah adalah yang pertama kali dijual, sehingga harga pokok penjualan (HPP) menjadi lebih kecil dan laba bersih tampak lebih besar. Sebaliknya, metode LIFO menggunakan harga pembelian terakhir yang lebih tinggi sebagai dasar HPP, sehingga beban biaya meningkat dan laba bersih menjadi lebih rendah. Namun, dalam kondisi seperti ini, LIFO bisa menguntungkan dari sisi perpajakan karena laba yang lebih rendah berarti pajak yang harus dibayar juga lebih kecil. Sementara itu, ketika harga barang justru menurun atau terjadi deflasi, pengaruhnya akan berbalik. Pada situasi penurunan harga, metode FIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena HPP menggunakan harga lama yang lebih tinggi, sedangkan LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi karena HPP didasarkan pada harga pembelian terakhir yang lebih rendah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode FIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi saat harga naik, sedangkan metode LIFO memberikan laba lebih tinggi saat harga turun.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Lola Egidiya -
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 24C

1. Instrumen keuangan adalah kontrak yang menghasilkan aset keuangan bagi satu entitas dan liabilitas keuangan atau instrumen ekuitas bagi entitas lain. Instrumen ini pada dasarnya mewakili nilai moneter dan dapat diperdagangkan, berfungsi sebagai alat untuk memindahkan dan mengelola modal serta risiko. Jenis-jenis utamanya dikategorikan menjadi tiga: aset keuangan (seperti kas dan piutang), liabilitas keuangan (seperti utang dan obligasi), dan instrumen ekuitas (seperti saham biasa), yang mencerminkan hak kepemilikan residual.

2. Kas merupakan aset perusahaan yang paling likuid, meliputi uang tunai di tangan dan saldo giro di bank yang siap ditarik sewaktu-waktu. Pengendalian internal terhadap kas sangat krusial untuk melindungi aset ini dari penyalahgunaan dan pencurian, serta memastikan keakuratan pencatatan. Prosedur pengendalian utama mencakup pemisahan tugas antara yang mencatat, menyimpan, dan mengotorisasi transaksi kas, melakukan rekonsiliasi bank secara berkala, dan menggunakan sistem cek bernomor urut dan sistem dana kas kecil yang terstruktur.

3.Penyajian kas dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca) dilakukan di urutan paling atas sebagai bagian dari aset lancar, sering digabungkan dengan setara kas menjadi satu pos "Kas dan Setara Kas" karena likuiditasnya yang tinggi. Pengungkapan kas di Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK) harus menjelaskan secara rinci kebijakan yang digunakan perusahaan dalam mendefinisikan setara kas. Selain itu, perusahaan wajib mengungkapkan jika terdapat saldo kas yang penggunaannya dibatasi (misalnya, kas yang diblokir untuk jaminan), agar pengguna laporan mengetahui jumlah kas yang benar-benar bebas digunakan.

4. Piutang adalah hak perusahaan untuk menerima sejumlah uang di masa depan dari pihak lain sebagai hasil dari transaksi yang telah diselesaikan, seperti Piutang Usaha yang timbul dari penjualan kredit dalam operasi normal. Pengakuan piutang dilakukan ketika perusahaan telah menyelesaikan kewajiban kinerjanya, yang berarti barang atau jasa yang dijanjikan telah dialihkan kepada pelanggan. Piutang diakui sebesar jumlah yang diharapkan akan diterima sesuai dengan nilai transaksi yang ditetapkan dalam perjanjian kontrak.

5. Piutang dinilai sebesar nilai realisasi bersih, yaitu jumlah piutang kotor dikurangi estimasi jumlah yang tidak akan tertagih. Perhitungan penurunan nilai (kerugian kredit) dilakukan dengan menggunakan Metode Cadangan, di mana perusahaan mengestimasi potensi kerugian (misalnya, melalui analisis umur piutang) dan mencatatnya sebagai Beban Kerugian Piutang, yang dikreditkan ke Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Dalam Laporan Posisi Keuangan, piutang disajikan dalam aset lancar sebesar nilai realisasi bersihnya. Pengungkapan mencakup kebijakan akuntansi piutang dan rincian perubahan saldo CKPN.

6. Analisis kas fokus pada kemampuan perusahaan mengelola dan menghasilkan kas, menggunakan Laporan Arus Kas dan rasio likuiditas seperti Rasio Cepat untuk menilai kemampuan membayar kewajiban jangka pendek. Analisis piutang fokus pada efisiensi penagihan dan kualitas kredit, menggunakan rasio Perputaran Piutang dan Rata-rata Periode Penagihan (DSO). Analisis gabungan dari kas dan piutang sangat penting untuk mengevaluasi manajemen modal kerja perusahaan secara keseluruhan, memastikan perusahaan menjaga likuiditas yang sehat sambil meminimalkan risiko kerugian kredit.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Lola Egidiya -
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 34C

1. Penjelasan TAP tentang Perilaku PT IndoEnergi Tbk
Perilaku manajemen PT IndoEnergi Tbk yang tiba-tiba mengubah metode depresiasi ke saldo menurun ganda (yang otomatis menekan laba di awal) adalah contoh textbook dari yang diprediksi oleh Teori Akuntansi Positif (TAP). Intinya, TAP melihat ini sebagai pengelolaan laba yang didorong oleh insentif manajer, bukan hanya sekadar niat baik. Keputusan ini dicurigai sangat terkait dengan Hipotesis Biaya Politik karena mereka perusahaan energi baru, laba yang terlalu besar bisa mengundang perhatian pemerintah dan publik, yang ujung-ujungnya bisa berujung pada pajak yang lebih tinggi atau regulasi yang merepotkan. Selain itu, ini juga didorong oleh motif kontraktual untuk mengurangi ekspektasi dividen, yang merupakan cara cerdas bagi manajemen untuk menahan kas di perusahaan demi membiayai proyek baru mereka, tanpa harus berhadapan dengan investor yang menuntut bagi hasil tinggi.

2. Perbandingan Kebijakan Akuntansi dengan Praktik Global
Tindakan mengubah metode depresiasi ini, dari kacamata standar akuntansi global seperti IFRS atau US GAAP, sebenarnya sah-sah saja dan umum terjadi. Standar-standar ini termasuk dalam Teori Normatif, yang intinya memberikan fleksibilitas asalkan manajemen bisa memberikan justifikasi yang masuk akal yaitu, metode baru (saldo menurun) lebih akurat mencerminkan pola penggunaan aset seiring percepatan proyek. Jadi, meskipun motif tersembunyi manajemen (yang dibongkar TAP) bersifat strategis dan oportunistik, tindakan akuntansi itu sendiri legal. Dalam praktik global, perusahaan besar sering memanfaatkan fleksibilitas standar ini untuk mencapai tujuan finansial mereka, entah itu untuk menaikkan laba (misalnya untuk bonus) atau menurunkannya (seperti kasus IndoEnergi, untuk menghindari biaya politik).

3. Penilaian terhadap Teori Positif
Menurut saya TAP sangat kuat dalam kasus IndoEnergi Tbk karena berhasil membongkar motif di balik klaim formal manajemen. Ini membuktikan bahwa TAP adalah alat diagnosis yang luar biasa untuk menjelaskan mengapa manajer memilih kebijakan tertentu, menjadikan laporan keuangan bukan sekadar cerminan realitas, melainkan alat negosiasi strategis. Namun, TAP juga punya kelemahan: ia terlalu fokus pada sisi oportunistik dan tidak bisa memberi solusi. Artinya, TAP bisa menjelaskan mengapa IndoEnergi mengurangi laba, tetapi ia tidak punya otoritas untuk menilai apakah metode saldo menurun ganda itu secara etis atau teknis lebih baik bagi investor. Untuk penilaian tersebut, kita tetap harus mengandalkan Teori Normatif (standar IFRS/GAAP). Jadi, TAP itu realistis, tapi tidak komplet; kita perlu keduanya untuk memahami akuntansi secara utuh.

TA C2025 -> ACTIVITYl RESUME

oleh Lola Egidiya -
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 24C

Kedua jurnal ini secara efektif menyoroti sifat akuntansi yang tidak monolitik, melainkan merupakan perpaduan antara prinsip ideal dan pertimbangan praktis. Jurnal pertama memberikan ilustrasi kontekstual yang kuat tentang bagaimana karakteristik industri manufaktur yang stabil dan sarat modal (Astra) versus teknologi yang dinamis dan berfokus pada aset tak berwujud (Telkom) secara langsung memengaruhi pilihan kerangka teori akuntansi. Kecenderungan Astra pada Normatif (kepatuhan, legitimasi) dan Telkom pada Positif (fleksibilitas, nilai pasar) menunjukkan bahwa keberlakuan suatu teori sangat bergantung pada ekosistem bisnis perusahaan.
Sementara jurnal kedua memberikan landasan teoritis yang mendalam untuk pendekatan Positif, menjelaskan mengapa manajer membuat pilihan yang bersifat oportunistik, didorong oleh insentif kontrak (bonus, utang) dan lingkungan politik/regulasi.
Menurut saya bahwa temuan kedua jurnal ini saling melengkapi dan mendukung pandangan bahwa kebijakan akuntansi modern bersifat hibrida. Teori normatif meletakkan dasar etika, transparansi, dan kepatuhan minimum ("bagaimana akuntansi seharusnya dilakukan"). Di sisi lain, teori positif memberikan pemahaman realistis tentang alasan manajer memilih kebijakan di tengah batas-batas normatif tersebut ("mengapa akuntansi dilakukan seperti itu"). Dalam dunia nyata, perusahaan harus mematuhi standar (normatif) tetapi akan memanfaatkan fleksibilitas yang ada untuk mencapai tujuan manajerial dan pasar (positif). Oleh karena itu, bagi akademisi, praktisi, dan regulator, memahami pluralisme teori ini sangat penting untuk merancang standar akuntansi yang tidak hanya menjaga akuntabilitas, tetapi juga memungkinkan efisiensi dan inovasi bisnis.