Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 24C
Analisis Akuntansi PT Surya Terang (2025)
1. Dua Basis Pengukuran: Biaya Historis dan Nilai Wajar
Dalam kasus PT Surya Terang, dua basis pengukuran yang relevan adalah Biaya Historis dan Nilai Wajar. Biaya Historis mencerminkan nilai perolehan yang sudah disusutkan (Nilai Tercatat Rp600 Juta). Kelebihannya adalah basis ini sangat objektif karena diverifikasi oleh transaksi masa lalu, namun kekurangannya adalah menjadi tidak relevan ketika pasar berubah drastis. Sementara itu, Nilai Wajar (Rp400 Juta) mencerminkan harga jual aset saat ini. Kelebihan utamanya adalah relevansi informasi yang tinggi untuk pengambilan keputusan, namun kekurangannya adalah berpotensi kurang andal atau subjektif karena berasal dari estimasi atau
penilaian independen.
2. Implikasi Akuntansi Model Revaluasi
Jika PT Surya Terang menggunakan Model Revaluasi, aset harus disajikan sebesar nilai wajar yang baru, yaitu Rp400 Juta. Karena nilai wajar ini lebih rendah dari nilai tercatat (Rp600 Juta), timbul Kerugian Revaluasi sebesar Rp200 Juta. Secara spesifik, di Laporan Posisi Keuangan, nilai aset mesin akan turun menjadi Rp400 Juta. Konsekuensi utamanya, kerugian sebesar Rp200 Juta ini harus diakui segera sebagai beban dalam Laporan Laba Rugi, yang akan menyebabkan penurunan signifikan pada laba bersih tahun 2025. Inilah yang menjadi dasar kekhawatiran manajemen terhadap rasio profitabilitas dan kepatuhan PSAK.
3. Perbandingan Relevansi dan Keandalan
Dalam konteks penurunan nilai pasar yang ekstrem ini, pengukuran menggunakan Nilai Wajar (Rp400 Juta) lebih memenuhi karakteristik kualitatif relevansi dibandingkan Biaya Historis (Rp600 Juta). Nilai wajar jauh lebih relevan karena mencerminkan realitas ekonomi dan kemampuan aset menghasilkan kas di masa depan. Meskipun nilai wajar sering dianggap kurang andal karena melibatkan estimasi, dalam kasus ini, ia justru memberikan representasi yang lebih jujur daripada biaya historis yang sudah usang. Biaya historis sebesar Rp600 Juta menjadi menyesatkan (tidak andal) karena tidak lagi mencerminkan kondisi sebenarnya dari aset tersebut. Oleh karena itu, di sini, relevansi yang tinggi dari nilai wajar mengungguli keandalan formal dari biaya historis.