Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 24C
ANALISIS KRITIS
1. Penerapan teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan mendasar ketika dihadapkan pada sistem otomatisasi AI dan Blockchain, terutama pada isu verifiabilitas dan objektivitas. Blockchain menciptakan sistem triple entry yang secara teknis sangat andal karena sifatnya yang immutable (tidak dapat diubah), namun secara bersamaan menantang auditor konvensional yang terbiasa melacak jejak audit dokumen sumber fisik berdasarkan prinsip substance over form. Selanjutnya, dalam ekosistem fintech yang bergerak cepat dan aset digital yang volatil, prinsip biaya historis menjadi kurang relevan untuk menyajikan nilai aset yang benar dan wajar. Selain itu, penggunaan smart contracts di Blockchain mengotomatisasi pengakuan transaksi, secara efektif mengeliminasi judgement akrual di titik waktu tertentu, sehingga memaksa kerangka teori akuntansi untuk beradaptasi dari pengukuran berbasis peristiwa menjadi pengukuran yang didorong oleh kode dan algoritma.
2. Digitalisasi menciptakan peluang substansial melalui otomatisasi, mengurangi kesalahan manusia, dan meningkatkan integritas data karena sifat immutable dari ledger terdistribusi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan keandalan (reliability) laporan keuangan. Namun, digitalisasi juga melahirkan risiko manipulasi yang jauh lebih canggih, seperti yang dicurigai terjadi di PT Delta Finansial. Manipulasi bergeser dari penyesuaian entry manual menjadi manipulasi input dan parameter algoritma. Akuntan atau manajemen dapat secara sengaja memilih atau mengubah asumsi dalam model AI (misalnya, suku bunga, tingkat diskonto) yang digunakan untuk estimasi akuntansi seperti cadangan kerugian piutang untuk menunda pengakuan beban (delay recognition of expenses) atau menstabilkan laba secara artifisial, yang menghasilkan praktik earnings management yang tersembunyi dalam kompleksitas kode dan sulit dideteksi tanpa audit teknologi yang mendalam.
ETIKA DAN TRANSPARANSI
1. Ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI, risiko etika utama bergeser dari kesalahan manusia menjadi algorithmic bias dan opacity. Kurangnya akuntabilitas etis menjadi isu sentral, sebab sulit untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab (akuntan, data scientist, atau pemrogram) jika algoritma secara sistematis menghasilkan output yang manipulatif atau bias (misalnya, selalu meremehkan risiko). Selain itu, masalah kotak hitam (black box) pada model AI yang canggih melanggar prinsip objektivitas dan transparansi akuntan. Akuntan mungkin hanya menerima hasil tanpa mampu memverifikasi atau menjelaskan logika internal model tersebut secara memadai, yang merupakan pelanggaran serius terhadap tanggung jawab profesional untuk menyajikan gambaran yang benar dan wajar.
2. Akuntan profesional wajib menyikapi tekanan manajemen untuk "menyesuaikan" hasil laporan seperti yang dihadapi PT Delta dengan berpegang teguh pada Prinsip Integritas dan Objektivitas yang diamanatkan Kode Etik Akuntan Profesional (IESBA). Akuntan harus menolak setiap permintaan untuk memanipulasi judgement atau estimasi akuntansi, terlepas dari insentif atau tekanan untuk menjaga citra perusahaan. Tanggung Jawab Publik (Public Interest) harus menjadi prioritas utama, di atas loyalitas kepada manajemen. Jika tekanan mengarah pada pelanggaran etika yang material, akuntan internal harus mencari perlindungan whistleblowing dan meningkatkan masalah ini kepada Komite Audit dan Dewan Komisaris, sementara akuntan publik harus mengeluarkan opini audit yang tidak wajar (adverse) atau qualified untuk melindungi kepentingan stakeholder dan pasar modal.
RESPONS STRATEGIS
1. Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, praktik audit dan pengawasan harus bertransformasi dengan fokus pada teknologi itu sendiri. Perusahaan dan auditor publik harus mengimplementasikan Audit Algoritma (Algorithmic Auditing), yang tidak hanya menguji output data tetapi juga mengaudit kode sumber (source code) model AI yang digunakan untuk estimasi akuntansi. Fokus pengawasan harus diarahkan pada Manajemen Risiko Model (Model Risk Management), memastikan bahwa asumsi dan parameter model diverifikasi oleh pihak independen dan tidak mengandung bias yang disengaja. Selain itu, Audit Blockchain memerlukan keahlian kriptografi untuk memverifikasi keutuhan ledger terdistribusi dan memastikan bahwa smart contracts beroperasi sesuai dengan prinsip pengakuan akuntansi, dengan penekanan pada titik input data awal (di luar Blockchain) untuk mencegah manipulasi.
2. Pandangan saya adalah bahwa standar pelaporan keuangan saat ini (IFRS/PSAK) belum sepenuhnya adaptif, meskipun memiliki dasar prinsip yang kuat. Standar yang ada, yang sebagian besar dirancang untuk lingkungan transaksional konvensional, memang principle-based dan memungkinkan judgement untuk mencakup model bisnis baru. Namun, kurangnya panduan eksplisit mengenai disclosure tata kelola dan parameter model AI yang digunakan untuk estimasi material (seperti yang dicurigai di PT Delta) merupakan kelemahan utama. Standar perlu berevolusi dengan mewajibkan pengungkapan yang jauh lebih detail mengenai bagaimana algoritma AI mempengaruhi estimasi penting dan bagaimana integritas serta fairness model tersebut dijamin. Adaptasi ini harus melampaui pelaporan keuangan tradisional dan mencakup kerangka Governance data dan algoritma, agar kompleksitas keuangan digital dan globalisasi dapat direpresentasikan secara transparan dan andal.