གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Lola Egidiya

EPE C2026 -> SUMMARY VIDEO

Lola Egidiya གིས-
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087

Video yang dibuat oleh Dr. Zainal Arifin ini memberikan penjelasan mendalam mengenai evaluasi pembelajaran, dan terdapat banyak aspek menarik yang sering kali kita salah pahami.
Intinya, beliau menjelaskan bahwa evaluasi itu memiliki ruang lingkup yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar penilaian atau assessment. Sementara assessment biasanya hanya berfokus pada hasil belajar siswa, evaluasi mencakup sistem secara keseluruhan. Salah satu hal penting yang beliau tekankan adalah mengenai istilah formatif dan sumatif. Apakah teman-teman tahu? Di Indonesia, sering kali terjadi kesalahpahaman, di mana nilai dari tes formatif (seperti ulangan harian) justru dijadikan sebagai penentu utama untuk naik kelas. Padahal, fungsi dari tes formatif seharusnya murni untuk perbaikan selama proses belajar, bukan untuk menghakimi apakah seseorang lulus atau tidak.
Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa dalam proses evaluasi, kita dapat memanfaatkan teknik tes maupun non-tes. Semua data yang diperoleh harus terlebih dahulu dikonversi ke dalam skala nilai (seperti skala 10 atau 100) agar kita dapat memahami berapa banyak siswa yang telah mencapai ambang batas kelulusan dan mana yang belum. Jadi, evaluasi bukan hanya sekadar memberi nilai, melainkan juga tentang bagaimana kita mengambil keputusan yang tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di masa mendatang.

EPE C2026 -> Diskusi

Lola Egidiya གིས-
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087

Jadi, perbedaan utama antara ketiga proses ini terletak pada tingkatannya: pengukuran merupakan tahap awal yang bersifat teknis dan menggunakan angka (kuantitatif), seperti ketika guru memberikan nilai 80 pada ujian kita. Nilai 80 tersebut baru memiliki makna setelah masuk ke tahap penilaian, di mana nilai tersebut dibandingkan dengan standar atau KKM untuk menentukan apakah kita sudah "tuntas" atau "belum kompeten" secara kualitatif. Sementara itu, evaluasi merupakan tingkat tertinggi yang mencakup lebih banyak aspek, karena tujuannya tidak hanya mengamati nilai seorang siswa, tetapi juga mengambil keputusan besar mengenai keseluruhan sistem pembelajaran, seperti apakah metode pengajaran guru sudah efektif atau apakah perlu ada perubahan besar pada kurikulum.
Pentingnya ketiga proses ini dalam dunia pendidikan sangatlah signifikan karena berfungsi sebagai "kompas" dalam proses belajar-mengajar. Tanpa adanya pengukuran yang tepat serta penilaian yang objektif, kita sebagai siswa tidak akan mengetahui di mana letak kelemahan yang perlu diperbaiki, dan guru pun akan kesulitan memberikan bantuan yang tepat sasaran. Selain itu, evaluasi menjadi sangat penting karena memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga; melalui evaluasi, sekolah dapat terus memperbaiki diri dan memastikan bahwa waktu yang kita habiskan di kelas benar-benar memberikan hasil yang maksimal, bukan hanya rutinitas tanpa tujuan yang jelas.

EPE C2026 -> SUMMARY VIDEO

Lola Egidiya གིས-
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087

Ketika saya menonton video itu, isi video tersebut menjelaskan empat istilah penting dalam dunia pendidikan yang sering kita anggap sama, padahal memiliki fungsi yang berbeda. Pertama ada istilah Tes, yang sebenarnya hanyalah "alat" untuk mengumpulkan soal atau pertanyaan yang diberikan kepada siswa guna mengetahui seberapa baik pemahaman mereka terhadap materi. Setelah tes selesai, kita masuk ke tahap Pengukuran. Di sini, kita memberikan nilai atau angka (data kuantitatif) yang berasal dari hasil tes, sehingga kemampuan siswa dapat terlihat dalam bentuk angka yang jelas.

Lalu, bagaimana dengan Penilaian atau assessment? Penilaian lebih merujuk pada cara kita menginterpretasikan angka tersebut. Kita membandingkan nilai siswa dengan standar tertentu (seperti KKM) untuk menentukan apakah mereka sudah mencapai kompetensi yang ditentukan secara kualitatif. Terakhir, kita sampai pada Evaluasi. Ini adalah tahap yang paling luas karena tujuannya tidak hanya untuk menilai satu siswa, tetapi untuk mengevaluasi keseluruhan program. Dari hasil evaluasi ini, guru dapat membuat keputusan penting: apakah metode pengajaran yang digunakan sudah efektif, bagian mana yang perlu diperbaiki dalam materi, atau apakah sistem yang ada perlu diubah sepenuhnya untuk kemajuan bersama.

AKL C2026 -> Case

Lola Egidiya གིས-
Nama : Lola Egidiya
Kelas : 2024C
NPM : 2413031087

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS
Dalam situasi ketika tidak ada PSAK yang secara khusus mengatur transaksi tertentu, Kerangka Konseptual menjadi pedoman utama bagi manajemen dalam mengambil keputusan akuntansi. Kerangka ini, yang disusun dengan mengacu pada prinsip-prinsip dari International Financial Reporting Standards Foundation, membantu menjawab pertanyaan mendasar seperti: apakah suatu pos memenuhi definisi aset, apakah manfaat ekonominya mungkin mengalir ke perusahaan, dan apakah nilainya dapat diukur secara andal. Kerangka konseptual juga menekankan tujuan pelaporan keuangan, yaitu menyediakan informasi yang relevan dan merepresentasikan kondisi ekonomi secara jujur. Jadi ketika bisnis digital memiliki karakteristik unik yang belum diatur secara rinci, manajemen tetap memiliki landasan berpikir agar keputusan yang diambil tidak asal-asalan, melainkan tetap konsisten dengan prinsip dasar akuntansi.

b. Analisis kritis atas goodwill dan nilai wajar aset tidak berwujud
Pengakuan goodwill dalam akuisisi PT Cerdas Digital pada dasarnya wajar jika memang terdapat selisih lebih antara harga perolehan dan nilai wajar aset neto yang dapat diidentifikasi. Goodwill memang mencerminkan potensi manfaat ekonomi di masa depan, seperti pertumbuhan pengguna dan sinergi usaha. Namun yang perlu dikritisi adalah dasar penilaiannya. Jika nilai goodwill sangat bergantung pada proyeksi pertumbuhan yang belum tentu terealisasi, maka ada risiko bahwa angka tersebut terlalu optimistis. Dalam kondisi seperti ini, goodwill bisa lebih mencerminkan ekspektasi manajemen daripada substansi ekonomi yang sudah nyata terjadi.
Hal yang sama berlaku pada pengukuran aset tidak berwujud menggunakan pendekatan nilai wajar tanpa adanya pasar aktif. Secara teori hal itu diperbolehkan, tetapi dalam praktiknya sangat bergantung pada model dan asumsi internal. Jika asumsi tersebut tidak realistis atau kurang transparan, maka nilai aset bisa saja terlalu tinggi dan tidak benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Dengan demikian, kebijakan tersebut hanya bisa dianggap mencerminkan substansi ekonomi apabila didukung metode yang rasional, data yang memadai, serta pengungkapan yang jelas kepada pengguna laporan keuangan.

c. Risiko dan implikasi etis dari penyalahgunaan professional judgment
Professional judgment adalah bagian penting dalam akuntansi, tetapi juga membuka peluang penyalahgunaan. Jika pertimbangan profesional digunakan untuk menaikkan nilai aset, memperbesar laba, atau menunda pengakuan kerugian, maka laporan keuangan bisa menjadi menyesatkan. Risiko yang muncul tidak hanya berupa kesalahan pengambilan keputusan oleh investor, tetapi juga potensi sanksi hukum dan rusaknya reputasi perusahaan. Dari sisi etika, penyalahgunaan judgment menunjukkan kurangnya integritas dan tanggung jawab kepada publik. Akuntansi pada dasarnya dibangun atas kepercayaan. Jika laporan keuangan dimanipulasi melalui asumsi yang tidak wajar, maka kepercayaan tersebut akan hilang dan dampaknya bisa sangat luas.

d. Pemanfaatan kasus sebagai pembelajaran bagi calon pendidik ekonomi
Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus ini sangat efektif dijadikan contoh pembelajaran berbasis studi kasus. Mahasiswa dapat diajak untuk tidak hanya menerima angka dalam laporan keuangan begitu saja, tetapi belajar mempertanyakan asumsi di baliknya. Diskusi bisa diarahkan pada pertanyaan seperti: apakah nilai goodwill benar-benar realistis, atau hanya hasil optimisme manajemen? Apakah penilaian aset digital sudah cukup transparan? Dengan cara ini, peserta didik dilatih berpikir kritis dan memahami bahwa akuntansi bukan sekadar mengikuti aturan, melainkan juga melibatkan tanggung jawab moral. Pembelajaran semacam ini penting agar mahasiswa tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etis dalam praktik profesionalnya nanti.